Skip to content

DARI PENJARA BANJARMASIN KE NUSAKAMBANGAN

Agustus 4, 2009

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan yang kini dijadikan tempat penampungan para terpidana kelas berat, pada masa revolusi fisik 1945-1949 pernah menjadi tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan dari Kalimantan Selatan (termasuk Kalimantan Tengah sekarang). Mereka yang dianggap musuh negara dan diadili oleh pengadilan kolonial, kalau tidak dibui di penjara Kandangan atau Banjarmasin sampai masa hukuman selesai, banyak pula setelah keluar dari sel dikirim kembali ke penjara Sukamiskin, Jawa Barat atau Nusakambangan, Jawa Tengah. Atau ke penjara besar lainnya di Jawa seperti penjara Kalisosok di Surabaya atau penjara Cipinang di Jakarta. bertempur
Perlakuan sipir di penjara Kandangan atau penjara Banjarmasin tak kalah kejamnya dibanding Nusakambangan. Di penjara lumrah saja mereka disiksa, dipukul, ditendang, dan bahkan distrom dengan listrik sampai cacat tubuhnya, sebagaimana dialami Aluh Idut, seorang pejuang wanita di penjara Kandangan.
Penjara penjara Banjarmasin tak kalah seramnya. Di penjara yang bekas lokasinya sekarang ini berdiri Kantor Pos Besar Banjarmasin, di tahun 1946-1947 penuh sesak dengan tawanan, yakni ketika Belanda melakukan operasi penangkapan besar-besaran terhadap pejuang kemerdekaan. Mereka yang mengalami mengatakan hanya berdiri, dan sukar bebas bernapas dan bahkan kelaparan karena makanan seringkali diberikan satu kali sehari dengan porsi sepiring dibagi empat, sehingga kulit pisang yang dilempar penjaga pun menjadi santapan dan rebutan. Di sini terdapat pula kamar tahanan, yang disebut “Kandang Kawat” tempat yang istimewa untuk tokoh-tokoh kriminal (pencuri dan copet), tempat mana yang berukuran 2 x 2 meter dihuni oleh tidak kurang 15 orang, dimana buang hajat di situ juga. Jika hendak tidur atau berebah harus bergantian duduk.
Selain penjara Banjarmasin, terdapat pula penjara yang berlokasi di lapangan terbang Ulin (bukan Bandara Syamsuddin Noor sekarang). Pada masa pendudukan Jepang, penjara di lapangan Ulin yang berada sekitar 28 km dari Banjarmasin merupakan tempat penjagalan kepala–kepala manusia —terutama terhadap komplotan Gubernur Dr. Haga yang ingin merobohkan kekuasaan Jepang— yang mana telah didapati 185 buah tengkorak, 30 orang mati karena disiksa, 26 orang lagi termasuk 5 orang perempuan dan 11 orang pegawai Binnenlands Bestuur yang dilakukan Jepang pada tanggal 20 Desember 1943.
Pada umumnya pejuang kemerdekaan asal Kalimantan Selatan yang dipenjarakan di Nusakambangan terjadi pada masa revolusi fisik 1945-1949. Sedangkan untuk masa sebelumnya yakni zaman pergerakan sampai tahun 1942 lebih banyak dikirim ke penjara Sukamiskin, Jawa Barat. Di antaranya yang pernah mendekam di penjara Sukamiskin adalah tokoh Parindra cabang Kandangan, H. Ahmad Barmawi Thaib yang dituduh persdelict. Begitupula H. Amir, H. Morhan, dan Abdulhamidhan, ketiganya tokoh Parindra cabang Amuntai, juga merasakan badan terkurung di sana setelah sebelumnya menjalani kerja paksa di Ampah, bahkan Edwar Sandan (Kepala sekolah Vervolgschool di Amuntai/Tabalong) meninggal saat mendekam di penjara Sukamiskin.
Ketika pemberontakan 9 November 1945 meletus di Banjarmasin yang diikuti peristiwa serupa di Marabahan 5 Desember 1945, di Barabai 19-20 Maret 1946 dan daerah-daerah lainnya di Kalimantan Selatan, Belanda membalasnya dengan melakukan penangkapan besar-besar terhadap para pejuang atau rakyat yang dicurigai.
Penjara pun penuh sesak. Tahanan yang kemudian diadili ada yang mendapat vonis bebas, namun lebih banyak yang mendapat vonis penjara selama 3 s.d. 18 tahun. Di antara mereka M. Nawawie Arief dan Al Hamdie Arief (dua dari tiga bersaudara pemimpin “Aksi Tiga Badangsanak” di Barabai). Berdasarkan keputusan Landraad Barabai bulan Juli 1947, M. Nawawie Arief divonis hukum buangan selama 18 tahun bersama adiknya Al Hamdie Arief 15 tahun di penjara Cipinang dan Nusakambangan.
Sebelumnya, Penjara Cipinang pernah juga menjadi tempat penahanan A.A. Hamidhan, tokoh pers Kalimantan Selatan yang dihukum selama 50 hari, karena kasus persdelict dalam surat kabar Bendahara Borneo yang terbit di Samarinda, Kalimantan Timur.
Lalu bagaimana dengan kondisi penjara Nusakambangan saat itu? Dalam tajuk surat kabar Kalimantan Berdjuang Sabtu dan Minggu, 10-11 Desember 1949 dengan judul “Dari Rimba Kalimantan ke Nusakambangan” diberitakan sebuah kesaksian dari mantan tawanan Nusakambangan. Ia adalah Ali Akbar, salah seorang 13 anggota pasukan payung yang pada tahun 1947 diterjunkan di desa Sambi di daerah Pangkalanbun, namun sekitar 40 hari kemudian terkepung pasukan Belanda di desa Mujang sehingga menewaskan 3 orang temannya.
Mereka semua ditangkap. Mula-mula dibawa ke Pangkalanbun, kemudian dibawa ke Banjaramasin, setelah itu dibawa ke penjara Bukit Duri Jakarta dan kemudian dikembalikan lagi ke Banjarmasin. Sesudah 1 tahun 2 bulan mendekam dalam sel, mereka mendapat putusan hukuman penjara 6 tahun di penjara Nusakambangan. Waktu itu, penghuni penjara Nusakambangan terdiri dari dua kategori yakni “orang hukuman” karena kasus kejahatan atau kriminal dan “orang tawanan” karena divonis melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda atau NICA (tahanan politik).
Ali Akbar menceritakan bahwa saat ia berada di Nusakambangan, penjara itu dihuni oleh sekitar 5000 orang-orang hukuman dan tawanan. Di Nusakambangan terdapat 12 buah bui (penjara), di antaranya ada yang dikenal dengan nama Bui Seng karena beratap seng (zink). Dalam sebuah bilik rata-rata diisi 35 orang. Pakaian yang dibawa harus dikumpulkan tidak boleh dibawa serta. Untuk keperluan sehari-hari diberi 2 lembar celana, 2 baju, 1 sarung, dan 1 kopiah. Alas kaki tidak diberikan, dan bahkan kelom pun tidak boleh dipakai. Tidur beralaskan tikar purun dan sebuah bantal kain berisi ilalang kering. Penerangan hanya dengan minyak tanah, sedangkan lampu listrik hanya ada di Jumplang (pusat penjara). Setiap pagi pukul 5 harus sudah bangun, cuci muka, jauh dari mandi karena air tidak cukup dan makan getok singkong. Dari jam 7 sampai jam 9 bekerja menurut vaknya. Pekerjaaan terberat adalah memecah batu, membuat jalan dan membabat rumput, tanpa henti selama 3 jam dan tidak boleh nengok kiri kanan. Perlakuan terhadap tawanan sangat kasar. Kata-kata “monyet anjing” dan sebagainya dari sipir bukan kata-kata yang mahal.
Tidak heran akhlak sipir penjara itu demikian kasarnya. Mereka umumnya bekas orang-orang hukuman yang juga sudah lama merasakan penderitaan dalam penjara itu dan oleh karena keberaniannya diangkat menjadi penjaga tawanan. Kebanyakan di antara mereka itu terdiri dari mereka yang dihukum karena membunuh orang.
Orang tawanan yang dituduh bersalah karena dianggap malas dan melawan perintah, selain mendapat ganjaran dimasukkan ke dalam sel gelap juga mendapat tambahan penderitaan, di antaranya mengangkat palu kayu seberat 40 kg selama beberapa jam, atau dipukul dengan pentungan. Tidak jarang orang tawanan itu pecah kepalanya, patah tulangnya, karena kerasnya pukulan itu.
Sejumlah orang tawanan dan hukuman yang tidak tahan lagi menderita dalam penjara Nusakambangan, ditambah oleh kerinduannya akan kebebasan, mencoba melarikan diri dari penjara dengan berenang menyeberang selat antara Nusakambangan dengan Cilacap. Ada yang bisa selamat menyeberang, tetapi tidak sedikit pula yang tenggelam ke dasar selat atau bertemu dengan patroli Belanda yang hukumannya tidak lain dari pelor!
Dalam rangka cease fire order, pemerintah Belanda berangsur-angsur membebaskan tawanan politik dari penjara-penjara di Jawa ke Kalimantan Selatan, termasuk diantaranya adalah M. Nawawi Arief yang dibebaskan Belanda bersama 76 orang lainnya pada tanggal 8 Oktober 1949. Sesama mantan tahanan itu kemudian membina organisasi PERBETA (Persatuan Bekas Tawanan) untuk bersama-sama mengabdi di alam kemerdekaan.
Demikian sekelumit kondisi penjara Nusakambangan di masa perjuangan kemerdekaan dahulu. Dari dahulu sampai sekarang sama-sama telah dihuni oleh narapidana dari berbagai latar belakang hukuman. Jika dahulu pernah dihuni oleh tahanan politik dan orang-orang hukuman, maka sekarang dihuni pula oleh narapidana kelas kakap karena kasus pembunuhan, narkoba, dan terorisme. Namun bedanya adalah jika para tahanan politik dijebloskan ke penjara karena memperjuangkan kemerdekaan, justru sebaliknya para koruptor, terpidana mati karena kasus pembunuhan, narkoba, dan terorisme sekarang ini masuk penjara Nusakambangan karena menodai alam kemerdekaan. (copyright©wajidi).

2 Komentar leave one →
  1. supangat permalink
    Oktober 21, 2010 2:12 pm

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    dengan mengucap syukur alhamdulillah, saya mengunjungi situs ini terasa kembali lagi ke kota intan khususnya dan kalimantan selatan pada umumnya. meskipun saya bukan orang asli banjar namun membaca tulisan-tulisan ini terasa berada di kabupaten banjar, karena saya pernah beberapa lama di kota intan, tepatnya di PP Hidayatullah.
    Terima kasih. Salam buat orang-orang Banjar.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Walaikum salam. Selamat datang…dan terima kasih telah berkunjung

  2. iqbal permalink
    Februari 19, 2011 9:14 pm

    kapupurunan ngituh kapala sipir ,ayu ja bakakalakuan situ hadang kam di dalam kubur

    Sabar-sabar…bujur kaina ada haja balasannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: