Skip to content

JAMANG RUMAH BUBUNGAN TINGGI DI ATAP MASJID

Februari 19, 2009

Dalam pengertian sederhana jamang adalah hiasan bertatah bakurawang (ukiran tembus) yang terdapat di ujung talang atap sindang langit termasuk palataran (surambi sambutan), atap anjung, dan puncak bubungan pada rumah banjar Bubungan Tinggi. Jamang pada Rumah Bubungan Tinggi disebut juga Rumbai Pilis, karena merupakan hiasan berukir pada ujung pilis. Sebutan jamang juga dikenakan untuk hiasan bertatah bakurawang yang terdapat pada jurai atap Rumah Balai Laki.

Selain pada rumah Banjar Bubungan Tinggi, hiasan sejenis jamang juga terdapat pada masjid kuno berarsitektur atap tumpang di Kalimantan Selatan. Hiasan sejenis jamang pada masjid yang lazim di sebut simbar, dapat dilihat pada atap Masjid Su,ada di desa Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Masjid Assuhada di desa Waringin Kabupaten Hulu Sungai Utara (sebagian jamang sudah rusak atau lepas), dan pada Masjid Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar, kini sudah tidak ada lagi, namun fotonya dapat dilihat di Museum Negeri Lambung Mangkurat.

Meski sama-sama bertatah bakurawang, bentuk jamang dalam beberapa variasi pada Rumah Bubungan Tinggi bentuknya berbeda dengan simbar yang terdapat pada masjid kuno beratap tumpang. Dalam hal penempatan, jamang pada atap anjung dan sindang langit Rumah Bubungan Tinggi adalah menyatu dan/atau merupakan ujung dari pilis, sedangkan simbar pada masjid beratap tumpang, ditempatkan di atas siku atap masjid, baik atap pertama, kedua, maupun atap ketiga. Sebagai pengecualian adalah pada simbar Masjid Sultan Suriansyah di desa Kuin Kota Banjarmasin, yang merupakan jamang Rumah Bubungan Tinggi yang dipasang di atap masjid.

simbar-sultan-suriansyah
Jenis jamang rumah Bubungan Tinggi yang ditempatkan pada atap Masjid Sultan Suriansyah

simbar2

Simbar Masjid Su’ada berada di atas atap dimana ujung pilis berada.

jamang1

Jamang pada atap sindang langit Rumah Bubungan Tinggi menyatu dengan pilis.


Masyarakat yang tidak mengetahui, akan mengira seperti yang terdapat pada Masjid Sultan Suriansyah itulah bentuk simbar masjid yang sebenarnya. Oleh karena itu, tanpa adanya kejelasan tentang kesalahan penempatan jamang rumah Bubungan Tinggi pada atap Masjid Sultan Suriansyah, dikuatirkan akan berdampak kepada pengaburan arsitektur masjid tradisional Banjar, lebih-lebih lagi jika masjid kuno beratap tumpang dan yang memakai simbar sudah tidak ada lagi akibat renovasi ke bentuk baru.

Apa yang dilakukan pemerintah untuk mengembalikan Masjid Sultan Suriansyah ke arsitektur kuno patut dihargai, meski dengan catatan bahwa apa yang dilakukan itu lebih mengarah kepada renovasi dengan penggunaan ornamentasi atau simbol arsitektur budaya Banjar. Atau bukannya restorasi (pemugaran) yang dilaksanakan secara ketat sesuai dengan prinsip-prinsip pemugaran benda/bangunan cagar budaya.

Jika renovasi Masjid Sultan Suriansyah dimaksudkan untuk mengembalikannya ke arsitektur kuno, maka seharusnya tidak akan terjadi penempatan jamang Rumah Bubungan Tinggi ke atap masjid, atau bentuk denah ruang mikrab persegi empat, karena umumnya ruang mikrab masjid beratap tumpang persegi enam.

Oleh karena itu, seyogyanya pelaksana renovasi benar-benar mengacu kepada arsitektur masjid kuno beratap tumpang, seperti Masjid Pusaka di Banua Lawas Kabupaten Tabalong, Masjid Su’ada di Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Masjid Assuhada di Waringin Kabupaten Hulu Sungai Utara, Masjid Sungai Batang Kabupaten Banjar, Masjid Tua Al Mukarromah di Banua Halat Kiri Kabupaten Tapin, dan Masjid Tua di Tamiyang Layang Kelumpang Selatan Kabupaten Kotabaru serta masjid tua di Desa Tanjung Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Sebagai referensi lainnya, pelaksana pemugaran seharusnya juga dapat melihat foto-foto lama masjid beratap tumpang yang pernah ada di Kandangan, Barabai, dan Amuntai koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde, Royal Netherlands, Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Leiden, Negeri Belanda. Untuk melihat foto itu tidak harus pergi ke Belanda, karena foto itu dapat dapat diakses/di-download secara gratis melalui website KITLV (www.kitlv.nl), namun jika mempublikasikan foto-foto tersebut perlu izin dari dan membayar kepada KITLV.

Selain itu, di beberapa buku juga terdapat foto lama masjid Al-Mukarramah di Martapura Kabupaten Banjar, serta foto lama masjid Sultan Suriansyah, meski bukan bangunan masjid saat pertama kalinya didirikan. Referensi lainnya adalah foto-foto masjid kuno beratap tumpang koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat di Banjarbaru.

Arsitektur Masjid Tradisional Banjar

Seiring dengan perjalanan waktu, banyak masjid-masjid tua di Kalimantan Selatan mengalami renovasi ke bentuk baru seperti kubah masjid model Timur Tengah, model Demak, atau modern sehingga semakin mengaburkan simbol-simbol arsitektur budaya Banjar yang terdapat pada bangunan masjid.

Seyogyanya selagi masih terdapat masjid-masjid tua yang belum tersentuh renovasi, perlu dilakukan kajian tentang arsitektur masjid tradisional Banjar.

Kajian itu dimaksudkan untuk mengetahui aspek historis dan arkeologis, struktur bangunan, ragam hias, bahan, tata letak, dan lingkungan pada masjid-masjid tua, dengan maksud untuk mengetahui arsitektur masjid tradisional Banjar seperti apa?

Hasil kajian itu nantinya adalah menghasilkan gambaran masjid berarsitektur tradisional Banjar yang dapat dijadikan rujukan bagi pemerintah daerah atau siapa saja dalam merenovasi/ membangun masjid yang sesuai dengan budaya Banjar.

Meski belum ada kajian khusus tentang masjid berarsitektur tradisional Banjar, mungkin paparan berikut dapat menggambarkan tentang arsitektur masjid beratap tumpang atau setidaknya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal sebelum dilakukan kajian mendalam tentangnya.

Meski sama-sama beratap tumpang (bertingkat), masjid tradisional Banjar Kalimantan Selatan mempunyai perbedaan dengan masjid tradisional Indonesia lainnya. Perbedaan tersebut terutama dalam variasi bentuk atap, ukiran atau ragam hias (ornamen) karena masing-masing dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan setempat.

Pada umumnya masjid tradisional Indonesia mempunyai atap seperti bentuk meru di Bali. Bentuk atap seperti itu, merupakan pengaruh dari arsitektur tradisional pra Islam, begitu pula dengan ornamen-ornamen selain kaligrafi banyak dipengaruhi oleh suasana lingkungan yang kaya dengan pepohonan dan bunga-bungaan.

Arsitektur masjid tradisional di Jawa tercermin dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibangun para wali penyebar agama Islam, yang kini diimplementasikan pada arsitektur tradisional bernuansa modern pada masjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila.

Di Kalimantan Selatan, masjid berasitektur tradisional atap tumpang yang kondisinya masih utuh (belum banyak berubah) tinggal sedikit di antaranya adalah Masjid Pusaka di Banua Lawas Kabupaten Tabalong, Masjid Su’ada di Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan masjid lainnya yang telah dikemukakan di muka.

Seperti halnya rumah adat Banjar, arsitektur masjid tradisional Kalimantan Selatan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan Kalimantan Selatan yang terdiri dari banyak rawa, sungai dan dataran tinggi yang penuh dengan pepohonan. Hutan dengan beraneka ragam tumbuhan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk, di antaranya untuk bahan bangunan dengan corak kebudayaan tersendiri dimana kebudayaan sungai merupakan hal yang dominan di daerah ini, utamanya bagi etnis Banjar, baik subetnis Banjar Pahuluan, Batang Banyu, maupun Banjar Kuala.

Selain itu, dari kayu-kayu itulah mereka tuangkan perasaan seni mereka dalam bentuk ukiran tradisional dengan motif bunga dan daun-daunan sebagai adaptasi kreatif terhadap lingkungan. Kayu ulin atau kayu besi yakni kayu khas Kalimantan yang mempunyai tekstur padat dan keras, merupakan bahan bangunan yang banyak dipergunakan dalam bangunan masjid tradisional, disamping kayu lanan, kayu kapur naga, dan kayu balangiran.

Konstruksi

Sesuai dengan kondisi alamnya, rumah panggung merupakan hal yang umum di daerah ini. Begitu pula dengan konstruksi rumah ibadah, pada mulanya berkonstruksi panggung atau berkolong yakni berdiri di atas tongkat-tongkat kayu ulin. Namun masjid yang berkonstruksi demikian, kini hanya tinggal dua buah yakni Masjid Su‘ada di Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Masjid Tua di Tamiyang Kelumpang Selatan Kabupaten Kotabaru. Sisanya telah mengalami perubahan karena lantainya diuruk dengan tanah atau beton berlantai ubin.

Bangunan induk berdenah segi empat dibangun dengan lantai menyatu dengan mikrab, tetapi mempunyai atap atau kubah tersendiri. Bangunan induk mempunyai atap tumpang tersusun tiga. Atap paling atas bentuknya meruncing lancip seperti piramida. Puncak atap selalu dihias dengan hiasan yang disebut dengan pataka (sungkul, molo) seperti terdapat pada masjid-masjid kuno atau bangunan sakral di Jawa, namun di sini variasinya lebih kaya sehingga sepintas terlihat seperti rangkaian bunga yang digarap dengan artistik.

Pada masjid yang sangat tua, pataka yang dipasang di puncak atap pada mulanya terbuat dari kayu ulin yang ditatah menyerupai putik bunga. Meski telah diganti dengan bahan logam putih mengkilat, bekas pataka dimaksud dapat ditemui di Masjid Pusaka Banua Lawas Kabupaten Tabalong.

Bekas pataka yang terbuat dari kayu ulin juga terdapat pada Masjid Basar (Besar) Pandulangan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Masyarakat setempat menyebutnya “Pataka Tiga Baranak” karena jumlahnya tiga dan dianggap mempunyai tuah. Sebelum bentuk atap diubah menjadi model bawang, pataka tersebut dipasang pada hiasan puncak atap bangunan induk, mikrab dan dipuncak panampil hadapan (pendapa).

Di setiap tingkat atap pertama, kedua dan ketiga terdapat pilis berukir, bermotif daun-daunan atau kembang di antaranya daun jeruju dan sulur-suluran. Begitu pula di setiap sudut atap (ujung bubungan) dihias dengan simbar yang mencuat ke atas dengan ukir-ukiran kombinasi antara motif bunga, daun-daunan dan kepala burung enggang yang disamarkan.

Bangunan induk ditopang oleh tiang utama (soko guru) dan tiang samping yang umumnya berpenampang segi delapan. Adakalanya pada bangunan induk terdapat tangga lingkar yang sangat jarang ditemui di daerah lainnya.

Di Kalimantan Selatan hanya ada dua masjid yang mempunyai tangga lingkar yakni Masjid Pusaka Banua Lawas dan Masjid Basar Pandulangan. Di Masjid Pusaka, tangga lingkar dibuat dengan sederhana terbuat dari bahan kayu dengan trap tangga berjumlah 12 buah dan melingkari tiang bulat hingga ke atas. Di ujung trap teratas terdapat semacam balkon.

Pengaruh Ragam Hias Pra Islam

Kerajaan Banjar berdiri tahun 1526 dengan bantuan kerajaan Demak. Sejak itu pulalah agama Islam berkembang dengan pesat ke daerah pedalaman dan turut mempengaruhi mitologi atau kepercayaan masyarakat setempat. Dalam perkembangannya, Islam turut mempengaruhi budaya setempat sehingga memberikan ciri dan identitas tersendiri dalam budaya Banjar. Anggota masyarakat dan kelompok etnik Maanyan, Ngaju, dan Bukit (Dayak Meratus) yang memeluk agama Islam lebih suka menyatakan dirinya sebagai orang Banjar.

Betapapun kuatnya perkembangan Islam, tidak lantas upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan lama hilang begitu saja. Perpaduan tradisi masih tertanam dalam masyarakat bangsawan dan petani. Upacara Manyanggar Banua yang kini masih dilaksanakan oleh sebagian penganut agama Islam, misalnya, sangat mengesankan sekali sebagai budaya pra Islam.

Seni ukiran yang dulunya berpijak pada konsep-konsep kepercayaan lama juga tetap diwarisi dan diterapkan dalam wujud seni bangunan rumah adat dan tradisional bahkan bangunan ibadah seperti masjid, tetapi dalam wujud disamarkan.

Selain itu kondisi lingkungan yang terdiri dari rawa-rawa, sungai, dan pegunungan yang kaya dengan pepohonan juga mempengaruhi ragam arsitektur dan ragam hiasnya.

Simbolisasi

Pengaruh ragam hias pra Islam, antara lain tampak pada arsitektur Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas Kabupaten Tabalong, yang dulunya dibangun Khatib Dayan beserta tokoh-tokoh Dayak Maanyan yang telah memeluk agama Islam.

Meski tidak lagi diyakini, konon atap tumpang tiga berpuncak merupakan perlambang (simbolisasi) dari wujud gunung, yang pada masa pra Islam merupakan suatu yang disakralkan sebagai tempat bersemayamnya arwah nenek moyang.

Hiasan puncak (pataka, sungkul, molo) pada masjid tradisional atap tumpang seperti pada Masjid Pusaka yakni berupa ragam hias kuncup bunga teratai juga sebagai perlambang dari pohon hayat. Dalam mitos penciptaan langit, bumi dan manusia, penganut Kaharingan (orang-orang Maanyan dan Ngaju) mengakui adanya Pohon Hayat yang melahirkan kesatuan serba dua, sifat jantan dan betina, terang dan gelap dan sebagainya.

Meski demikian, ada pula yang berpendapat, hiasan puncak itu tidak mempunyai makna atau tidak perlu dikaitkan dengan pohon hayat karena hanya sebuah model hiasan yang umum digunakan pada waktu itu.

Ketika agama Islam berkembang di daerah ini, konsep pohon hayat masih dipertahankan dan disimbolkan ke dalam bentuk hiasan puncak berupa pataka yang mempunyai makna bahwa sorga merupakan perjalanan terakhir dan tertinggi yang ditempuh manusia sejak ia dalam rahim, lahir, dan mati serta dibangkitkan kembali oleh Sang Pencipta.

Kepercayaan itulah yang menyebabkan bahwa bekas pataka Masjid Pusaka yang terbuat dan kayu ulin hingga sekarang masih dikeramatkan dan ada saja anggota masyarakat Maanyan yang menziarahinya.

Tetapi pada Masjid Basar di Pandulangan Kabupaten Hulu Sungai Utara, simbolisasi atap tumpang telah bergeser ke dalam konsep-konsep Islam. Empat tingkat atap pada masjid tersebut mempunya perlambang, bahwa: (a) Nabi Muhammad SAW mempunyai empat sahabat utama, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali; (b) Imam Besar yang mewujudkan empat mazhab besar dalam Islam yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali; (c). Empat tingkat menuju kesempurnaan keyakinan dalam Islam yaitu Syariat, Tharikat, Hakikat dan Ma’rifat.

Pengaruh ragam hias pra Islam, juga terlihat pada hiasan ujung talang masjid yakni jamang berupa ukiran burung enggang yang disamarkan. Burung enggang dalam bahasa Ngaju adalah tingang sebagai penggambaran sifat jantan; penguasa alam atas dalam kosmologi Kaharingan.

Begitu pula pada mimbar, pada hampir semua masjid tradisional, muka mimbar dihias dengan kalamakara atau banaspati yang disamarkan. Pada mimbar Masjid Basar di Pandulangan, terdapat panapih berukir kepala naga yang disamarkan. Menurut konsep kepercayaan Kaharingan, kepala naga merupakan perlambang penguasa alam bawah.

Nilai Sejarah

Sebagian besar masjid kuno di Kalimantan Selatan berusia lebih dari lima puluh tahun, sehingga selain mempunyai arsitektur yang khas dan menarik juga mempunyai nilai sejarah terutama sejarah perkembangan Islam dan sebagai basis perjuangan dalam mengusir penjajah Belanda di Kalimantan Selatan.

Seperti masjid Sultan Suriansyah di Kuin Utara Kota Banjarmasin, yang bentuknya tidak asli lagi, karena telah mengalami renovasi, merupakan masjid pertama dibangun pada masa awal berdirinya Kerajaan Banjarmasin. Bermula dari masjid itulah, Khatib Dayan yakni seorang ulama yang dikirim Sultan Demak untuk mengislamkan Pangeran Samudera, menyebarkan agama Islam ke daerah-daerah lainnya di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah sekarang.

Masjid Pusaka di Banua Lawas, menurut tradisi lisan merupakan masjid tertua kedua yang dibangun atas prakarsa Khatib Dayan bersama tokoh-tokoh masyarakat Maanyan yang telah masuk Islam seperti Datu Ranggana, Datu Sri Panji, Datu Sari Nagara dan Datu Kartamina. Pada masa Perang Banjar yang mulai meletus pada tanggal 28 April 1859, Masjid Pusaka merupakan basis perjuangan melawan Belanda di daerah Banua Lawas dan Kelua. Di daerah ini, perlawanan dipimpin oleh Penghulu Rasyid dan Baji Bador. Mereka mengobarkan semangat patriotisme dengan amalan zikir yang dikenal sebagai gerakan Baratib Baamal (berzikir dan beramal) dan menggunakan Masjid Pusaka sebagai tempat kegiatannya.

Di samping masjid Pusaka terdapat pekuburan muslimin yang juga tempat dimana jasad Penghulu Rasyid dimakamkan tanpa kepala yang gugur di tangan seorang penghianat.(wajidi).

Masjid Suada tampak dari arah barat

Masjid Su’ada di Wasah Hilir, berkonstruksi lantai panggung,beratap tumpang dengan hiasan pataka dan simbar, tampak dari arah barat.


5 Komentar leave one →
  1. Naimatul Aufa permalink
    Maret 3, 2009 8:19 pm

    Bagus bananar tulisannya… Lanjutkan tarus menulisnya…. utamanya tentang masjid tradisional Banjar, jarang ada yang nulis…

  2. bubuhanbanjar permalink*
    Maret 10, 2009 1:13 am

    ya…naimatul aufa, tks koment anda. Saatnya anda dengan Pak Bani atau siapa saja bikin buku ensiklopedi arsitektur rumah banjar…..gimana?

  3. Naimatul Aufa permalink
    Mei 11, 2009 2:53 am

    Insya Allah… Mohon Do’a dan Dukungannya..

  4. Kamal Ansyari permalink
    April 1, 2010 10:16 am

    Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, kalimantan selatan seperti datu ulin dan asal mula kampung ulin, legenda batu laki dan batu bini, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh dan bambang basiwara, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu patinggi di telaga langsat,legenda mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, datu kandangan dan datu kertamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaluddin mempertahankan benteng gunung madang, bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singakarsa di pandai, mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran dan datu balimau, kuburan tumpang talu di parincahan, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan pemberontak ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basyri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan.Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    Saya dukung anda

  5. Maret 1, 2014 6:57 am

    Keren bgus bget tulisannya pak.. infonya lengkap.. makasih banyak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: