Skip to content

MUHAMMADIYAH DI KALIMANTAN SELATAN

Desember 24, 2009

Muhammadiyah pertamakali didirikan di Jogjakarta pada 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan (1868-1923).
Kapan dan dimana pertama kali Muhammadiyah tumbuh di Kalimantan Selatan belum dapat diketahui dengan jelas. Bila bertolak dari masuknya faham pembaharuan, maka proses ini telah berkembang sejak 1914 di Banjarmasin dengan didirikannya sekolah bernama Arabische School (kemudian menjadi Islamsche School) sebagai tempat penanaman faham pembaharuan oleh perkumpulan orang-orang keturunan Arab.

Sesudah Islamsche School, pada tahun 1916 didirikan lagi Al Madrasatul Arabiah al Walaniah di Seberang Masjid, dan Diniyah School di Sungai Kindaung pada tahun 1921. Sekolah-sekolah ini merupakan tempat persemaian pembaharuan Islam dan sebagian besar lulusannya menjadi simpatisan atau langsung menjadi anggota organisasi Muhammadiyah.
Pada tahun 1921 tiba di Banjarmasin Syekh Ahmad Surkati bersama-sama dengan utusan Kerajaan Saudi Arabia Syekh Abdul Aziz Al Aticy. Mereka menjadi pendorong pengikut pembaharuan di Banjarmasin seperti Muhammad bin Thalib, H. Ahmad Amin (Alumni Al Irsyad), H. Masykur, dan Yasin Amin. Bahkan H. Ahmad Amin dan H. Masykur akhirnya mendaftarkan diri menjadi anggota Muhammadiyah ke Pusat Pimpinan di Jogjakarta.
Pendorong pembaharuan di Banjarmasin bertambah ketika Maraja Sayuthi Lubis, utusan Centraal Sarekat Islam (CSI) datang ke Banjarmasin pada tahun 1921 yang dengan semangat dan keberaniannya terang-terangan menyatakan dirinya sebagai pengikut faham Abduh. Akibatnya jumlah tokoh pembaharuan semakin besar diantaranya H. Abdul Karim Corong, bahkan Mohammad Horman, Presiden SI cenderung kepada faham pembaharuan ini.
Meskipun faham Muhammadiyah telah masuk ke Banjarmasin sekitar tahun 1920, namun akibat kondisi masyarakatnya dan kurangnya kemampuan memenuhi persyaratan yang ditetapkan ditetapkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jogjakarta, maka Muhammadiyah lebih dahulu berdiri Alabio dan Kuala Kapuas daripada Banjarmasin.
Untuk daerah Martapura ajaran pembaharuan ini disampaikan oleh H. Muhammad Yusuf (Ustadz Haji Yusuf Jabal). Fatwa-fatwanya seirama dengan dengan faham-faham pembaharuan yang kemudian selaras dengan Muhammadiyah.
Muhammadiyah kemudian dapat berdiri pada tahun 1932 di Martapura berkat peranan H.M. Hasan Corong, seorang Ajunct Jaksa bersama dengan dua orang tokoh Arab, Abdullah bin Shif dan Ali Mubarak.
Di Alabio, cabang Muhammadiyah berdiri tahun 1925 diketuai Haji Jaferi. Tahun 1929 Muhammadiyah Alabio mengadakan Konperensi I yang dihadiri Pimpinan Pusat Muhammadiyah: A.R. Sutan Mansyur. Selesai konperensi beliau juga mengunjungi Muhammadiyah Kuala Kapuas dan Banjarmasin.
Berdasarkan surat ketetapan, Muhammadiyah cabang Alabio mendapat pengakuan dari pengurus besar berdasarkan Surat Ketetapan Nomor 253 tanggal 5 Maret 1930.
Sedangkan Muhammadiyah cabang Kuala Kapuas meski berdiri setelah Alabio, ternyata mendapat surat penetapan lebih dahulu yakni Surat Ketetapan No.128 bertanggal 1 Juli 1928, sedangkan Surat Ketetapan Muhammadiyah Banjarmasin Nomor 254 tertanggal 5 Maret 1930. Bermula dari Alabio inilah kemudian Muhammadiyah menyebar ke daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan, seperti Sungai Tabukan, Jarang Kuantan, Hambuku Hulu, Kelua, Haruyan, Kandangan, Rantau dan Barabai.
Tujuan terpenting dari Muhammadiyah ialah memurnikan faham-faham agama Islam yang dianggapnya telah banyak menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad SAW dengan semboyan yang tekenal “kembali kepada Quran dan Hadits”. Karena tujuan memurnikan itulah yang menyebabkan Muhammadiyah pada mulanya mendapat tantangan hebat di kalangan penduduk, meski kemudian akhirnya mendapatkan posisi penting di daerah ini karena kesungguhan para penganjurnya terutama berkat peranan eksponen intelektual muda Muhammadiyah yang dengan metode-metode dakwah tertentu telah berhasil menarik masyarakat Islam di kampung-kampung untuk menjadi pengikutnya.
Berkat prestasi yang dicapai Muhammadiyah di daerah ini, maka dilaksanakanlah Kongres Muhammadiyah ke-24 di Banjarmasin yang berlangsung dari tanggal 15 s.d. 22 Juli 1935 dihadiri oleh sekitar 400 orang peserta, dari seluruh perwakilan Muhammadiyah dan Aisyiyyah di Hindia Belanda.

2 Komentar leave one →
  1. Syahranie permalink
    April 20, 2010 6:45 am

    Kami adalah Jamaah Mushalla Al-Hidayah Pasar lama Banjarmasin, sebuah Mushalla berlantai 2 dan usianya cukup tua, menurut senior kami mushalla tersebut pernah dikunjungi oleh tokoh Muhammadiyah yaitu Mr.Kasman Singodimejo pada saat pelaksanaan muktamar muhammadiyah tahun 1935 tersebut. Yang tertinggal hanyalah peralatan lama yaitu tempat penyaringan air wudhu dan rantang bertulisan PKU digrafir pada pinggirannya.

Trackbacks

  1. Melacak Sejarah Muhammadiyah di Tanah Banjar – Sang Pencerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: