Skip to content

SEJARAH LOKAL DAN NASIONALISME

Mei 12, 2009

Tanggal 17 Mei 1949 merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Kalimantan Selatan, karena pada saat gerakan federalis yang dikomandani Dr. H.J. van Mook. mendapat sambutan di beberapa daerah, justru pejuang kemerdekaan pro unitarisme di Kalimantan Selatan memproklamasikan Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan harta untuk kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia, maka setiap tahun Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memperingati Hari  Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan dengan menggelar upacara bendera. Meski telat, peringatan Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV pada tahun 2007 bersamaan dengan upacara Hari Kebangkitan Nasional, Senin 21 Mei 2007.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk lebih memperdalam  makna hari bersejarah Kalimantan Selatan ini, selain upacara digelar pula Pameran Benda-benda bersejarah seperti dokumen, foto-foto sampai peralatan perang koleksi Museum Waja Sampai Kaputing bertempat di Gedung Dekranasda Kalimantan Selatan.

Selain digelar pameran, peringatan Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan dan Hari Kebangkitan Nasional juga dibarengi dengan peluncuran  tiga buah buku tentang nasionalisme hasil karya anak banua. Dua dari buku yang diluncurkan tersebut adalah “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942″ dan “Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik”. Keduanya karya  Drs. Wajidi, Peneliti Muda (kini Peneliti Madya) bidang Ilmu Sejarah dan Arkeologi lainnya pada Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan.

Peluncuran buku itu ditandai dengan penyerahan buku oleh Gubernur H. Rudy Ariffin didampingi Ketua DPRD Kalimantan Selatan dan penulis buku yang secara simbolis disampaikan kepada perwakilan Banjarmasin Post, Kopertis Wilayah XI, RRI, LKBN Antara, TVRI, dan KNPI Kalimantan Selatan bertempat di lapangan upacara kantor Gubernur Kalimantan Selatan.

Sejak diluncurkan tanggal 21 Mei 2007 silam, kedua buah buku tersebut telah didistribusikan kepada berbagai lembaga pemerintah dan swasta di Kalimantan Selatan maupun luar Kalimantan Selatan,   Perpustakaan Pemda Prov/Kab/Kota di Kalimantan Selatan,  Perpustakaan PTN/PTS,  sekolah, guru sejarah, tokoh masyarakat di Kalimantan Selatan dan Jakarta, veteran dan keluarga para pahlawan,   Kerukunan Warga Kalimantan Selatan di Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Tembilahan Riau, dan bahkan sampai ke luar negeri yakni Malaysia, Jepang, dan Amerika Serikat di samping penerima lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Sejarah memang tidak memberikan materi untuk kehidupan, akan tetapi muatannya adalah guru bagi kehidupan, dan pemahaman terhadap sejarah akan mendorong peningkatan  rasa tanggung jawab generasi penerus terhadap masa depan bangsa dan negara. Memahami sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Selatan akan bermanfaat bagi pelestarian nilai-nilai dan semangat juang para pahlawan, disamping manfaatnya sebagai menambah khazanah referensi kesejarahan, bahan informasi dan pengenalan identitas daerah, sumber inspirasi dalam membangun bangsa dan negara, serta  bahan pengayaan muatan lokal di berbagai jenjang pendidikan.

Ironi Sejarah

Hadirnya buku “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942 dan Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik,   dilatarbelakangi oleh adanya ironi yakni minimnya  pengetahuan masyarakat Kalimantan Selatan tentang Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di  Kalimantan Selatan khususnya pada Periode Sejarah Pergerakan Kebangsaan 1901-1942 dan Periode Sejarah Perang Kemerdekaan 1945-1949.

Hal yang sama juga terjadi di dunia pendidikan formal. Siswa dan guru lebih mengetahui sejarah nasional dibanding sejarah lokal. Pernah terjadi siswa yang ditanya tentang sejarah Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan 17 Mei 1949 di  Mandapai Kandangan, ia menjawab dengan  menghubungkannya dengan Stadion Olahraga 17 Mei di Banjarmasin. Siswa juga lebih mengetahui siapa Jenderal (Anumerta) A. Yani atau Pangeran Diponegoro dibanding Brigjend H. Hassan Basry atau Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan).

Salah satu penyebab minimnya pengetahuan siswa adalah lantaran kurangnya  bahan bacaan sejarah daerah Kalimantan Selatan yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Sejarah Lokal dan Sejarah Nasional

Dalam sebuah kesempatan Prof. Dr Taufik Abdullah, sejarawan dari LIPI pernah menyatakan bahwa penulisan sejarah di Indonesia sangat dipengaruhi kekuasaan. Banyak peristiwa sejarah, sebagian besar adalah peristiwa  lokal yang sebetulnya sangat bermakna tidak terungkap  secara jelas atau tidak mendapatkan porsi yang selayaknya  dalam sejarah nasional karena dipandang tidak sejalan, atau kalau tidak ingin dikatakan  bertentangan dengan kepentingan atau sudut pandang penguasa.

Sementara itu ada peristiwa lokal di daerah tertentu yang terasa ditonjolkan sehingga terlihat dominan dalam buku sejarah perjalanan bangsa, terutama peristiwa sejarah yang terjadi di Pulau Jawa, sehingga seolah-olah Pulau Jawa-lah yang mempunyai peranan penting dalam panggung sejarah Indonesia.

Diakui memang telah sejak lama Pulau Jawa menjadi pusat hegemoni  kekuasaan seperti  Majapahit, Hindia Belanda, dan kini  Republik Indonesia. Dari sanalah berbagai kebijakan pemerintahan, aktivitas dan budaya masyarakat yang bersentuhan dengan kekuasaan mempengaruhi dan/atau  menjadi kiblat dan menyebar ke seantero Nusantara. Tak mengherankan ketika Indonesia merdeka, maka peristiwa yang terjadi di Jawa banyak mempengaruhi daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Di bidang pendidikan, misalnya, Pemerintah Orde Baru pernah mengeluarkan kebijakan bahwa hanya sejarah  mempunyai korelasi/mendukung dengan negara kebangsaan yang dikategorikan  layak masuk  sebagai bagian sejarah nasional, sehingga sejarah lokal/daerah yang tidak mempunyai relevansi dengan sejarah nasional diabaikan.

Selain itu, kebebasan untuk memberikan tafsiran yang berbeda dengan pihak penguasa atas su­atu peristiwa sejarah tidak mendapat tempat yang memadai. Dalam beberapa kasus mun­culnya buku sejarah yang menyorot suatu pe­ristiwa dalam sudut pandang yang herbeda, tidak direspon dengan pendekatan intelektual, tetapi lewat pendekatan keamanan dengan ja­lan melarang diterbitkan atau disebarluaskan buku tersebut kepada masyarakat.

Pengaruh kekuasaan tampak dalam pe­ngajaran sejarah, dari tingkat pendidikan da­sar sampai perguruan tinggi. Di negara yang taraf pendidikan masyarakatnya sudah maju dan predikat persatuannya sudah demikian kuat, sejarah diajarkan berdasarkan pende­katan  intelektual, sedangkan di negara ber­kembang seperti Indonesia cenderung berori­entasi kepada pendekatan indoktrinasi.

Menyangkut pengajaran sejarah, sudah sejak lama pemerintah mengeluarkan kebijakan kebijakan pendidikan nasional yang bersifat monolit yang mana buku-buku pelajaran sejarah maupun kurikulumnya sebagian besar ditentukan oleh Pusat. Kebijakan tersebut berdampak kepada minimnya materi sejarah lokal dalam pengajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Dilihat dari  sudut kepentingan penanam­ jati diri bangsa dan upaya untuk mem­pererat persatuan dan kesatuan bangsa maka kebijakan yang bersifat monolit tersebut dapat dipahami, karena pemahaman dan kesadaran akan sejarah bangsa yang serba bhinneka merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki.

Namun kebijakan itu sendiri tidak terle­pas dari kelemahan, diantaranya: (1) pelaja­ran sejarah bisa kurang menarik,  karena siswa diajarkan peristiwa yang tidak mem­punyai relevansi langsung dengan daerah di mana ia berada; (3) siswa kurang/ tidak    mengetahui sejarah yang terjadi di daerahnya sendiri; (3) dapat menimbulkan kesan sekolah sebagai sebuah menara gading  atau tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, jangan disalahkan ketika Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota di  Kalimantan Selatan memperingati peristiwa Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan 17 Mei 1949, masyarakat daerah ini justru tidak tahu menahu dengan peristiwa tersebut.

Kontribusi Sejarah Lokal

Apriori terhadap sejarah lokal sudah saatnya dihilangkan, termasuk kekuatiran yang berlebihan akan munculnya sikap etnosentrisme, karena sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa sejarah lokal bahkan yang sangat lokal  sekalipun, sesungguhnya mempunyai kontribusi  terhadap penanaman nasionalisme dan patriotisme. Diantaranya adalah buku  Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik dan Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942.

Meski buku tersebut bukan yang pertama memuat tentang sejarah lokal Kalimantan Selatan, namun ia penting untuk dibaca oleh siapa saja yang berminat memahami perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan.

Di dalam keadaan kurangnya penulisan buku mengenai sejarah daerah, maka buku ini akan memberikan informasi historis kepada masyarakat bahwa sejarah lokal Kalimantan Selatan juga mempunyai kontribusi penting terhadap pembentukan nasionalisme dan patriotisme Indonesia.

Buku pertama, Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942. Dengan pengantar pakar  oleh Drs. M.Z. Arifin Anis, M.Hum, Dosen Sejarah FKIP Unlam, buku setebal  233 halaman ini  merupakan hasil dari sebuah kajian tentang peristiwa yang berkaitan dengan pergerakan kebangsaan Indonesia di Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari “fenomena historis” yang terjadi di sebagian besar kepulauan Nusantara pada dasawarsa pertama abad ke-20, di saat mana terjadi kebangkitan nasionalisme sebagai reaksi terhadap kolonialisme dan imperialisme.

Kalimantan Selatan (termasuk Kalimantan Tengah sekarang) merupakan bagian dari konstelasi pergerakan kebangsaan Indonesia itu. Di daerah ini berkembang berbagai organisasi yang berlingkup lokal, regional, maupun nasional. Atau dari yang semula bersifat kedaerahan dan bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan keagamaan, terus berkembang ke arah kebangsaan melalui pergerakan politik praktis dengan tujuan meraih kemerdekaan.

Buku ini  memuat berbagai aktivitas pergerakan baik berupa berupa perkumpulan, partai, maupun sekolah pergerakan dengan watak Islam sebagai pendorong utama di awal-awal pertumbuhannya dan seterusnya berkembang ke arah kebangsaan. Dilihat dari asal kelahirannya, maka  terdapat organisasi pergerakan yang pembentukannya bermula di Kalimantan Selatan dan ada yang merupakan cabang dari induknya di Pulau Jawa.Jika dilihat dari lingkup perjuangannya, terdapat  organisasi-organisasi yang bergerak dalam lingkup lokal, regional (Kalimantan), maupun lingkup nasional. Sedangkan jika dilihat dari tujuan dan asasnya, terdapat  organisasi yang bergerak bidang sosial, ekonomi, dan keagamaan, serta  organisasi pergerakan yang bergerak di bidang politik atau kebangsaan.

Penetapan tahun 1901 diambil sebagai awal pergerakan, karena pada tahun itulah berdiri organisasi pergerakan  di Banjarmasin, yaitu Seri Budiman, sebuah organisasi lokal beranggotakan para pangreh praja dan pedagang yang  bertujuan mempererat hubungan silaturahmi sesama anggotanya, mempropagandakan pentingnya pengajaran dari Barat, persatuan kaum pedagang dan pertanian.

Perkumpulan Seri Budiman-lah yang mula-mula sebagai pelopor mempergunakan podium sebagai sarana para pembicara di sidang-sidang rapat, sehingga kebebasan berbicara di atas mimbar menjadi suatu kebiasaan baru dalam dunia perhimpunan di Kalimantan Selatan yang berbeda dengan perhimpunan sebelumnya yang bersifat sinoman (organisasi kemasyarakatan yang bersifat tradisional dan lokal).  Meski pada mulanya bersifat lokal dan menonjolkan watak sosial, para  anggota Seri Budiman yang  mendapat pengaruh dari kebudayaan atau pendidikan secara Barat telah mempelopori tumbuhnya organisasi  dan kebiasaan yang bersifat modern yang diikuti oleh organisasi-organisasi yang berkembang di kemudian hari.

Meski aktivitas organisasi  Seri Budiman gaungnya tidak sebesar dengan apa yang telah dilakukan oleh organisasi Budi Utomo yang kelahirannya tanggal 20 Mei 1908 dijadikan Hari Kebangkitan Nasional, namun ia merupakan sebuah fakta sejarah bahwa embrio organisasi pergerakan di Kalimantan Selatan pernah ada sebelum kelahiran Budi Utomo.

Tidak diragukan lagi, agama  Islam merupakan kontributor perkembangan nasionalisme di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan Islam dan nasionalisme di Kalimantan Selatan merupakan satu kesatuan erat yang saling mengisi. Islam sebagai agama yang dianut sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan sangat berperan sebagai pendorong tumbuhnya pergerakan nasional di daerah ini, oleh karena itu berbagai aliran atau  organisasi-organisasi yang bernafaskan  Islam dapat dengan mudah tumbuh dan berkembang karena banyaknya pengikut atau anggotanya.

Besarnya pengaruh agama  Islam pada awal pergerakan membuktikan bahwa elite agama merupakan salah satu pelopor pergerakan kebangsaan di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan pada dekade pertama abad ke-20 pergerakan kebangsaan di Kalimantan Selatan dimulai dengan nasionalisme Islam. Pada mulanya corak keislaman terlihat pada kegiatan sinoman-sinoman yang bernafaskan Islam, namun pada perkembangan selanjutnya tercermin pada organisasi yang mengarah kepada kebangsaan seperti Sarekat Islam, Barisan Indonesia (Bindo), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Musyawaratutthalibin.

Di samping organisasi-organisasi yang merupakan cabang dari Jawa,  peranan organisasi-organisasi lokal seperti Sarekat Kalimantan, Barisan Indonesia, Partai Ekonomi Kalimantan, dan Musyawaratutthalibin juga turut mewarnai pergerakan kebangsaan di daerah ini. Bahkan Barisan Indonesia (Bindo) dan Musyawaratutthalibin menempati keistimewaan tersendiri dalam panggung sejarah pergerakan di Kalimantan Selatan. Bindo merupakan organisasi lokal yang pertama berasaskan kebangsaan,  non-kooperatif, dan berani mengangkat simbol Merah Putih sebagai bendera kebangsaan. Sedangkan Musyawaratutthalibin, merupakan organisasi Islam lokal terbesar di Kalimantan Selatan, karena selain mempunyai beberapa cabang di Kalimantan, juga melebar ke luar pulau Kalimantan, terutama di daerah komunitas Banjar perantauan seperti Sapat, Tembilahan dan daerah lain di pesisir timur Sumatera.

Dari paparan disimpulkan bahwa yang namanya  pergerakaan kebangsaan, perintis kemerdekaan, atau awal nasionalisme dan patriotisme Indonesia bukanlah monopoli organisasi yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Rakyat Kalimantan Selatan juga merupakan bagian yang turut mewarnai sejarah perkembangan nasionalisme dan patriotisme Indonesia.

Buku kedua, Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik. Isinya 211 halaman dengan ulasan berupa pengantar oleh Drs. Bambang Subiyakto, M.Hum, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Kalimantan Selatan. Isi buku ini kental sekali memuat nasionalisme dan patriotisme, karena dengan gamblang memaparkan  betapa rakyat Kalimantan Selatan berjuang dengan gigihnya menegakkan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan.

Buku ini dapat menepis keraguan atas pertanyaan tentang ada tidaknya  kontribusi sejarah lokal terhadap penanaman nasionalisme dan patriotisme, karena sejarah daerah Kalimantan Selatan pada masa Perang Kemerdekaan 1945-1949 penuh dengan peristiwa heroik dalam mengusir penjajah Belanda yang kandungan nilainya tidak kalah dengan peristiwa yang terjadi di daerah lainnya di Indonesia.

Pada periode 1945-1949, rakyat Kalimantan Selatan bukan saja berhasil mengusir penjajah Belanda melalui perang gerilya, namun secara politis juga mempunyai kontribusi dalam proses integrasi bangsa dan negara.

Saat pemerintah Republik Indonesia dengan resmi meninggalkan Kalimantan melalui persetujuan Linggajati, para pejuang kemerdekaan di Kalimantan Selatan yang meski sangat kecewa dengan persetujuan itu, tetap berusaha sekuat tenaga menunjukkan eksistensi Republik di wilayah yang secara de facto dan de jure berada di wilayah kekuasaan Belanda, tidak berkeinginan mendirikan negara sendiri meski kesempatan itu ada saat mereka telah menguasai sebagian besar wilayah teritorial, malah sebaliknya menentang pembentukan “Negara Kalimantan”, dan dengan Proklamasi 17 Mei 1949, Hassan Basry atas nama rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, menyatakan Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Proklamasi 17 Mei 1949 merupakan sebuah fakta sejarah betapa rakyat Kalimantan Selatan tetap setia kepada NKRI, meski pemerintah Republik Indonesia secara “resmi” telah meninggalkan Kalimantan sebagaimana disepakati kedua belah fihak (Indonesia dan Belanda) dalam Persetujuan Linggajati.

Persetujuan Linggajati merupakan satu “tamparan” terhebat terhadap perjuangan kemerdekaan di Kalimantan, akan tetapi para pejuang di Kalimantan Selatan yang meski sangat kecewa dengan persetujuan itu, tetap berusaha sekuat tenaga menunjukkan eksistensi Republik di wilayah yang secara de facto dan de jure berada di wilayah kekuasaan Belanda, tidak berkeinginan mendirikan negara sendiri meski kesempatan itu ada pada saat mereka telah menguasai sebagian besar wilayah territorial.  Yang terjadi adalah sebaliknya yakni para pejuang kemerdekaan atau rakyat yang pro unitarisme bertekad tetap menjadikan Kalimantan Selatan sebagai bagian dari NKRI dan menolak setiap upaya mendirikan Negara Kalimantan sebagaimana digagas oleh Letnan Gubernur Jenderal Dr. H.J. van Mook.

Cerminan dari tekad para pejuang dan rakyat Kalimantan Selatan itu, antara lain terlihat dengan adanya berbagai mosi penolakan dan perlawanan bersenjata terhadap pembentukan Negara Kalimantan meski Belanda telah membentuk beberapa Daerah Otonom sebagai jalan untuk merealisasikannya.

Perlawanan di bidang politik dilakukan oleh para tokoh SKI dan SERMI. Sedangkan perlawanan bersenjata dilakukan oleh  para gerilyawan dari beberapa organisasi kelaskaran, terutama sekali ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan sebagai organisasi terbesar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Hassan Basry yang pada tanggal 17 Mei 1949 memproklamasikan berdirinya Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Proklamasi 17 Mei 1949 telah menjadikan dualisme pemerintahan di Kalimantan Selatan. Akan tetapi, Pemerintah Gubernur Tentara ALRI yang lebih berkuasa karena memiliki wilayah teritorial yang luas, minus kota-kota yang masih diduduki  pemerintahan NICA.

Cornelis van Dijk dalam disertasinya Darul Islam Sebuah Pemberontakan (1983:206) menyimpulkan bahwa: “Para gerilyawan di Kalimantan  mengakibatkan lebih banyak kesulitan bagi Belanda ketimbang di Sulawesi. Mereka benar-benar berhasil dalam melumpuhkan pemerintahan di Kalimantan Selatan”.

Karena tidak tahu harus bagaimana menghadapi para gerilyawan di Kalimantan Selatan, maka Belanda berinisiatif meminta tolong kepada pemerintah Republik Indonesia dan Komisi PBB untuk Indonesia (KPBBI) atau UNCI (United Nation Commission for Indonesia) untuk mendamaikan keadaan, sekaligus  sebagai penengah dan saksi dalam perundingan-perundingan antara Belanda dan  ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Perundingan kedua belah pihak yang  menempatkan utusan militer Republik Indonesia sebagai penasihat dan UNCI/KPBBI sebagai penengah atau saksi perundingan, merupakan peristiwa yang dikategorikan  unik dan luar biasa  dalam panggung sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, karena —menurut sepengetahuan penulis— peristiwa serupa tidak terjadi di daerah lainnya di Indonesia yang menurut Persetujuan Linggajati dikuasai Belanda.

Benar apa yang dikatakan Hassan Basry dalam memoarnya Kisah Gerilya Kalimantan Jilid II (2003:75) bahwa  peristiwa itu merupakan hal yang luar biasa yang pernah terjadi di Indonesia. Istimewanya karena Republik Indonesia dapat berkuasa atas suatu daerah  (Kalimantan Selatan, pen.) di luar Persetujuan Linggajati atas permintaan pihak lawan (Belanda). (copyright©wajidi).

About these ads
5 Komentar leave one →
  1. Kamal Ansyari permalink
    Maret 3, 2010 10:44 pm

    Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, kalimantan selatan seperti datu ulin dan asal mula kampung ulin, legenda batu laki dan batu bini, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh dan bambang basiwara, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu patinggi di telaga langsat,legenda mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, datu kandangan dan datu kertamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaluddin mempertahankan benteng gunung madang, bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singakarsa di pandai, mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran dan datu balimau, kuburan tumpang talu di parincahan, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan pemberontak ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basyri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan.Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    penting bagi saudara untuk segera menggali aset budaya tersebut sehingga dapat didokumentasikan dan dipublikasikan…

  2. Mei 6, 2010 2:52 am

    lanjutkan “haram manyarah, waja sampai ka puting”

    “dalas hangit amun manyarah kada”

  3. syahranie permalink
    Mei 11, 2010 12:36 am

    Kalau saja Pemko Banjarmasin membaca buku tersebut minimal tulisan dalam blog ini kami yakin nama jalan-jalan di dalam kota Banjarmasin sudah mengalami penggantian merujuk kepada nama-nama pahlawan di daerah ini, namun sampai sekarang beberapa nama jalan yang bersifat umum masih tetap dipakai seperti, Jl.Perintis Kemerdekaan, Jl.Sulawesi, Jl. Belitung, Jl.Simp.Belitung, Jl. Saka Permai, Jl. Cendrawasih, Jl. Pulau Laut, Jl. Bali, Jl. Tarakan dan banyak lagi yang lainnya, seharusnya nama jalan yang tidak mempunyai ikatan emosional dengan masyarakat sekitar atau nilai historis yang mendasari penamaannya segera diganti.

    Betul, pak. Harus ada ikatan emosional atau nilai historis penamaan jalan. Usul, seperti halnya Jalan Brigjen H. Hassan Basry, Jalan Gubernur Soebardjo, sebaiknya ada nama “Jalan H. Aberanie Sulaiman” (Pejuang, Mantan Gubernur Kalsel)

  4. Mei 29, 2010 2:13 am

    Saya sangat kagum dengan ketajaman Pak Wajidi. Insya Allah, saya nanti mau menemui piyan. Untuk belajar tentang sejarah lokal Kalimantan Selatan. Ulun mau mengadakan penelitian tentang pembelajaran sejarah lokal di Kalimanatan Selatan. Terima kasih Pak Wajidi

  5. Bowo permalink
    Desember 23, 2011 2:45 am

    Mohon informasinya untuk mendapatkan buku “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942″ karya Pak Wajidi, terimakasih.

    Buku tersebut tidak lagi dijual di toko buku, namun masih ada pada saya. Untuk memperolehnya silakan kontak saya via email: wadjidi@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: