Skip to content

A.A. HAMIDHAN DAN DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN ITU….

Maret 19, 2009

Oleh WAJIDI

Tanggal 17 Agustus merupakan hari yang “keramat” bagi bangsa Indonesia, karena tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, atau 17 Ramadan 1365 tahun Hijriah dibacakan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno didampingi Drs. Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat.
Banyak cerita dengan berbagai versi yang termuat dalam buku-buku sejarah dan memoar pelaku sejarah, sehingga nama-nama sepertri Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, B.M. Diah, Sajuti Melik, Adam Malik, Soediro, Sjahrir, Sukarni, Soewirjo, Wilopo, Abdul Gaffar Pringgodigdo, SK Trimurti, dan banyak lagi yang lainnya dikenal sebagai tokoh yang berjasa dalam peristiwa yang bersejarah itu. Akan tetapi, barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa seorang putera Kalimantan Selatan kelahiran Rantau, 25 Februari 1909, bernama Anang Abdul (A.A) Hamidhan turut menghadiri malam “penggodokan” naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di rumah Laksamana Maeda tanggal 16 Agustus 1945 yang sangat menegangkan itu, dan hadir pula pada Sidang Pleno PPKI tanggal 18 dan 19 Agustus 1945 yang mengesahkan UUD 1945 dan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta. Keterlibatannya itu dikarenakan ia merupakan satu-satunya utusan Kalimantan dalam keanggotaan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
Enam puluh empat tahun yang lalu, tepatnya tanggal 14 Agustus 1945, A.A. Hamidhan yang kala itu menjabat Pemimpin Redaksi Harian Borneo Simboen di Banjarmasin merangkap sebagai anggota Syu Kai Gi-in (semacam DPRD Provinsi Kalimantan) diberangkatkan oleh pemerintah Angkatan Laut Jepang (Kaigun Minseifu) dari Banjarmasin menuju Jakarta dengan pesawat terbang untuk memenuhi undangan PPKI.
PPKI yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945 untuk mempersiapkan kemerdekaan yang dijanjikan Pemerintah Tentara Pendudukan Jepang beranggotakan 21 orang termasuk A.A. Hamidhan yang mewakili Kalimantan. A.A. Hamidhan beserta anggota PPKI lainnya dari daerah Pemerintahan Angkatan Laut Jepang (Kaigun Minseifu) dan anggota dari luar Jakarta ditampung di Hotel Yamato (Hotel Des Indes).
Setelah menghadiri rapat pertama PPKI tanggal 15 Agustus 1945 di gedung Pejambon, maka sorenya, A.A. Hamidhan beserta anggota PPKI lainnya “dipaksa” dan dibawa para pemuda militan ke asrama mahasiswa di Prapatan untuk mendengarkan ceramah Sutan Syahrir tentang kemerdekaan Indonesia. Dalam ceramahnya Syahrir menerangkan bahwa berdasarkan siaran radio BBC, Amerika, dan Australia, tentara Jepang sudah kalah perang dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Oleh karena itu kita tidak perlu menerima hadiah kemerdekaan dari pemerintah Jepang. Kemerdekaan Indonesia harus kita bentuk sendiri dan kita umumkan ke seluruh dunia.
Setelah jauh malam, rombongan anggota PPKI diantarkan kembali oleh para pemuda ke Hotel Yamato namun namun di antara mereka banyak yang tak dapat memicingkan mata sehingga tak terasa malam pun berganti siang, dan tanggal 16 Agustus pun berlalu di tengah suasana tegang di antara anggota PPKI itu.
Menjelang tengah malam, para anggota PPKI kembali dijemput oleh para pemuda ke tempat kediaman Laksamana Maeda di Jalan Oranye Boulevard untuk keperluan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang pemuda yang menjemput itu adalah Adam Malik yang bersama-sama pemuda Sukarni juga termasuk anggota kelompok pemuda yang “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok dan memaksa kedua tokoh itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Kesaksian A.A. Hamidhan

Dalam memoarnya “Mengenang Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia” A.A. Hamidhan menceritakan —tentunya menurut sudut pandang sebagaimana yang ia rasakan dan ia lihat saat itu. Menurut A.A. Hamidhan bahwa keberadaan mereka di rumah Laksamana Maeda bukanlah merupakan sidang PPKI, akan tetapi lebih tepat kalau dikatakan berkumpul untuk mengetahui apakah yang menjadi kelanjutan dari hasil penculikan yang dilakukan para pemuda terhadap Bung Karno dan Bung Hatta. Memang keadaan waktu itu agak tegang, di sana sini hanya kedengaran bisik-bisik dalam ruangan dengan lampu-lampu ditutup kain hitam, maklum masih dalam keadaan perang. Di ruangan itu hanya ada kumpulan hadirin yang mengelilingi dua buah meja yang letaknya berjauhan, sehingga sukar untuk saling mengenali siapa yang hadir, di samping ada yang mengantuk maklum baru dibangunkan dari tidur.
Di dekat meja yang kami kelilingi, ada empat atau lima orang pemuda duduk di lantai yang sukar untuk dikenali, karena keadaan ruangan gelap. Beberapa kali kami silakan mereka untuk mengambil tempat di kursi yang masih kosong, akan tetapi mereka menolak. Sementara waktu terus berjalan dan diiringi dengan pertanyaan dalam hati, apakah yang akan terjadi. Menjelang jam dua dinihari, terdengarlah deru sebuah mobil memasuki pekarangan gedung tempat kami berkumpul. Dari dalamnya tampak turun Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr. Subardjo, diiringi oleh seorang pejabat Jepang. Mereka langsung menuju lantai atas untuk berunding dengan Laksamana Maeda tanpa memberikan keterangan sedikit juapun kepada kami.
Sudah barang tentu suasana bertambah tegang dan menimbulkan berbagai pertanyaan. Bisik berbisik pun bertambah ramai.

Sekitar setengah jam kemudian, mereka yang kami harap-harapkan itu turun dari lantai atas ke ruang kami berkumpul, dan mengambil tempat di keliling meja kami. Hanya pejabat Jepang yang tidak turut turun ke bawah.
Tampak Bung Karno memegang sebuah buku nota bertuliskan susunan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Semua hadirin berkumpul di meja dimana Bung Karno dan Bung Hatta duduk. Dengan suara seret tetapi cukup jelas Bung Karno mulai berbicara sebagai pembuka sidang, dengan keterangan bahwa di ruangan atas tadi bersama-sama Bung Hatta telah disusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang kemudian dibacakan dengan berdiri.
Kepada hadirin ditanyakan apakah kalian semua menyetujui? Dengan serempak hadirin mengatakan setuju. Sekali lagi Bung Karno bertanya: “Benar-benarkah saudara semuanya setuju?” Dengan suara gemuruh hadirin semuanya menyahut “setuju!”.
Kalau saudara semuanya setuju, apakah saudara-saudara bersedia untuk turut menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini?”. Disambut dengan serempak “sedia!”.
Tiba-tiba di antara pemuda yang tadi duduk-duduk di lantai berdiri dan berkata: “Apakah boleh kami meminjam sebentar naskah Proklamasi?”. Sepertinya Bung Karno sudah mengenal si pemohon itu, karena tanpa berkata sedikit juapun, naskah tersebut diserahkan. Semua pemuda tadi terus pergi dengan menumpang sebuah mobil, entah kemana perginya. Sementara itu Bung Karno berkata kepada hadirin bahwa naskah Proklamasi Indonesia Merdeka yang sudah kita setujui itu merupakan dokumen yang bersejarah dan mereka yang turut serta menandatanganinya akan dikenang untuk selama-lamanya.
Beberapa waktu kemudian, kedengaran deru mobil datang kembali. Pemuda yang tadinya meminjam naskah proklamasi, dengan diiringi para pemuda lainnya langsung menyerahkan kembali naskah tersebut dengan permintaan supaya naskah kemerdekaan Indonesia itu, hanya ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama rakyat Indonesia. Usulan tersebut disambut dengan suara bulat oleh hadirin.
Demikian sekelumit kesaksian A.A. Hamidhan yang terlibat langsung dalam malam penggodokan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hamidhan menyatakan bahwa detik-detik lahirnya kemerdekaan Indonesia pada waktu itu memang terasa dikejar-kejar dan tegang. Coba bayangkan, kata Hamidhan. Mulai tengah malam sampai hampir waktu subuh tanggal 17 Agustus 1945 bersama-sama “menggodok” susunan Proklamasi bertempat di kediaman Laksamana Maeda, dan kembali ke hotel, untung masih sempat makan sahur.
Sebagai utusan Kalimantan dalam peristiwa di rumah Laksamana Maeda itu, A.A. Hamidhan sebenarnya tidak sendirian karena ia didampingi adik kandungnya bernama A.A. Rivai. Tetapi karena namanya tidak tercatat sebagai utusan, maka A.A. Rivai tidak pernah disebut-sebut sebagai orang yang pernah menghadiri persidangan PPKI.
Ada satu peristiwa yang menarik lainnya yang perlu dikemukakan yakni penolakan A.A. Hamidhan untuk menjabat Gubernur Republik Indonesia yang pertama untuk Kalimantan. Padahal anggota PPKI dari luar Jawa semuanya diangkat menjadi Gubernur seperti Mr. Teuku Mohammad Hassan untuk Sumatera, Mr. I. Gusti Ketut Pudja untuk Sunda Kecil, Mr. J. Latuharhari untuk Maluku, dan Dr. G.S.S.J. Ratulangi untuk Sulawesi, bersama-sama gubernur lainnya yakni Sutardjo Kartohadikusomo untuk Jawa Barat, R.P. Suroso untuk Jawa Tengah, dan R.A. Surjo untuk Jawa Timur.
Penolakan Hamidhan untuk menjadi Gubernur Kalimantan sudah barang tentu mengherankan mereka yang hadir, sampai-sampai Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta bertanya: “Dan bagaimana dengan Saudara?”. Dengan tegas Hamidhan menjawab bahwa ia tetap di bidangnya sebagai wartawan.
Otto Iskandar Dinata yang kala itu khusus ditugaskan untuk mengadakan feeling pengangkatan para Gubernur Daerah di luar Jawa berkata: “Saya heran, hanya saudara yang tidak menerima untuk dijadikan Gubernur, sedangkan lain-lain utusan tidak ada yang menolak. Kalau begitu, siapakah yang saudara usulkan?”. A.A. Hamidhan mengusulkan Ir. Pangeran Mohammad Noor yang kala itu tinggal di Bandung sebagai pegawai tinggi Departemen Pekerjaan Umum untuk menduduki jabatan tersebut dengan pertimbangan akan dapat diterima oleh seluruh rakyat Kalimantan. Usulan Hamidhan itu diterima baik oleh Presiden Soekarno, karena terbukti dengan diangkatnya 8 Gubernur untuk 8 provinsi termasuk Ir. Pangeran Mohammad Noor sebagai Gubernur Kalimantan pada tanggal 5 September 1945.
Sebelum pulang ke Banjarmasin, Presiden Soekarno menyerahkan kepada A.A. Hamidhan Surat Keputusan pengangkatan Mr. Rusbandi sebagai Ketua KNI Daerah dan dr. Sosodoro Djatikusomo sebagai PNI Daerah Kalimantan. Kedua tokoh itu pun diangkat atas saran Hamidhan juga. Sedangkan A.A. Hamidhan sendiri diangkat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNIP) Pusat.
Begitulah sekelumit peranan A.A. Hamidhan dalam perjuangan kemerdekaan. Sebagai seorang yang berjuang terus menerus selama 18 tahun sebagai wartawan nasional (1927-1945) dan pernah 3 kali dihukum penjara kolonial, dan percetakan surat kabar miliknya Soeara Kalimantan dihancurleburkan oleh Algemene Vernielings Corps (AVC) Belanda menjelang kedatangan tentara Jepang di Banjarmasin, dan kemudian menjadi anggota PPKI dan KNIP, ia tidak merasa paling berhak untuk memangku jabatan yang ditawarkan. Bahkan sampai akhir hayatnya tanggal 20 Agustus 1997 ia tidak pernah sekalipun mendapatkan tunjangan pensiun dari pemerintah.
Dalam memoarnya, A.A. Hamidhan menyatakan bahwa apa yang ia lakukan itu merupakan suatu kewajiban sebagai bangsa Indonesia yakni turut memberikan sedikit sumbangan untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air. Dan mengenai penilaian terhadap dirinya, terserah kepada masing-masing pihak. Karena itu pula ia tidak mengharapkan supaya diakui sebagai “Perintis Kemerdekaan”, apalagi sampai diharuskan memajukan permohonan untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah.
A.A. Hamidhan memang telah tiada, namun ia telah meninggalkan nama dan sumbangan untuk kemerdekaan negeri ini . Di saat kita memperingati HUT Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus, barangkali hanya segelintir orang yang mengenang perjuangannya. Kita memang bersukaria merayakan hari kemerdekaan itu; dengan panjat pinang, lomba lari karung, tarik tambang, pameran pembangunan, dan lain sebagainya. Tidak salah memang, namun tahukah anda, di tengah kegembiraan itu masih banyak pejuang dan janda pahlawan kemerdekaan yang terhimpit di tengah kemiskinan ekonomi. Pahlawan sejati memang tidak mengharap balas jasa, akan tetapi generasi penerus wajib memperhatikan mereka. Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!

3 Komentar leave one →
  1. Bobby permalink
    Agustus 10, 2009 7:15 am

    Saya Cucu dari AA Hamidhan,, saya Putra dari Anak AA Hamidhan yang paling bungsu “Abdul Yazidhan”.. terima kasih telah membuat tulisan ini,, saya bangga mempunyai kakek seperti beliau,,, saya ijin copy tulisan ini di note saya,, dan akan saya terterakan nama anda disana..

    Terima kasih karena telah berkunjung ke blog yang sederhana ini. Salam saya buat bapak A. Yazidhan dan seluruh keluarga besar A.A. Hamidhan di mana saja berada…silakan dicopy semoga dapat memberikan manfaat…

  2. Abdul Faridhan permalink
    Agustus 11, 2009 4:14 am

    Yth Bp Wajidi,

    Terimakasih atas tulisan tentang ayah saya.
    Wassalam

    Sama-sama, terima kasih juga, semoga perjuangan A.A. Hamidhan menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa…

  3. Renny permalink
    Agustus 26, 2013 7:57 pm

    Saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: