Lanjut ke konten

MANA JANTANMU, WAHAI PERWIRA?

Desember 24, 2010

Dalam salah satu sektor pertempuran di Pasundan, 76 orang wanita Indonesia telah tertangkap oleh militer Belanda, dan diarak di atas spaakbord mobil, dibawanya menyerang ke pertahanan TNI di garis muka, sebagai “tameng hidup-hidup”.
Perwira-perwira TNI tidak sampai hati melepaskan tembakannya, kuatir kalau wanita-wanita tadi menjadi korban. Mobil tadi terus menerobos masuk garis pertahanan TNI.
Itu 76 wanita muda menjadi maklum. Seorang diantaranya, namanya Siti Aminah, anak Encik Abdullah, berseru dengan lantang kepada pemuda-pemuda TNI yang kebingungan itu:
“Mana jantanmu, wahai perwira?”
“Jantan kami ada, saudari. Tetapi bila kami lepas tembakan, kuatir terkena tubuhmu yang halus itu”jawab TNI.
”Akh…apalah harganya tubuh 76 ini, kalau pertahananmu direbut musuh? Janganlah engkau sayang di jiwa kami. Lepaskanlah anak pelormu, wahai perwiraku….!”
Maka menderu-derulah bunyi senjata otomatis, pelor menghujan ke atas mobil itu.
Kikis habis disapu bersih, 76 wanita gugur di ribaan bumi, tapi bahaya dapat terhindar.

Cerita diatas dikisahkan oleh Bung Jusi dalam rapat Perwani di Padang Batung pada bulan Desember 1949 dan dimuat oleh surat kabar Kalimantan Berdjuang, Sabtu 17 Desember 1949 No. 877 Tahun ke IV. Bung Jusi (M. Jusi) adalah salah seorang tokoh pejuang gerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan tahun 1945-1949. Di awal tahun 1960-an pernah menjabat sebagai Panglima Kodam X Lambung Mangkurat di Banjarmasin dengan pangkat Letnan Kolonel.

About these ads
6 Komentar leave one →
  1. Desember 26, 2010 6:31 am

    Tagal wayahni banyak lalakian ‘ kalah ‘ awan bibinian nang muha paruna. Sampai sanggup meninggalkan kaum kaluarganya. Kada mahirani papasanan kawitan. Kayaitu juga orang bibiniannya…. Wayah hudah banyak baubah napa. Mau haja disababkan arus budaya asing hudah sabati awan darah daging !.

    Dimapatuai, zaman tarus ligat bajalan manuju ‘ kiamat ‘…..

    Han..kaitu pang hudah. Apalagi mun nang laki bakajut sugih, parigalnya pina handak manambah bini ha sudah. Parahatan maitihi anak urang ingat anak saurang, tapi wayah maitihi bini urang kada ingat lagi bini saurang…damintu jua babiniannya imbah gajih ganal pada laki sudah bapiragah harat…”kesetaraan gender” jar.

  2. Desember 26, 2010 5:57 pm

    Wanita-wanita hebat, pemberi semangat laki-laki di medan perang.

    Di medan perang, wanita hebat tak takut pelor. Bagaimana di masa damai, mungkin lebih berani ya, bu bidan?

  3. Desember 27, 2010 8:43 pm

    Jadi ingat ibu ane bos :(

  4. Desember 29, 2010 10:54 pm

    Zaman perang saya tidak jumpa, mendengar berita-berita perang aje sudah gerun rasanya. Tetapi dunia masih belum aman lagi dan peperangan masih berlaku si sana sini.
    Bila agaknya zahir seseorang yang akan membawa kedamaian di dunia ini?
    He’s real and I’m waiting

    Semoga dunia aman dan damai

  5. Desember 30, 2010 12:24 am

    Sungguh tulisan yang membangkitkan jiwa nasionalisme kita ang telah sekian lama terpuruk bang, bahkan tanpa terasa darah ini mendidih dan gemetar akan membayangkan peristiwa terebut.

    Ya, semoga nasionalisme kita tambah bergelora memajukan negeri

  6. Januari 1, 2011 2:04 pm

    76 wanita itu adalah PAHLAWAN!!!

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

    Ya, pahlawan bagi kemerdekaan negeri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: