Skip to content

JASMERAH

Juni 10, 2009

Barangkali banyak yang tidak mengetahui bahwa negara dan bangsa Indonesia lahir  adanya faktor sejarah. Begitupula halnya dengan Timor Timur, juga lepas dari pangkuan NKRI karena faktor sejarah.
Indonesia lahir karena historical accident. Ribuan  pulau yang  terbentang dari barat ke timur sepanjang lebih dari 5000 km (setara jarak Moskow ke London)  dan didiami oleh 360 suku bangsa yang menggunakan lebih dari 300 dialek bahasa, dapat bersatu karena merasa memiliki  kesamaan “nasib” dan  “sejarah”, yakni sama-sama dijajah dan menderita oleh penjajah yang sama, terutama oleh penjajahan Belanda.

Wadah persatuan, wilayah tempat bangsa Indonesia berada adalah wilayah Hindia Belanda sebagai hasil politik kolonial yang dipaksakan kepada daerah/pulau-pulau yang dikuasainya. Pemaksaan itu, di satu sisi  telah menimbulkan penderitaan, tetapi akibat dari itu telah menimbulkan kesadaran senasib dan sepenanggungan sebagai sebuah bangsa.

Indonesia adalah sebuah persatuan politik, bukan persatuan yang didasarkan faktor keturunan atau kesamaan etnis atau primordialisme sebagaimana dilansir oleh Karl Hausofer  dalam Teori Persatuan Darah-dan-Tanah (Blut-und-Boden Theorie). Itulah mengapa etnis Papua yang berasal dari rumpun Melanesoid dapat bersatu dengan etnis lainnya di Indonesia.

Sebaliknya yang terjadi di Timor Timur, meski secara etnisitas mempunyai persamaan dengan penduduk Timor Barat (Provinsi Nusa Tenggara Timur), dorongan untuk melepaskan diri dari NKRI lebih mengakar karena mempunyai nasib dan sejarah di bawah penjajahan portugis.

Perebutan  Pulau Sipadan dan Ligitan juga banyak diwarnai oleh data sejarah. Kedua belah pihak, baik Indonesia maupun Malaysia mengklaim berdasarkan peta-peta lama dan perjanjian yang pernah dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda dan Inggeris. Meski akhirnya Mahkamah Internasional memutuskan kedua pulau itu jatuh ke tangan Malaysia, karena kehadiran Malaysia yang terus menerus di pulau tersebut.

Sejarah pernah pula menjadi senjata bagi kelompok separatis  Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka beranggapan secara de facto Aceh tidak pernah dikuasai Belanda, dan  Belanda tidak berhak memasukkan Kerajaan Aceh merdeka sebagai daerah yang dikuasainya dalam Perjanjian dengan pihak Inggeris, dan apalagi diwarisi Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Presiden Soekarno dalam pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus 1966 pernah menyatakan agar bangsa ini “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Atau biasa disingkat dengan JASMERAH. Pesan singkat penuh makna dari sang founding father republik ini sekarang seolah tanpa makna. Sejarah pembentukan republik ini hanya dimaknai oleh yang tua renta, pejuang perintis dan veteran perang kemerdekaan yang kini sedikit tersisa.

Di kalangan muda, sejarah tak ubahnya urutan tanggal dan peristiwa, menghormat bendera, atau  untuk sekadar diperingati sebagai momen seremonial. Sedangkan makna hakiki dari peristiwanya itu sendiri jarang diungkap atau bahkan sama sekali tak disentuh.

Hal yang seperti itu barangkali terjadi di berbagai lapisan masyarakat Kalsel. Banyak diantaranya yang lebih mengetahui sejarah nasional dibanding sejarah lokal. Bahkan ada menghubungkan  peristiwa  Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan 17 Mei 1949  dengan Stadion Olahraga 17 Mei di Banjarmasin. Lebih ironi lagi, ketika masyarakat lebih mengetahui siapa Jenderal Ahmad Yani atau Pangeran Diponegoro dibanding Brigjend H. Hassan Basry atau Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional dari Kalsel).

Berbagai faktor menjadi alasan minimnya pengetahuan masyarakat terhadap sejarah lokal, diantaranya lantaran kurangnya  bahan bacaan sejarah daerah Kalimantan Selatan yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Padahal banyak sebenarnya tokoh dan peristiwa lokal yang sebetulnya sangat berperan dan bermakna namun tidak mendapatkan porsi yang selayaknya  dalam sejarah nasional karena dipandang tidak sejalan, atau kalau tidak ingin dikatakan  bertentangan dengan kepentingan atau sudut pandang penguasa (Orde Baru).

Sementara itu ada tokoh dan peristiwa dari  daerah lain  yang terasa ditonjolkan sehingga terlihat dominan dalam buku sejarah dan bahkan menjadi nama-nama  jalan di daerah ini. Sebut saja Jalan Ahmad Yani yang membentang dari Banjarmasin sampai Martapura. Ia memang dikenal penentang komunis dan menjadi korban G 30 S/PKI. Akan tetapi, kalau boleh dibanding, Brigjen H. Hassan Basry adalah tokoh lokal penentang komunis, bahkan dapat dikatakan seorang pionir karena selaku Penguasa Perang Daerah Kalsel ia telah melarang kegiatan PKI dan ormasnya di Kalsel pada tahun 1960 yang kemudian diikuti Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan.

Bagi pelupa sejarah, sejarah hanyalah masa lalu an sich, bukan untuk masa depan. Bagi mereka sejarah tidak perlu dipelajari, karena sejarah dianggap menjemukan.  Akibatnya, tanah dan air Indonesia, sebagai warisan sejarah para pendahulu tidak dikelola dengan baik. Yang penting bagi pelupa sejarah adalah  sibuk memperkaya diri, habis-habisan mengeksploitasi sumber daya alam tanpa peduli bahwa sumber daya alam itu amanah untuk anak cucu kelak.

Itulah mengapa seorang      Kapten Purnawirawan M. Amin Effendi, seorang tokoh pejuang  9 November 1945 di Banjarmasin, sebelum tutup usia berpesan agar rakyat Kalsel pintar-pintar mengelola sumber daya alam. Pesan itu barangkali lahir karena keprihatinan beliau melihat terkurasnya sumber daya alam seperti hutan dan batu bara, namun tidak memberikan kemakmuran yang berarti bagi rakyat Kalsel.

Sejarah memang tidak memberikan materi, akan tetapi muatannya adalah guru bagi kehidupan, dan seyogyanya  pemahaman terhadap sejarah akan mendorong peningkatan  rasa tanggung jawab generasi penerus terhadap masa depan bangsa dan negara. (copyright©wajidi).

8 Komentar leave one →
  1. Juni 11, 2009 4:06 pm

    Tulisan yang bagus didasari oleh landasan yang cukup membumi.
    —JAS MERAH—

  2. lukman permalink
    Juni 16, 2009 11:18 pm

    Imbas Politik Etis di Kal-Sel, seperti apa toh? soalnya saya tertarik sekaligus penasaran. kalau di jawa politik etis melahirkan tokoh sekaliber soekarno cs (lewat edukasi), sementara tokoh pergerakan kita sepertinya lahir karena bersentuhan dengan tokoh dijawa (lewat transmigrasi). ada nggak tokoh pergerakan kita yang lahir dari pendidikan barat? seperti ki hajar dewantara yang mengkombinasikan pendidikan barat dengan budaya lokal.
    terima kasih untuk info nya.

    • wajidi permalink*
      Juni 17, 2009 1:11 am

      Trilogi dari Politik Etis, “Irigasi, Edukasi dan Emigrasi. Kaitan dengan edukasi, maka persekolahan/pengajaran secara Barat dibuka termasuk di Kresidenan Afdeling Selatan dan Timur Borneo, namun pada dasarnya bukan bertujuan untuk mencerdaskan rakyat, tetapi untuk kepentingan mencetak pegawai-pegawai rendahan yang berpendidikan Barat, yang diperlukan Pemerintah Hindia Belanda maupun kaum pengusaha partikelir. Akan tetapi pengajaran secara Barat itu juga menimbulkan dorongan kepada kalangan bumiputera untuk mendirikan sekolah swasta (partikelir) dalam berbagai bentuk. Sekolah-sekolah itu umumnya dikelola oleh kaum pergerakan baik yang bercorak sekuler maupun keagamaan yang berorientasi kepada kebangsaan.
      Sekolah pemerintah maupun sekolah partikelir milik bumiputera umumnya melahirkan kaum cendekiawan, baik yang dikategorikan sebagai “elite tradisional yakni cendekiawan yang berasal dari keturunan pegawai pemerintah atau keturunan bangsawan, maupun yang dikategorikan sebagai “elite nasional” (elite sekuler maupun elite religius) yakni para lulusan sekolah partikelir atau sekolah agama yang berjuang untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsanya.
      Para elite nasional itulah yang karena keluasan wawasan, pengalaman, dan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa, berjuang menuntut perbaikan-perbaikan. Mereka berpendapat bahwa perjuangan akan lebih efisien jika menurut contoh-contoh Barat. Mereka tidak lagi mengadakan perlawanan bersenjata seperti yang pernah dilakukan oleh penguasa tradisional pada masa atau abad sebelumnya, melainkan berjuang melalui organisasi pergerakan. Banyak putera terdidik Kalsel yang kemudian menjadi tokoh pergerakan seperti Merah Johansjah, Mr. Tajuddin Noor, Amir Hasan Kiai Bondan, Anang Acil Kesuma Wira Negara, Housman Baboe, Mohammad Horman, Hadhariyah M, H. Ridwan Syahrani, Haji Matarip (H. Muhammad Arief Bakumpai) yang seorang pedagang, H. Japeri (ulama), Achmad Zakaria, H. Husein Razak dll.

    • syahrul permalink
      Agustus 24, 2010 5:48 am

      to lukman ;
      kita teralalu banyak di suapin bubur sejarah dari tanah jaawa yang notabene mengandung banyak kebohongan,,,

      banyak pejuang dari tanah kalimantan yang berjuang melawan penjajah tnpa menunggu komando dari jawa
      tanpa mengurangi rasa hormat tapi kebanyakan tokoh2 dr pulau jawa tampak lebih terkenal dan superior karena publikasi yang layaknya seoarang selebriti jaman sekarang

  3. lukman permalink
    Juni 16, 2009 11:22 pm

    Ir. P.M. Noor pernah sekolah di jogja & memimpin kal-sel dari sana. kemudian jeda banua kita dipimpin orang jawa yang ditunjuk langsung dari pusat (biasanya mantan TNI). baru kemudian ada tokoh nasional lagi yaitu KH.Idham Chalid. Setelah itu siapa lagi? benang merah nya itu dimana gitu lho?

    Untuk lebih memperdalam informasi, silakan baca buku saya: “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942″, dan buku “Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik”. Di kedua buku itu terpapar peran tokoh Kalsel dan luar Kalsel dalam merintis, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalsel…

    • wajidi permalink*
      Juni 18, 2009 1:49 am

      Ir. Pangeran Mohammad Noor: Gubernur pertama Provinsi Kalimantan, berkantor di jalan Paku Alam II, berseberangan dengan rumah Panglima Besar Jenderal Sudirman di Jogjakarta. Dilahirkan di Martapura, 24 Juni 1901. Pendidikannya adalah HIS (1917), MULO dan selanjutnya HBS (1923), lalu melanjutkan ke Sekolah Teknik Tinggi di Bandung lulus 1927 dengan gelar insinyur.
      Berhubung situasi politik yang tidak memungkinkan, sebagai gubernur ia tidak dapat menunaikan tugasnya untuk berada langsung di Kalimantan. Ia hanya dapat mengatur siasat perjuangan dari daerah Republik yakni Jogjakarta.
      Dalam rangka aksi gerilya bersenjata, ia membentuk dan mengirim pasukan MN-1001 yang daerah operasinya di Kalimantan Selatan dan Tengah periode 1945-1949.

  4. aqla permalink
    Juni 18, 2009 3:49 am

    mantap terus pa untuk nulis tentang sejarah n budaya urang banjar agar dunia mengathuinya, selamat buat pa Wajidi

  5. Kamal Ansyari permalink
    Maret 3, 2010 11:04 pm

    Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, kalimantan selatan seperti datu ulin dan asal mula kampung ulin, legenda batu laki dan batu bini, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh dan bambang basiwara, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu patinggi di telaga langsat,legenda mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, datu kandangan dan datu kertamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaluddin mempertahankan benteng gunung madang, bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singakarsa di pandai, mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran dan datu balimau, kuburan tumpang talu di parincahan, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan pemberontak ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basyri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan.Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    khasanah cerita rakyat sebagaimana saudara maksud itu ada yang dapat diklasifikasikan sebagai peritiwa dan tokoh sejarah yang benar terjadi seperti temenggung antaluddin, hassan basry, aluh idut, dsb. ada pula yang ia merupakan tokoh sejarah yang dapat dibuktikan keberadaannya namun riwayatnya bercampur aduk dengan fiksi, seperti datu patinggi, datu singakarsa, dsb. atau berupa legenda, mitos, dongeng, cerita rakyat yang disampaikan secara turun temurun dan sulit dibuktikan kepastian historis dan ia merupakan bagian dari folklore dan merupakan bagian dari budaya yang menarik untuk digali, didokumentasi, dan dikomunikasikan kepada masyarakat……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: