Skip to content

HIKAYAT LAMBUNG MANGKURAT DALAM PERSPEKTIF SEJARAH MODERN

Maret 19, 2009

Hikayat Lambung (Lembu) Mangkurat adalah salah satu bentuk historiografi tradisional di samping babad, riwayat, tambo dan silsilah. Di daerah Banjar, yang meliputi daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah sekarang, selain Hikayat Lambung Mangkurat dikenal pula nama lain seperti Tutur Candi, Hika­yat Raja-raja Banjar dan Kota­waringin. Sejak zaman Kerajaan Banjar, manuskrif-manuskrif tua itu dikenal sebagai Hi­kayat Banjar. Di daerah lain bentuk yang sejenis antara lain adalah Hikayat Raja-raja Pa­sai, Negarakertagama, dan Pa­raraton.

Dalam A. Gazali Usman (1989) disebutkan, bahwa isi Hikayat Banjar terdiri dari dua tipe atau versi, yakni (a) Hikayat Banjar Versi I atau Resensi I; (b) Hikayat Banjar Versi II atau Resensi II.

Resensi I berisikan cerita tentang Keraton I (Negara Dipa) dan Keraton II (Negara Daha) yang legendaris, sedangkan Resensi II lebih banyak berisi cerita tentang peristiwa yang menjurus ke arah puncak peristiwa, yakni Pemberontakan Keraton III atau munculnya Kerajaan Bandarmasih/Banjarmasin, dan dari awal perkembangan agama Islam di daerah ini, hingga munculnya Keraton IV (Kerajaan Banjar di Kayu Tangi/Martapura).

Hikayat Banjar versi I mau­pun versi II, antara lain dapat dilihat dari buku Hikayat Lembu Mangkurat susunan G. Mayur (1979) yang disusun dengan meringkas sebuah gubahan pujangga tua dan mengikuti sebagian disertasi A.A. Canse, serta buku Tutur Candi yang telah dialihaksarakan oleh M. Idwar Saleh (1986).

Perspektif Sejarah Modern

Penulisan sejarah yang tradisional (historiografi tradisional), apakah yang namanya babad, silsilah, tambo, dan hikayat termasuk di dalamnya Hikayat Lambung Mangkurat, tidaklah bersifat kritis ilmiah dan tidak lulus sebagai karya sejarah dalam pengertian modern, karena isinya banyak menceritakan hal-­hal yang tidak logis.

Menurut Taufik Abdullah (1985), hikayat, riwayat, tambo, silsilah dan sejenisnya yang dihasilkan oleh berbagai etnis kultural, isinya seringkali mempu­nyai ciri atau berkecenderungan: (1) Mencari keterangan kepada sesuatu yang berada di luar sejarah; (2) Sebab akibat hakiki tidak terletak pada rangkaian peristiwa; (3) Suasana religiomagis seperti nasib, kutukan, rahmat, lebih menonjol daripada keberhasilan atau gagal dalam berusaha; (4) Kredibilitas atau kadar kepercayaan terhadap isinya lebih banyak ditentukan o­leh penghayatan kultural pembacanya; dan (5) Isi dari historiografi tradisional seringkali me­ngaburkan dua macam realitas sejarah, yakni antara realitas yang objektif terjadi dengan realitas riil dalam diri, sehingga terkubur di dalamnya antara fakta yang merupakan pengalaman yang aktual dengan fakta yang berupa hasil penghayatan kultural kolektif.

Kecenderungan-kecenderungan tersebut, juga terdapat dalam Hikayat Lambung Mangkurat sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut ini: Lembu Mangkurat keheran-heranan setelah mengetahui bahwa mayat-mayat Bambang Patmaraga hilang lenyap seketika itu juga.

Ekspresi Kultural

Penulisan sejarah (historiografi), pada mulanya lebih merupakan ekspresi kultural dari usaha untuk merekam masa lamp­au yang berkenaan dengan masyarakat yang menghasilkannya. Dalam konteks ini, makna dan fungsi sejarah lebih berarti daripada peristiwa-peristiwa yang diungkapkan dari kelampauan tersebut. Dengan demikian, yang menjadi tujuan utamanya bukanlah kebenaran historis, tetapi pedoman dan penegakan nilai yang perlu didapatkan. Oleh karena itu, dalam Hikayat Lambung Mangkurat sebagai ekspresi kultural, isinya erat dengan unsur-unsur sastra sebagai karya imajinatif, mitologi, dan pandangan hidup yang dihasilkan dengan unsur-unsur faktual dari peristiwa masa lalu.

Hikayat dan sejenisnya pada mulanya juga dihasilkan oleh pujangga istana yang mendapat tugas khusus untuk menyusun kronik dan daftar silsilah. Para pujangga menentukan ra­janya dalam pusat sejarahnya, dipujanya sebagai dewa sehingga dapat menambah kesaktian raja di mata rakyatnya.

Para pujangga bisa dimanfaatkan un­tuk meneguhkan dinasti atau tahta yang tidak sah, dengan ja­lan memperkuat legitimasi atau mempertahankan dasar nilai yang menjadi sandaran ideologi dan kekuasaan. Hal seperti itu juga terdapat dalam Hikayat Lambung Mangkurat, menyebabkan raja-raja Negara Dipa dan Negara Daha dipandang berasal dari penguasa alam atas dan alam bawah.

Berbeda dengan Hikayat dengan Raja-raja Banjar dan Kota Waringin yang pada mulanya memang disusun oleh pujangga istana, Hikayat Lambung Mangkurat yang juga terdapat dalam Tutur Candi, pada mulanya adalah tradisi lisan (oral tradition) yang berkembang atau sengaja dikembangkan dalam masyarakat.

Sebagai tradisi lisan, suatu gambaran realitas tidaklah identik dengan realitas atau peristiwa itu sendiri, tetapi ia memperlihatkan bagaimana peristiwa itu dimengerti oleh masyarakatnya, sehingga yang dimengerti itulah yang dianggap sebagai realitas baru atau yang sebenarnya.

Alam pikiran religio magis, pergeseran masa dan pertukaran waktu, dapat menimbulkan metamorfosa (perubahan bentuk) peristiwa, sehingga, misalnya, seorang tokoh historis yang pernah ada, secara perlahan-lahan dapat mengalami perubah bentuk, sehingga ia dianggap sebagai legenda dan dikelilingi oleh mitos. Begitu pula sebuah norma dapat mengalami personifikasi, norma atau ide bisa menjadi tokoh historis yang sebenarnya tidak ada.

Historical Mindedness

Hikayat Lambung Mangkurat sebagai suatu ekspresi kultural, kepastian historisnya me­mang dirasakan namun sulit dibuktikan, termasuk sulitnya membuktikan keberadaan atau ketidakberadaan tokoh Lam­bung Mangkurat itu sendiri. Ia terasa ada namun terbuktikan tidak.

Walaupun sulit dibuktikan atau tidak lulus sebagai karya sejarah dalam pengertian modern, Hikayat Lambung Mangkurat dan sejenisnya tetap dipandang sebagai sumber yang sangat berharga bagi sejarah, di samping sumber-sumber lainnya. Tanpa Hikayat, misalnya, sangat sulit memahami seputar Candi Agung (Amuntai) atau Candi Laras (Margasari), dan sebaliknya.

Hikayat termasuk mitos yang berhubungan dengan peristiwa sejarah dikenal sebagai sastra sejarah. Sastra sejarah adalah bayangan sejarah, karena realibilitas data sejarahnya diragukan, maka penggunaannya harus melalui kritik sejarah.

Oleh karena itu, untuk memahami dan menggunakan Hikayat Lambung Mangkurat sebagai sumber-sumber dalam merekonstruksi sejarah, maka ia harus terlebih dahulu dibersihkan dari unsur-unsur yang tidak logis dan membandingkannya dengan sumber-sumber lain.

Yang tak kalah pentingnya adalah memahaminya dengan konsep berpikir sejarah yang dikenal sebagai Historical Mindedness, yakni bagaimana pikiran, jiwa dan hati kita masuk ke dalam kelampauannya, dan hal itu dapat diperoleh dengan jalan memiliki kesadaran dan pengetahuan yang mendalam tentang latar belakang kultural dari masyarakat yang menghasilkannya. Dari penghayatan kultural itulah, asal-usul, keberadaan atau ketidakberadaan hikayat dan tokoh Lambung Mangkurat diharapkan dapat ditelusuri.

Demikian pula pemahaman terhadap cerita rakyat atau le­genda, atau bahan sastra lain yang non formal, sangat diperlukan untuk mendapat gambaran yang lebih menyeluruh tentang dasar-dasar interpretasi situasi dari tokoh historis, terutama berkenaan dengan masyarakat yang belum mengenal tulisan. (by. wajidi).

About these ads
2 Komentar leave one →
  1. Desember 2, 2010 5:53 am

    Kenyataannya sampai sekarang ini tak ada yang menelusuri keberadaan atau ketidakberadaan hikayat dan tokoh Lambung Mangkurat ini. Timbul pertanyaan siapa seharusnya yang menelusuri ini ?

    Siapa, ya? Semoga ada yang menelusurinya, meski terasa mustahil untuk membuktikan keberadaan atau ketidakberadaan tokoh Lambung Mangkurat….

  2. Syahranie permalink
    Desember 17, 2010 10:26 am

    Bagi kami bukan persoalan keberadaan atau ketidakberadaan tokoh Lambung Mangkurat dalam hikayat banjar ini (kecuali ada sumber lain yang mengharuskan kita menggugat kemutawatiran tokoh ini). Tetapi setuju dengan bagian akhir dari tulisan diatas yaitu sejauhmana kita mampu melogiskan sebuah hikayat melalui konsep historical mindednes. Konsep tsb semestinya mampu menghasilkan sebuah karya sastra (baca: hikayat lambung mangkurat) yang baru berdasarkan kerja bareng antara sastrawan dengan sejarawan, seperti yang diperlihatkan oleh Pramudya Ananta Toer dalam “Ken Arok-Dedes”nya. Dimana dalam novel tsb. ia mampu meng”ilmiah”kan sebuah lagenda yang selama ini berbau sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: