Skip to content

TAMAN MINIATUR RUMAH BANJAR

Juli 12, 2009

Kalimantan Selatan, seperti juga provinsi lainnya, mempunyai banyak peninggalan sejarah berkategori “benda cagar budaya” diantaranya berupa rumah adat/tradisi Banjar dalam berbagai tipe. Rumah-rumah Banjar itu dibedakan melalui bentuk atau konstruksi atapnya, seperti Rumah  Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Gajah Manyusu, Palimasan, Palimbangan, Balai Laki, Balai, Bini, Tadah Alas, Cacak Burung/Anjung Surung, Rumah Gudang (Joglo) dan Lanting. Para budayawan, memang berbeda pendapat tentang tipe-tipe rumah Banjar, ada yang mengelompokkan dalam 11 tipe sebagaimana tersebut di atas (Syamsiar Seman), ada yang hanya 10 tipe yakni minus lanting (M. Idwar Saleh), atau ada yang hanya 7 tipe yakni minus Tadah Alas, Cacak Burung/Anjung Surung, Joglo, dan Lanting (Amir Hasan Bondan).
museum wasaka

Para budayawan, memang berbeda pendapat tentang tipe-tipe rumah Banjar, ada yang mengelompokkan dalam 11 tipe sebagaimana tersebut di atas (Syamsiar Seman), ada yang hanya 10 tipe yakni minus lanting (M. Idwar Saleh), atau ada yang hanya 7 tipe yakni minus Tadah Alas, Cacak Burung/Anjung Surung, Joglo, dan Lanting (Amir Hasan Bondan).

Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, hampir tiap kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan masih terdapat rumah adat/tradisi Banjar dalam berbagai tipe. Namun seiring dengan perjalanan waktu dan pesatnya pembangunan dewasa ini, semakin banyak rumah Banjar yang rusak atau bahkan punah sama sekali karena “dikalahkan” bangunan-bangunan baru yang terus bermunculan, seperti perumahan, perkantoran, jalan dan sejenisnya atau lapuk dan hancur ”dimakan” usia.

Di antara rumah Banjar yang berhasil diselamatkan melalui pemugaran, antara lain Rumah Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku di Teluk Selong Kabupaten Banjar, Rumah Bubungan Tinggi di Habirau Negara. Selebihnya banyak yang dibiarkan apa adanya bahkan tidak terawat oleh pemiliknya.

Di Banjarmasin, tepatnya di Jalan Veteran, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak rumah banjar tipe  Balai Laki yang kebetulan saja dimiliki oleh etnis Tionghoa. Karena pemiliknya berduit, maka oleh pemilik  berduit rumah Banjar itu direnovasi ke bentuk baru atau dihancurkan sama sekali untuk dibangun berbagai rumah toko. Adanya renovasi ke bentuk bangunan baru, maka simbol-simbol arsitektur budaya Banjar seperti konstruksi bangunan, ragam hias, dan nilai-nilai philosofi yang dikandungnya semakin lama semakin hilang.

Kendala

Dalam realita empirik, ada banyak kendala yang menghambat pelestarian peninggalan sejarah yang berkategori benda cagar budaya di Kalimantan Selatan. Hal tersebut terbukti dengan semakin rusaknya atau punahnya beberapa benda cagar budaya yang pernah ada di sekitar kita oleh perbuatan-perbuatan yang secara langsung maupun tidak langsung telah merusak atau menyebabkan punahnya benda cagar budaya tersebut.

Secara umum, penyebab rusak atau punahnya benda cagar budaya, dapat digolongkan ke dalam tiga faktor. Pertama, faktor manusia (vandalisme). Manusia merupakan ancaman yang paling besar terhadap benda cagar budaya, termasuk rumah Banjar. Disadari atau tidak seringkali terjadi kasus seperti penggusuran, perusakan, renovasi bentuk atau penghancuran benda cagar budaya, situs, dan lingkungannya. Salah satu penyebab musnahnya bangunan rumah Banjar misalnya adalah adanya renovasi bangunan ke bentuk baru. Atau,  rusaknya Benteng Tabanio di Kabupaten Tanah Laut, karena bahan bangunannya yang terdiri dari batu dan bata digunakan oleh penduduk setempat sebagai alas atau pondasi rumah. Kini, benteng tersebut tinggal pondasi dan semakin terdesak oleh pemukiman penduduk.

Kedua, faktor alami, yakni menyangkut geotopografi, iklim atau bencana alam, seperti kebakaran, tanah longsor, dan sejenisnya. Berkenaan dengan geotopografi, kondisi tanah di Kalimantan Selatan sebagiannya relatif tidak stabil, yakni tanah gambut dan rawa monoton dengan tingkat keasaman yang cukup tinggi, sehingga benda cagar budaya yang ada di atasnya mudah mengalami kerusakan. Di tambah dengan adanya tekanan bobot, maka semakin lama pondasinya semakin melesak, miring, retak, pecah dan terpendam di dalam tanah. Hal tersebut dapat dilihat pada bangunan Komplek Makam Sultan Suriansyah desa Kuin Banjarmasin,  Candi Agung di Amuntai, dan Candi Laras di Margasari.

Suhu dan kelembaban juga sangat mempengaruhi. Daerah yang mempunyai rawa biasanya kelembabannya cukup tinggi dan adanya pergantian suhu seperti dingin (hujan) dan panas akan menyebabkan timbulnya korosi atau pelapukan pada material benda cagar budaya kita yang sebagian besar terbuat dari kayu, seperti halnya rumah Banjar.

Ketiga, faktor hayati, yakni perusakan oleh hewan dan tumbuhan dan terutama mikroorganisme yang pertumbuhannya dipacu oleh adanya kelembaban yang tinggi. Kerusakan dapat terjadi karena material benda, cagar budaya dimakan rayap, ditumbuhi cendawan dan pepohon yang tumbuh di atasnya.

Keempat, meski terdapat undang-undang yang mengatur benda peninggalan sejarah dan purbakala yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, namun pada kenyataannya produk hukum itu belum sepenuhnya efektif untuk melindungi benda peninggalan sejarah dari kerusakan atau kehancuran. Beberapa alasan menjadi penyebab seperti kurang efektifnya pengawasan dan tindakan yang diberikan aparat, kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang perlunya pelestarian benda cagar budaya.

Taman Miniatur

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa seiring dengan semakin punahnya rumah adat/tradisi Banjar, baik karena lapuk dimakan usia atau karena renovasi ke bentuk bangunan baru, maka simbol-simbol arsitektur budaya Banjar seperti konstruksi bangunan, ragam hias, dan nilai-nilai philosofi yang di kandungnya semakin lama semakin hilang. Punahnya rumah Banjar akan berakibat hilangnya salah satu identitas etnis Banjar di Kalimantan Selatan.

Ketidaktahuan masyarakat terhadap rumah Banjar dalam berbagai tipe merupakan salah satu bias dari ketidakpedulian terhadap keberadaan rumah Banjar. Banyak yang mengira, bahwa rumah Banjar adalah rumah Bubungan Tinggi, padahal terdapat rumah Banjar   tipe lainnya. Belum lagi menyangkut kemampuan mengidentifikasi perbedaan rumah Banjar tipe yang satu dengan tipe lainnya.

Ada beberapa cara agar rumah Banjar tetap lestari, seperti melakukan restorasi (pemugaran) terhadap rumah-rumah adat Banjar yang mengalami kerusakan, atau mengadopsi simbol-simbol arsitektur budaya rumah Banjar, misalnya  dalam pembangunan sarana publik di Kalimantan Selatan.

Sayangnya, pembangunan sarana publik sekarang ini kurang mengadopsi arsitektur budaya Banjar, baik pada struktur bangunan maupun ragam hiasnya. Bahkan yang terjadi adalah semakin meningkatnya distorsi identitas, yakni semakin ditinggalkannya identitas kedaerahan atau semakin menguatnya  unsur arsitektur budaya luar pada bangunan sarana publik.

Arsitektur merupakan suatu karya budaya yang dapat dijadikan petunjuk bagi perkembangan budaya suatu bangsa atau etnis. Manakala unsur budaya luar semakin dominan dalam sebuah wilayah teritorial dan kultural sebuah etnik, maka yang terjadi adalah dominasi budaya  yang memarjinalkan budaya lokal. Jika hal ini terus dibiarkan maka yang terjadi adalah “malapetaka budaya” yakni hilangnya salah satu identitas budaya Banjar yang berakibat kepada munculnya suara-suara ketidakpuasan terhadap hegemoni etnis tertentu  dengan segala kemungkinan yang diakibatkannya.

Sudah saatnya, hegemoni budaya luar dihilangkan, diantaranyanya  adalah dengan  revitalisasi simbol-simbol budaya Banjar dalam pembangunan sarana publik. Memang, tidak mesti bangunan sarana publik mengadopsi secara utuh bangunan rumah Banjar Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Gajah Manyusu, Balai Laki, Balai Bini, dan sebagainya, akan tetapi, minimal pada bagian-bagian tertentu “dibumbui” dengan ornamentasi, seperti bubungan, ukiran, pilis, jamang , dan sebagainya.

Secara umum kendala dalam revitalisasi simbol-simbol budaya rumah Banjar adalah: (1) Besarnya biaya pembangunan sarana publik jika secara utuh mengadopsi bentuk stuktur, ragam hias, dan bahan bangunan  rumah Banjar, khususnya jika memakai bahan baku, ukiran, sirap  kayu ulin yang kini langka dan harganya semakin  mahal; (2) Penerapan rumah adat Banjar seperti Bubungan Tinggi pada bangunan  sarana publik bercorak modern, di beberapa kasus kurang fungsional. Hal ini terjadi karena desain  bangunan bercorak modern bukan hanya  mengacu kepada kultur estetis, teknis, dan  material, tetapi juga  tuntutan kemajuan zaman, perkembangan sosial, dan teknologi; (3) Kurangnya pengetahuan konsultan, kontraktor atau pengambil kebijakan tentang ragam simbol-simbol arsitektur budaya Banjar yang dapat diaplikasikan dalam pembangunan sarana publik; (4) Kurangnya dukungan pemerintah, seperti tidak adanya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penggunaan simbol-simbol budaya Banjar dalam pembangunan sarana publik.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, tindakan pendahuluan yang diperlukan untuk itu adalah melakukan kajian tentang  revitalisasi simbol-simbol arsitektur budaya rumah Banjar dalam kebijakan sarana publik di Kalimantan Selatan sebagaimana telah dilaksanakan oleh Balitbangda Provinsi Kalsel pada tahun 2008 silam.  Kajian tersebut menghasilkan: (1) gambaran tentang latar belakang terbentuknya rumah adat Banjar beserta masyarakat pendukungnya di Kalimantan Selatan; (2) bahan rujukan dalam pembangunan sarana publik yang mengacu kepada pemanfaatan simbol-simbol arsitektur budaya Banjar; (3) bagi pemerintah daerah dan DPRD, diharapkan dapat dimanfaatkan nantinya sebagai  bahan masukan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemanfaatan Simbol-simbol Arsitektur Budaya Banjar  dalam Pembangunan sarana Publik di Kalimantan Selatan.

Upaya  lainnya yang dapat ditempuh dalam pelestarian rumah Banjar adalah dengan melakukan identifikasi dan dokumentasi rumah Banjar dalam berbagai tipe di Kalimantan Selatan. Kegiatan ini dapat dipandang sebagai sebuah keperluan mendesak, karena dilatarbelakangi oleh banyaknya rumah Banjar di Kalimantan Selatan yang rusak dan musnah karena faktor usia atau dirobohkan untuk kepentingan pembangunan rumah baru atau rumah toko (ruko)  tanpa sempat didokumentasikan.

Selain alternatif di atas, dan untuk mengenalkan rumah Banjar dalam berbagai tipe dengan cara yang lebih mudah adalah dengan melakukan pembangunan miniatur rumah-rumah Banjar. Maksudnya adalah menghimpun  rumah Banjar berbagai tipe dalam bentuk mini seperti Rumah  Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Gajah Manyusu, Palimasan, Palimbangan, Balai Laki, Balai, Bini, dan Tadah Alas, Rumah Gudang (Joglo), dan Lanting ditambah masjid berkonstruksi atap tumpang dalam sebuah lokasi. Katakanlah semacam bentuk Taman Mini  Indonesia Indah, namun miniatur di sini adalah “Taman Miniatur Rumah Banjar”. Misalnya berlokasi di desa Sungai Jingah, Banjarmasin. Atau di tempat lain, dengan terlebih dahulu dilakukan kajian untuk menentukan lokasinya.

Dalam Taman Miniatur Rumah Banjar itu, aspek kultur estetis, teknis, dan  material rumah dan lingkungan rumah Banjar akan disesuaikan dengan kondisi alam Kalimantan Selatan, berupa  rawa dan pegunungan. Begitupula, di lokasi itu  akan ditanami berbagai  tanaman buah langka Kalimantan Selatan, seperti kasturi, rawa-rawa, kulipisan, asam tandui, binjai, hampalam,  hambawang, maritam, gitaan, mundar, kapul, bangkinang (kunghit), kuranji, sangkuang, tarap, kalangkala, rambai, rukam, papakin, lahung, gayam, dan  sebagainya.  Di taman mini itu, juga akan disajikan berbagai pagelaran khas budaya Banjar seperti tarian, wayang gung, wayang kulit Banjar, mamanda, madihin, balamut, musik panting, dan kuda gepang.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh jika Taman Miniatur Rumah Banjar dapat diwujudkan, misalnya sebagai objek wisata dan pendidikan yang bernuansa budaya lokal. Di taman tersebut, pengunjung dapat  menghibur diri dengan pagelaran seni budaya Banjar yang ditampilkan, dapat pula mengenal rumah Banjar dalam berbagai tipe, dan mengenal pula jenis tumbuhan dan buah langka Kalimantan Selatan. (copyright©wajidi).

About these ads
5 Komentar leave one →
  1. danummurik permalink
    Juli 26, 2009 12:27 am

    Tulisan-tulisan di blog pian menarik, tapi kalo bisa setiap tulisan jangan didisplay seluruhnya, tampilkan satu atau dua paragraf aja biar gampang melihat judul tulisan yang lain.

    Terima kasih atas masukan bung Inas….display artikel akan diperbaharui…..

  2. Oktober 13, 2009 1:13 am

    Menarik tentang ide Taman Miniatur Rumah Banjar …. seandainya ada pengembang yang mau membangunnya tentu sangat bermanfaat, mungkin bisa mengambil konsep “villa” dalam pembangunannya dan bisa dimiliki secara individual ataupun intitusi pemerintah atau swasta dalam bangunannya. Tinggal menentukan lokasinya saja, karena urang banua banyak yang memiliki mobil mewah lebih dari satu, masa untuk membeli “gengsi” budaya dalam bentuk rumah banjar dan lokasi yang khas dengan tanaman-tanamannya tidak mau.

    Taman Miniatur Rumah Banjar … bisa menjadi investasi tersendiri, tapi setidaknya urang banua banyak yang sanggup, daripada beli villa di daerah lain.

    Pemikiran bung benar adanya. Semoga ada urang banua yang peduli dan mampu merealisasikannya. amien.

  3. Januari 20, 2010 7:14 am

    Tarima kasih nah….ulun parlu gasan tugas sekolah..

    Silakan…semoga bermanfaat

  4. Januari 22, 2010 5:44 am

    umpat bajinguk, sanang hati malihat rumah banjar bubungan tinggi

    ayuha, mudahan rumah bubungan tinggi tetap lestari

  5. Juni 15, 2010 11:09 pm

    rasa karindangan lawan banua kita nah… :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: