Skip to content

DARI KERAJAAN TANJUNG PURA KE MASJID PUSAKA

Februari 19, 2009

Tanjung Pura yang kini dijadikan nama Komando Daerah Militer VI yang me­lingkupi empat Provinsi di Pulau Kaliman­tan, dianggap dahulunya sebagai kerajaan ter­tua yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Kerajaan Tanjung Pura dengan ibukotanya Tanjung Puri diperkirakan berada di daerah ali­ran sungai Tabalong yakni daerah Banua Lawas, Kelua atau Tanjung sekarang.
Pada masa lalu, daerah aliran Sungai Tabalong merupakan daerah konsentrasi koloni Melayu yang per­tama. Perpaduannya dengan kebu­dayaan orang Maanyan, Bukit kemu­dian Ngaju telah menghasilkan etnis Banjar dengan unsur Melayu yang lebih dominan.
J.J. Rass dalam Hikayat Banjar: A Study In Malay Historiography memperkirakan bahwa Tanjung Pura yang berada di sekitar Tanjung adalah koloni orang Melayu dari zaman awal Sriwijaya. Mereka berlayar memasuki teluk besar Barito dan masuk ke daerah Tabalong.
Ketika kerajaan Tanjung Pura diserang oleh imigran-imigran pelarian dari Jawa, maka pusat perdagangan beralih ke Amuntai (Negara Dipa). Perpindahan tersebut selain seiring dengan penguasaan dan pertumbuhan pusat-pusat politik dan ekonomi, juga berkaitan dengan proses geomorfologi yang mana terjadi pendangkalan yang cepat di hulu Sungai Tabalong.>Negeri Nan Sarunai<Dalam Negarakertagama kara­ngan Mpu Prapanca (1365) ada disebutkan tentang daerah-daerah yang terletak di sepanjang Sungai Negara, Batang Tabalong, Sungai Barito dan sekitarnya. Mpu Prapanca menyebut daerah tersebut berada di Nusa Tanjung Negara dan ini identik dengan pulau Hujung Tanah yang tak lain adalah barisan pegunungan Meratus yang men­jorok ke laut.
Mengenai serangan imigran pelarian Jawa, orang Maanyan yang mengaku mempunyai sebuah kera­jaan bernama Nan Sarunai di Kota Raden Amuntai sebagaimana dinyanyikan wadian suku itu, menyebutkan bahwa kerajaan Nan Sarunai han­cur karena “usak Jawa” atau sera­ngan Jawa. Mereka menyebut pe­nyerang tersebut dengan nama ”Maramjapahit”.
Hingga kini belum terungkap dengan jelas tentang hubungan antara kerajaan Nan Sarunai dengan Kerajaan Tanjung Pura atau kaitan­nya dengan pindahnya pusat kekuasaan politik dan ekonomi dari Tanjung Pura ke Negara Dipa.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa peristiwa yang tergambar dalarn nyanyian wadian tersebut berkaitan erat dengan perampas kekuasaan (usurpator) Raden Sekar Sungsang yang memindahkan pusat kekuasaan dari Negara Dipa ke Negara Daha.
Versi lain terdapat dalam tradisi lisan yang berkembang di daerah Banua Lawas dan sekitarnya yang menyebutkan bahwa tepat di lokasi Masjid Pusaka Banua Lawas yakni masjid tua berarsitektur tradisional beratap tumpang tiga, jauh sebelum agama Hindu dan Islam berkembang, sudah berdiri semacam pesanggra­han atau tempat pemujaan keper­cayaan Kaharingan suku Maanyan dalam bentuk yang sederhana.
Tempat pemujaan itu diang­gap sakral, dan man­faatnya terasa sangat penting bagi orang-orang Maanyan yang pada masa itu banyak bermukim di Banua Lawas.
Mereka kemudian menyebut daerah lokasi bangunan pemujaan tersebut sebagai Banua Lawas atau Banua Usang. Suatu kemungkinan menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat, kemunculan, dan berkembangnya daerah-daerah lain di sekitarnya berawal dari Banua Lawas ini.Kemungkinan peristiwa besar ter­jadi yang memaksa mereka harus meninggalkan kampung halaman dan bermukim atau membangun pemukiman baru, dan akhirnya mereka menyebut kampung yang ditinggalkan tersebut sebagai Banua Lawas.
Tradisi lisan yang berkembang di Banua Lawas menyebutkan bahwa sebagian orang-orang Maanyan menyingkir karena mereka tidak bersedia menerima Islam sebagai agama mereka.
Tetapi kemungkinan lainnya adalah berkaitan dengan para imigran pelarian dari Jawa yang datang aki­bat kerusuhan politik di daerah asalnya dan mendirikan kerajaan baru di pulau Hujung Tanah berna­ma Negara Dipa.
<Masjid Pusaka
Dalam Hikayat Lembu (Lam­bung) Mangkurat, Tutur Candi maupun Hikayat Banjar atau Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin disebutkan bahwa Negara Dipa didirikan oleh Mpu Jatmika, anak saudagar Mang­kubumi dari Keling. Ia mening­galkan Keling dengan kapal Si Prabayaksa dan diikuti oleh para pengikutnya untuk mencari atau mendirikan negara baru.
Sesuai dengan amanat ayahnya, bahwa mereka harus mencari negeri yang bertanah panas dan berbau harum yang kemudian ternyata adalah Pulau Hujung Tanah. Setelah tiba di pulau dimaksud, mereka kemudian mendirikan kerajaan Negara Dipa dan mendirikan Candi. Mpu Jatmika sendiri kemudian bergelar Maha­raja di Candi.
Istilah Keling menurut Van der Tuuk sebagaimana dikutip dari buku Banjarmasin susunan M. Idwar Saleh adalah berhubungan dengan Jawa bukan Kalingga di India. Di Jawa Timur terdapat sebuah distrik dengan nama Kaling serta dalam cerita-cerita Jawa sebagai alternatif dari Kuripan dan Jenggala. Sedangkan B. Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies mengidentifikasikan Keling dengan Kediri Utara.
Datangnya para imigran dari Jawa ke Pulau Hujung Tanah dilatarbelakangi oleh Perang Ganter (1222 M) yakni perang antara Ken Arok dengan Kertajaya (Raja Kediri). Dalam pertempuran terse­but Kertajaya tewas dan Kediri run­tuh. Ken Arok kemudian menjadi raja di kerajaan yang ia dirikan kemudian bernama Singosari.
Pengikut Kertajaya yang tetap setia atau tidak tahan atas perlakuan Ken Arok, melarikan diri ke pulau Hujung Tanah dan mendirikan Negara Dipa di pertemuan Sungai Negara dengan sungai Balangan. Dalam perkembangan selanjutnya Negara Dipa menjadi vazal dari kerajaan Majapahit, yakni kerajaan yang tumbuh sesudah runtuhnya Singosari.
Dalam Hikayat Banjar diterangkan bahwa Mpu Jatmika juga telah memerintahkan supaya Hulubalang Arya Megatsari dengan seribu ten­taranya menaklukkan daerah Batang Tabalong, Batang Balangan dan Batang Pitap. Dengan kekuataan yang sama, berangkat pula Tumenggung Tatahjiwa ke daerah Batang Alai, Batang Hamandit, dan Labuan Amas.<
Akibat penaklukan terhadap daerah Batang Tabalong, maka daerah Kelua, Banua Lawas kemu­dian menjadi daerah kekuasaan Negara Dipa yang berarti pula jaja­han Majapahit. Dalam Negara­kertagama karangan Mpu Prapanca disebutkan bahwa daerah Barito, Sawako dan Tabalong adalah jajahan Majapahit.
Peristiwa penaklukan tersebut disertai dengan proses penyebaran agama dan budaya Hindu, serta pengikisan kepercayaan atau budaya lama. Kemungkinan saja di lokasi bekas pesanggrahan dan pemujaan orang Maanyan kemudi­an didirikan tempat pemujaan bagi para penganut Hindu Siwa. Setelah Islam berkembang di lokasi ini kemudian didirikan Masjid Pusaka.
Menurut tradisi lisan, Masjid Pusaka Banua Lawas didirikan oleh Khatib Dayan bersama-sama dengan Datu Kartamina, Datu Sari Negara, Datu Sri Panji, Datu Rangganan dan datu lainnya yang telah memeluk agama Islam pada tahun 1625 M bersamaan dengan pendirian Masjid Pusaka Puain pada tahun itu juga dan pada saat itu Kerajaan Banjar diperintah oleh Sultan Inayatullah. Dilihat dari namanya, kemungkinan Datu Sari Nagara dan Datu Sri Panji sebelumnya memeluk agama Hindu. Menurut informasi, Masjid Pusaka Banua Lawas dipugar pada tahun 1669, 1769, 1791,1848,1932, dan terakhir tahun 1999 dan 2003 oleh Direktorat Linbinjarah.
Sudah sepantasnya situs masjid Pusaka Banua Lawas dipelihara dan diteliti secara mendalam baik yang berkenaan de­ngan arsitektur, sejarah maupun arkeologinya. Di belakang masjid misalnya terdapat tumpukan batu bata yang berada di sela-sela makam kuno yang hingga kini belum diketahui apakah merupakan bekas jirat sebuah makam ataukah bekas rerun­tuhan bangunan pemujaan di masa lampau. (wajidi).

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: