Lanjut ke konten

MENYOAL BAAYUN MAULID DI KOMPLEK MAKAM SULTAN SURIANSYAH

Februari 14, 2011

Oleh WAJIDI
……Orang Banjar dahulu mempunyai pamali atau pantangan dengan menyatakan jangan maayun anak dekat kuburan nanti kapidaraan….seharusnya di masjid agar anak yang diayun hatinya terpaut dengan masjid….

Pada hari Selasa, 15 Februari 2011 di beberapa tempat di Kalsel akan diselenggarakan tradisi baayun maulid yakni kegiatan mengayun anak (maayun anak) bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw (12 Rabiul Awal 1432 H). Baayun asal katanya “ayun’ yang diartikan “melakukan proses ayunan”. Bayi yang mau ditidurkan dalam ayunan biasanya akan diayun oleh ibunya Asal kata maulid berasal dari peristiwa maulid (kelahiran) Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, baayun maulid diartikan sebagai kegiatan mengayun bayi atau anak sambil membaca syair maulid atau bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw. Orang Banjar, kadang menyebut maulid dengan sebutan mulud, sehingga disebut baayun mulud atau ayun mulud.
Selain Kuin Utara Banjarmasin, tradisi baayun maulid tahun ini akan dilaksanakan di Masjid Jami Teluk Dalam, Banjarmasin, dan di Masjid Al Mukarramah desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara Kabupaten Tapin. Perbedaannya adalah jika di Teluk Dalam dan di Banua Halat bertempat di masjid, maka di Kuin Utara mengambil tempat di areal komplek pekuburan yakni Komplek Makam Sultan Suriansyah.

Pengaruh Tradisi Pra Islam
Prosesi maayun anak pada tradisi baayun maulid sesungguhnya menggambarkan adanya akulturasi budaya antara unsur kepercayaan lama dan Islam. Sebelum mendapat pengaruh Islam, maayun anak sudah dilaksanakan ketika masyarakat masih menganut kepercayaan nenek moyang (ancestor worship).
Tradisi asalnya dilandasi oleh kepercayaan Kaharingan. Dalam perkembangannya, upacara maayun anak mengalami akulturasi dengan agama Hindu dan Islam. Hal tersebut dapat dibedakan dari: (a) maksud dan tujuan upacara; (b) Pelaksanaan upacara; (c) Perlengkapan upacara; (d) Perlambang atau simbolika yang dipengaruhi oleh unsur-unsur kepercayaan Kaharingan, Hindu, dan Islam.
Berdasarkan tradisi asalnya, tata cara maayun anak dalam upacara baayun maulid sebenarnya berasal tradisi bapalas bidan sebagai sebuah tradisi yang berlandaskan kepada kepercayaan Kaharingan. Dan ketika agama Hindu berkembang di daerah ini maka berkembang pula budaya yang serupa dengan baayun anak yakni baayun wayang (didahului oleh pertunjukan wayang), baayun topeng (didahului oleh pertujukan topeng) dan baayun madihin (mengayun bayi sambil melagukan syair madihin).
Ketika Islam masuk dan berkembang, upacara bapalas bidan tidak lantas hilang, meski dalam pelaksanaannya mendapat pengaruh unsur Islam. Menurut Alfani Daud (1997) seorang bayi yang baru lahir dinyatakan sebagai anak bidan sampai dilaksanakannya upacara bapalas bidan, yakni suatu upacara pemberkatan yang dilakukan oleh bidan terhadap si bayi dan ibunya.
Selain dilaksanakan oleh masyarakat Banjar yang tinggal di perdesaan, upacara bapalas bidan juga dilaksanakan oleh orang Dayak Meratus. Setelah bayi lahir, orang Dayak Meratus kemudian melaksanakan upacara bapalas bidan, yakni memberi hadiah (piduduk) berupa lamang ketan, sumur-sumuran (aing terak), beras, gula dan sedikit uang kepada bidan atau balian yang menolong. Biasanya sekaligus pemberian nama kepada sang bayi. Termasuk nantinya saat anak sudah mulai berjalan (turun) ke tanah dari rumah (umbun) juga dengan upacara mainjak tanah, tetap dipimpin oleh balian.
Pelaksanaan bapalas bidan, biasanya dilakukan ketika bayi berumur 40 hari. Bapalas bidan selain dimaksudkan sebagai balas jasa terhadap bidan, juga merupakan penebus atas darah yang telah tumpah ketika melahirkan. Dengan pelaksanaan palas bidan ini diharapkan tidak terjadi pertumpahan darah yang diakibatkan oleh kecelakaan atau perkelahian di lingkungan tetangga maupun atas keluarga sendiri. Karena menurut kepercayaan darah yang tumpah telah ditebus oleh si anak pada upacara bapalas bidan tersebut.
Pada upacara bapalas bidan ini si anak dibuatkan buaian (ayunan) yang diberi hiasan yang menarik, seperti udang-udangan, belalang dan urung ketupat berbagai bentuk, serta digantungkan bermacam kue seperti cucur, cincin, apam, pisang dan lain-lain.
Kepada bidan yang telah berjasa menolong persalinan itu diberikan hadiah segantang beras, jarum, benang, seekor ayam (jika bayi lahir laki-laki, maka diserahkan ayam jantan dan jika perempuan diberikan ayam betina), sebiji kelapa, rempah-rempah dan bahan untuk menginang seperti sirih, kapur, pinang, gambir, tembakau dan berupa uang.
Karena memang berasal dari tradisi pra-Islam, maka di antara perlengkapan baayun maulid seperti ayunan dan piduduk mempunyai persamaan dengan perlengkapan langgatan pada acara tradisional aruh ganal yang yang dilaksanakan orang Dayak Meratus.
Ketika Islam datang ke daerah ini, acara bapalas bidan dan maayun anak tidak dilarang, hanya kebiasaan yang tidak sesuai sedikit demi sedikit ditinggalkan. Begitupula berbagai perlengkapan, maksud dan tujuan, dan perlambang (simbolika) juga disesuaikan atau diisi dengan nilai-nilai Islam. Maayun anak kemudian dilaksanakan bersama-sama di mesjid bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw.

Mengapa Harus di Mesjid?
Dibanding baayun maulid yang diselenggarakan di Kuin, tradisi baayun maulid di masjid Banua Halat sudah berlangsung lama, sejak ratusan tahun silam. Meski para ulama sepakat bahwa peringatan maulid nabi tidak pernah dilaksanakan di masa Nabi Muhammad Saw masih hidup, generasi sahabat, dan bahkan masa tiga generasi sesudahnya, namun umat muslim melaksanakannya sebagai pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya atas kelahiran Nabi Muhammad Saw yang membawa rahmat bagi sekalian alam. Adanya puji-pujian dan shalawat yang menyertai peringatan maulid nabi merupakan sebuah simbol akan kecintaan kepada nabi dan sekaligus harapan umat Islam yang selalu mengenang, meneladani kehidupan, dan mengharap syafaat dari Rasulullah kelak di yaumil akhir kelak.
Terlepas dari motif masing-masing peserta baayun yang nota bene diikuti oleh orang-orang tua, maka maksud maayun anak bersamaan dengan peringatan maulid nabi adalah untuk membesarkan nabi sekaligus berharap berkah atas kemuliaan Nabi Muhammad Saw, disertai doa agar sang anak yang diayun menjadi umat yang taat, bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta kehidupannya sejak kecil maupun dewasa hatinya selalu terpaut untuk selalu sholat berjamaah di masjid.
Mengacu kepada contoh penyelenggaraan baayun maulid di masjid Banua Halat, maka jelas sekali bahwa penyelenggaraan baayun maulid di komplek Makam Sultan Suriansyah yang nota bene komplek pekuburan kurang selaras dengan filosofi agar anak yang diayun hatinya terpaut dengan masjid. Apalagi orang Banjar dahulu mempunyai pamali atau pantangan dengan menyatakan jangan maayun anak dekat kuburan nanti kapidaraan (diganggu makhlus halus/roh orang mati).
Oleh karena itu, maka seyogyanya tradisi baayun maulid yang diselenggarakan sekitar 7 tahun terakhir di komplek Makam Sultan Suriansyah, hendaknya untuk tanggal 15 Februari 2011 mendatang dipindah lokasinya ke Masjid Sultan Suriansyah. Sedangkan lokasi yang ditinggalkan tetap dapat difungsikan yakni sebagai lokasi haul Sultan Suriansyah dan keluarga raja-raja Banjar lainnya.

About these ads
15 Komentar leave one →
  1. Februari 14, 2011 6:08 am

    proses akulturasi memangsangat panjang..memang tidak dapat menutupmata darikenyataan sejarah bangsa Indonesia.. agama dan budaya,mau tidakmau berproses..

    setuju :D

  2. Februari 14, 2011 11:01 pm

    Orang Banjar di Malaysia kadada maulah adat kayaitu. Tagal suku kaum Melayu memang ada maulah dingarani : Dendang Siti Fatimah ‘. Bejanya, Dendang Siti Fatimah tu kada diulah di masigit. Sahibar di rumah haja. Ada pulang syairnya dinyanyikan….Wayah diulah tu pulang , kakanakan handak dibari ngarannya ( potong jambul ujar orang Melayu ).

    Maklumat pian tu bagus, kawa dihabari ka kakanakan universiti nang maulah kajian akademik. Ada pang nang datangan batakun adat kabudayaan Banjar ka ulun….

    Salain di banua, ulun ada tabaca di wadah bagana bubuhan Banjar di Deli, Sumatera Utara ada jua manggawi ‘baayun maulid’

  3. Februari 15, 2011 11:58 am

    salam kenal dulu ah….terima kasih atas kunjunganya

    Terima kasih juga :)

  4. Februari 15, 2011 12:11 pm

    kemari untuk mengucapkan selamat menyambut Maulidur Rasul
    SSallualaika Ya rasulullah

    semuga kita mendapat syafaat beliau

    Aminn

    Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang meneladani Rasulullah Saw..

  5. Februari 16, 2011 2:05 am

    Assalaamu’alaikum mas Wajidi…

    Banyak pengetahuan dan maklumat yang saya perolehi tika membaca tulisan mas di atas. Apa yang saya tahu, tradisi pra Islam masih diamalkan oleh masyarakat Islam setelah kedatangan Islam dan diberi pengubahsuaian yang tidak bercanggah dengan ajaran Islam.

    Saya tertarik dengan amalan baayun maulid yang dijalankan di masjid2 Banjarmasin ketika hari maulidur rasul yang asal turun temurun dari tradisi pra-Islam. Amalan ini tentu berbeza-beza di tempat lain.

    Sepanjang kehidupan saya ini, tidak pernah saya melihat tradisi baayun maulid di tempat saya atau banyak tempat di Malaysia, yang ada hanyalah zikir maulid yang dilagukan di masjid atau surau. Kini juga dipertandingkan diperingkat kampung, daerah, bahagian, negeri dan kebangsaan sebagai aktiviti meraikan maulidur rasul. Untuk amalan berayun bayi ini hanya segelintir masyarakat sahaja yang mengamalkannya terutama di semenanjung malaysia. Di Sarawak, tidak ada.

    Kalau menurut mas Wajidi, iya setelah saya membaca beberapa maklumat di atas, sepertinya, jangan berayun di kubur kerana dibimbangi dirasuk atau kena badi makhluk halus yang memang jelas bercanggah dengan ajaran Islam. Apakah dengan mempercayai berayun di masjid yang berdekatan dengan kubur itu bisa juga membuat pengaruh kepada kemenjadian anak2 bila dewasa nanti. Mungkin pernah dibuat kajian tentang kesuksesan tradisi berayun kepada pembentukan akhlak mereka bila dewasa.

    Mohon maaf kalau persoalan saya kurang jelas dan perlu mas maklumi saya semula kerana untuk berbicara terus kita tidak dapat, jadi hanya melalui komentar hal ini bisa kita bincangkan.

    Sebenarnya banyak yang ingin saya tahu, tapi terbatas waktu untuk menulis. Terima kasih didahulukan buat mas Wajidi untuk kesudian menjawab persoalan saya di atas.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. :D

    Walaikum salam
    Umumnya mesjid-mesjid tua di Kalimantan Selatan berdampingan dengan komplek kubur/makam. Misalnya di Mesjid Banua Halat yang menjadi lokasi baayun maulid, di arah barat dan selatan terdapat kubur muslimin. Meski peserta baayun sangat banyak, 2000-3000 peserta sehingga sampai ke luar mesjid sehingga mendekati pekuburan, baayun maulid di Banua Halat pada intinya tetap dilaksanakan di mesjid. Namun, sewaktu-waktu ada juga orang yang kesurupan/dirasuki makhluk halus, namun mereka menganggap yang merasuki itu adalah datu-datu banua halat yang telah meninggal. Kalau di Kuin Banjarmasin, komplek makam Sultan Suriansyah (komplek raja-raja Banjar dan pemakaman umum letaknya cukup jauh dari mesjid sultan Suriansyah (terpisah sekitar 250 meter). Namun, di komplek makam, tepatnya di areal halaman dan kubah/cungkup makam raja-raja Banjar, traddisi baayun maulid dilaksanakan. Hal ini tentu tidak selaras dgn pantangan orang-orang tua dulu dan filosofi yang dikehendaki dari baayun maulid.Oleh karena itu, disarankan lokasi baayun maulid dipindah ke mesjid.
    Kajian tentang pengaruh baayun maulid terhadap pembentukan ahlakul karimah, sepengetahuan saya belum ada. Mungkin ada pakar yang tergerak hatinya untuk memulainya?
    Demikian, sedikit komentar saya. Salam mesra dari Banjarmasin :D

    • Februari 22, 2011 2:39 am

      Assalaamu’alaikum mas Wajidi..

      Telah membaca komentar balas mas dalam beberapa waktu yang lalu tetapi belum sempat menitip pesanan. Alhamdulillah, hari ini ada sedikit ruang waktu untuk menulis. saya berpuas hati membaca komentar balas mas tentang maksud yang saya soalkan di atas. Saya kagum benar dengan aktivitas maulid di sana ya sehingga melibatkan beribu2 orang. satu keadaan yang tidak pernah dilihat di Malaysia.

      Jika ada kebaikan yang diambil, diharap kebaikan itu menjadi pahala buat yang melakukannya. terima kasih ya mas untuk perhatian kepada pertanyaan saya. Senang dapat berinteraksi untuk perkongsian ilmu di sini. tulisan mas sangat mantap. saya selalu terkagum dengan gaya tulis dan buah fikir mas wajidi yang dilontarkan bagi menghasil sebuah tulisan ilmiah begini.

      Salut ya. Saya menghargainya. saya akui, saya belum mencapai kepintaran menulis sejarah seperti ini. Salam mesra selalu dari saya di Sarikei, Sarawak. :D

    • Januari 30, 2012 10:52 pm

      Saya bisanya cuman menyimak….

  6. gunawank permalink
    Februari 17, 2011 2:31 am

    Shallallaahu ‘ala sayyidina Muhammmad wa alihi wasalama.
    Apapun tradisinya, intinya dalam rangka mencintai beliau……..

    Salam kenal,
    by: http://gunawank.wordpress.com/2011/02/14/tugas-mulia-rasulullah-saw/

    Hakikatnya memang dalam rangka mencintai dan meneladani Rasulullah

  7. Februari 19, 2011 4:05 am

    waaahhhhhhh kayaknya ramai to sob………. klo ditempat menone ngerayain hari maulid nabi dengan kondangan bareng2 menunya buah2an……

    salam persahabatan dr MENONE

  8. Mei 14, 2011 11:46 pm

    Maaf,gambarnya to mirip acara ayun masal di Banua halat,kecamatan tapin utara,Kab Tapin.Mirip banget…

    Memang betul. Foto itu adalah baayun maulid di masjid Al-Mukarromah, Banua Halat Kiri, Kabupaten Tapin. Foto itu dipasang dalam konteks untuk menggambarkan bahwa upacara sejenis yang telah lama dilaksanakan di Banua Halat adalah bertempat di masjid. Oleh karena itu, mengacu kepada upacara yang ada di Banua Halat, maka sebaiknya upacara baayun maulid yang telah dilaksanakan dalam 7 tahun terakhir ini di kompleks Makam Sultan Suriansyah, sebaiknya dipindah ke masjid Sultan Suriansyah.

  9. macbeth permalink
    Januari 4, 2012 10:34 pm

    Wish I see there.

    You can see it in Banua Halat, Tapin district, on February 5, 2012

  10. Juni 16, 2012 5:02 pm

    terima kasih artikelnya, ini bermanfaat bnget untuk referensi tugas final kuliah aku

  11. iman budiman permalink
    Januari 25, 2013 7:09 pm

    Inilah indahnya Nusantara Indonesia….Alloh takdirkan Islam di Indonesia masih hidup dengan keberagaman budaya dan adatnya,sebagai umat muslim Indonesia sepatutnya kita arif dan bijaksana menyikapi semua fakta historik kita. Betapa Islam di nusantara ini lahir dan tumbuh setelah berakulturasi dengan budaya dan adat yang telah lama hidup. Justru dengan demikian, kekuatannya sulit tergoyahkan…Para Kekasih Alloh dahulu sangat arif menyampaikan Islam kepada bangsa ini sebagai agama Rahmatan Lil ‘alamin. Subhanalloh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: