Skip to content

FORMAT KESENIAN MASYARAKAT BARU

Desember 15, 2009

Seiring dengan perubahan zaman yang tak terhindarkan, pergulatan para seniman kini semakin bergeser ke arah budaya kota (urban culture). Pergeseran tersebut terutama nampak di kota-kota besar. Walaupun demikian, pergeseran tersebut juga mulai nampak di hampir seluruh pelosok tanah air yang telah mengalami perubahan akibat keberhasilan pembangunan di berbagai bidang dan pengaruh globalisasi yang dipacu oleh cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama informasi.
Derasnya arus informasi yang disajikan oleh media cetak maupun elektronik, menjadikan dunia seolah-olah semakin menyempit atau masyarakat dan kebudayaannya semakin menyatu, serta tidak lagi dibatasi oleh faktor geografis dan politis. Berbagai peristiwa yang terjadi di beberapa belahan dunia dengan mudah ditangkap oleh penghuni belahan dunia lainnya. Seiring dengan proses pengglobalan, maka segala unsur berupa nilai positif maupun negatif dengan sendirinya akan mudah masuk dan turut mendorong serta mewarnai pergeseran-pergeseran tersebut.
Munculnya budaya kota juga tidak terlepas dari perubahan orientasi kehidupan masyarakat dan kebudayaan pertanian tradisional ke arah kebudayaan industri perdagangan yang mementingkan aspek komersial. Pergeseran orientasi pada kesenian terlihat dari adanya upaya mengkomersialkan karya seni dengan jalan memasukkan unsur-unsur baru yang oleh seniman inovatif sengaja dikembangkan sedemikian rupa sehingga selaras dengan selera dan kebutuhan masyarakat atau laku di pasaran. Kesenian seperti ini merupakan kesenian peralihan yang menghubungkan kesenian tradisi dengan kesenian kota.
Di kota-kota besar, kegiatan kesenian komersial sudah tak terbilang lagi seperti pameran lukisan yang menyebabkan perputaran mata uang yanq bernilai ribuan hingga jutaan rupiah, munculnya berbagai galeri atau bengkel seni pementasan teater dan eksperimentasi karya seni, promosi di luar negeri yang selain menampilkan kesenian yang berakar pada budaya bangsa juga menampilkan unsur-unsur seni yang dipandang relatif baru. Peristiwa kesenian tersebut merupakan suatu fenomena yang patut untuk dicermati dan diantisipasi secara positif sebagai suatu fenomena munculnya industri kesenian mutakhir, sebagai format dan kesenian masyarakat baru pasca lima puluh tahun Indonesia merdeka.
Sementara itu, pendukung kesenian tradisi yang konservatif terus mencoba mencari tempat pijakan guna mempertahankan fungsi dan eksistensinya yang dilematis di tengah berbagai macam perubahan. Berbeda halnya dengan kesenian Bali dan kesenian istana yang tetap mampu bertahan karena mutunya yang tinggi atau karena fungsi ritualnya yang masih berlangsung, maka hal tersebut tidak terjadi pada kesenian tradisi. Pada kesenian tradisi, semakin lama fungsi ritualnya semakin berkurang dan bahkan hilang sama sekali. Kalaupun ada yang bertahan, itu semata-mata disebabkan oleh kekuatan artistik dan daya hiburnya yang masih ada.
Setelah fungsi ritual kesenian tradisi memudar, dengan sendirinya penikmat seninya semakin berkurang dan ditambah dengan perubahan selera masyarakat yang semakin cenderung ke arah hiburan yang dipandang lebih modern dan murah, seperti film layar lebar, televisi, radio dan sejenisnya, maka eksistensi kesenian tradisi semakin sulit dipertahankan. Di saat kesenian tradisi masih berjaya, kebanggaan pendukungnya memang masih ada namun tatkala ditinggalkan oleh khalayak penggemarnya dan tak mampu lagi mengantisipasinya, maka dengan sendirinya sumber penghidupan senimannya semakin berkurang. Keadaan seperti itu kadangkala memaksa mereka untuk alih profesi ke bidang lainnya yang bukan bagian dari kesenian, yang dianggap mampu memberikan sumber penghidupan yang lebih baik.

Strategi Pengembangan
Sebuah karya seni yang ideal adalah kesenian yang dapat memenuhi kriteria-kriteria mutu seni, sekaligus mampu memenuhi dan mengikuti perkembangan selera masyarakat. Untuk mencapai tahap kesenian ideal tersebut, maka kesenian tradisi harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga “laku di pasaran” dengan tidak mengorbankan nilai-nilai essensial yang terkandung di dalamnya. Pengembangan kesenian tersebut dapat diarahkan kepada industri kesenian mutakhir yang tetap berwawasan budaya bangsa.
Perkembangan kesenian akhir-akhir ini yang terjadi di kota-kota besar, sebagaimana telah dipaparkan di muka, merupakan suatu fenomena munculnya industri kesenian mutakhir. Jadi sebagai kesenian masyarakat baru, maka format kesenian seperti itu bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dicapai dalam skala yang lebih besar di masa-masa yang akan datang. Yang penting sekarang adalah bagaimana merealisasi pengembangan dan turut menciptakan iklim yang mendukung tumbuh suburnya industri kesenian tersebut.
Yang dimaksud dengan “mutakhir’ dalam industri kesenian tidaklah berarti mengabaikan sama sekali kesenian yang “lama. Mutakhir di sini adalah membangun idiom-idiom yang lama yang dianggap atau diperhitungkan akan dapat berfungsi sebagai sumber ilham dan sarana komunikasi dengan masa lampau.
Pengembangan industri kesenian mutakhir dapat dilakukan dengan mempergunakan unsur-unsur seni yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Unsur dari dalam adalah menggunakan unsur-unsur kesenian daerah yang beraneka ragam yang tentunya masih mampu bertahan. Sedangkan unsur dari luar adalah menggunakan unsur-unsur baru yang positif yang berasal dari Kebudayaan asing.
Penggunaan unsur dari luar tidaklah mengambil unsur seninya semata, tetapi juga ilmu pengetahuan dan teknologinya seperti pemanfaatan manajemen, sarana dan prasarana terbaru, yang tentunya terlebih dahulu harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Pendek kata, dalam pengembangan industri kesenian mutakhir, segala unsur yang digunakan harus tetap berlandaskan atau tidak bertentangan dengan budaya atau falsafah hidup bangsa Indonesia.
Pada dasarnya pengembangan industri kesenian mutakhir dapat diarahkan kepada tiga bentuk, yakni: (1) Tetap mempertahankan kesenian tradisi sebagaimana adanya. Pengembangan hanyalah berupa pemberian fasilitas penunjang, seperti peralatan (sarana) dan prasarana yang sesuai dengan tuntut zaman; (2) Memperkaya kandungan kesenian tradisi dengan unsur–unsur baru yang positif dan mengolahnya sedemikian rupa dengan tidak mengorbankan nilai-nilai essensial yang dikandungnya. Umpamanya menggunakan beberapa dalang dalam waktu bersamaan di dalam satu pergelaran wayang kulit; (3) Mengambil unsur-unsur baru dari dalam maupun dari luar yang positif dalam penciptaan karya seni yang sama sekali baru.
Sebenarnya yang paling menentukan dalam pengembangan industri kesenian mutakhir adalah para seniman itu sendiri. Merekalah tentunya yang paling mengerti apa dan harus bagaimana melakukannya. Ini semua karena mereka telah memiliki pengalaman dan penjelajahan yang luas dalam dunia kesenian.
Hal mendasar yang diperlukan oleh para seniman dalam mengembangkan industri kesenian mutakhir adalah terdapatnya iklim yang memungkinkan para seniman dapat dengan bebas berkarya seni atau mengekspresikan seluruh kemampuan seninya, sehingga secara kontinyu dapat melahirkan karya-karya seni mutakhir.
Tak dapat dipungkiri, iklim kebebasan berkarya seni yang diberikan pemerintah selama ini masih terkesan hati-hati. Hal tersebut dapat dilihat dari seringnya karya-karya seni tertentu yang batal untuk digelar karena terhambat masalah perizinan. Atau seringnya terjadi kasus pencekalan yang dilakukan aparat keamanan terhadap seniman-seniman tertentu.
Pencekalan terhadap seniman-seniman yang jika dipandang dari sudut kesenian dapat mengakibatkan atau bahkan mematikan kreativitas seniman dalam berkarya seni, sebenarnya dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi pengaruh yang ditimbulkan oleh karya seni yang dianggap dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara atau mengganggu ketenteraman hidup masyarakat.
Kemungkinan yang menjadi salah satu faktor penyebab adalah masih adanya miskomunikasi antara para seniman dengan pemerintah. Seharusnya aparat pemerintah di bidang keamanan lebih sering berdialog dengan seniman atau perlu mendapatkan pengetahuan tentang kesenian sehingga mereka dapat mengapresiasi karya-karya seni demi mutunya sendiri. Dengan adanya kemampuan mengapresiasi, diharapkan penilaian terhadap baik-buruknya karya seni terhadap kemaslahatan masyarakat akan lebih dilandasi oleh pengetahuan yang tepat. Begitu pula, hendaknya para seniman perlu juga memiliki pengetahuan tentang perlunya ketahanan nasional atau berupaya untuk mengetahui aturan main serta lebih arif dalam menanggapi masalah kehidupan berbangsa dan bernegara yang memang berdimensi banyak.
Sekarang, setelah lima puluh tahun Indonesia merdeka, dan seiring dengan kemajuan serta kedewasaan kehidupan berbangsa dan bernegara, diharapkan kasus pencekalan terhadap para seniman atau karyanya tidak akan terjadi lagi. Apalagi dengan telah adanya kebijaksanaan pemerintah untuk mengubah “lembaga perizinan’ menjadi “lembaga pemberitahuan”, maka diharapkan pula nantinya akan lebih memacu kreativitas para seniman khususnya dalam berkarya seni atau mengekspresikan seluruh kemampuan seninya di masa-masa yang akan datang.

2 Komentar leave one →
  1. Desember 17, 2009 5:16 am

    Nice post …
    salam kenal dingsanak …

  2. Desember 21, 2009 9:49 am

    salam..emangnya kn skrg zmn milenium..budaya pun udh beda..

    makasih ya mas,udh dtg blog sy..kangen mau chat sama kamu..hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: