Skip to content

AIDAN SINAGA

September 24, 2009

Tokoh politik dari kaum republiken kelahiran Tarutung Sumatera Utara, 6 Maret 1906. Kehadirannya di Kalimantan Selatan dimulai ketika tahun 1935 menjadi guru HIS (Hollands Inlandse School) di Kandangan (tempat Hassan Basry bersekolah). Ia juga mengajar di HIS Banjarmasin dan guru sekolah Hutsu Cho-Gakko (pengganti MULO/Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di masa pendudukan Jepang.
Terjun ke dunia politik ketika bersama dr. D.S. Diapari mendirikan partai politik Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) dengan Ketuanya D.S. Diapari, Wakil Ketua I A.A. Rivai, Wakil Ketua II Aidan Sinaga. Sekretaris umum E.S. Handuran di samping pembantu lainnya.
Menyikapi Persetujuan Linggajati, maka Aidan Sinaga, E.S. Handuran dan A.A. Rivai menghadap Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta di Jogjakarta dan mengeluarkan surat pernyataan bertanggal 20 November 1946 berisi dukungan dan kesetiaan SKI terhadap Republik Indonesia
Perjuangannya bersama tokoh-tokoh SKI lainnya berhasil membelokkan suara dalam Dewan Banjar, sebuah badan legislatif bentukan Belanda, untuk kepentingan perjuangan.
Di Den Haag
Menjelang Konferensi Meja Bundar A. Sinaga bersama A.A. Rivai sebagai utusan BFO dari Dewan Banjar telah mengikuti persidangan antara Delegasi Republik Indonesia dan Delegasi BFO di Scheveningen dan ‘s-Gravenhage membicarakan persiapan Konstitusi RIS, dan diwakili A.A. Rivai telah membubuhkan tanda tangan pada Piagam Persetujuan Naskah Undang-undang Dasar Peralihan bernama Konstitusi Republik Indonesia Serikat yang dilampirkan dalam piagam tersebut. Mereka berdua selanjutnya mengikuti Persidangan KMB di Den Haag, dari bulan Agustus sampai kembali ke Jakarta dengan pesawat constellation KLM tanggal 9 November 1949. bersama utusan lainnya. Sesudah pengakuan kedaulatan, ia dipercaya sebagai walikotapraja Banjarmasin (1950-1958).

2 Komentar leave one →
  1. Desember 2, 2009 11:25 pm

    wah saya baru dnger nih…trims infonya…

    informasi lainnya ada dalam buku “glosarium sejarah lokal” dan “proklamasi kesetiaan kepada republik”

  2. Syahranie permalink
    April 20, 2010 7:08 am

    Kalau tidak salah peninggalan beliau yang monumental adalah Gedung PWI yang sempat menjadi Gedung Perpustakaan (Sekarang menjadi Hotel Batulis), gedung ini adalah tempat kami beristirahat setelah uyuh berjalan kaki dari Pasar Baru menuju pulang ke Pasar Lama. Lagi2 sulitnya kita memelihara / melestarikan bangunan2 yang mempunyai nilai sejarah seperti Gedung PWI ini dan menggantinya hanya dengan pertimbangan bisnis sesaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: