Skip to content

BANJARMASIN (JANGAN MENJADI) KOTA “SERIBU PARIT”

April 20, 2010

Sejak dahulu Kota Banjarmasin dikenal sebagai kota “Seribu Sungai”, karena di kota ini banyak terdapat aliran sungai. Kota ini sering juga disebut “Kota Air” karena air menjadi urat nadi dan pendorong tumbuh dan berkembangnya Kota Banjarmasin. Secara geografis Banjarmasin memang terletak di daerah aliran Sungai Barito dan Sungai Martapura yang memiliki banyak kanal (anjir/antasan, handil dan saka).
Kanal-kanal itu berfungsi ganda, selain untuk kepentingan pertanian sekaligus sebagai prasarana transportasi, juga sebagai penampung dan penyalur air pada saat pasang, sehingga dapat mengurangi luapan air serta menghindari banjir. Bahkan kanal juga berfungsi sebagai perlindungan untuk kepentingan pertahanan yang dibangun mengelilingi benteng sebagaimana terdapat pada Benteng Tatas, yang di bekas lokasinya kini berdiri Masjid Sabilal Muhtadin.

Oleh karena itu, Kota Banjarmasin terbangun dan membangun dirinya bermula dari aktivitas pelayaran sungainya. Kota yang diperkirakan mulai berdiri pada perempat kedua abad ke-16 ini awalnya dibangun di daerah muara tepian sungai Kuin dan Alalak dengan ditandai berdirinya “keraton” Kesultanan Banjarmasin. Istilah Banjarmasin sendiri diduga berasal dari kata “rumah yang berbanjar” yang menghadap sungai yang ketika musim kemarau mendapat intrusi air laut sehingga berubah menjadi asin (masin, bahasa Banjar).
Selain sebagai pusat kesultanan, kota Banjarmasin —tepatnya di delta atau Pulau Tatas—juga pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Baru kemudian sejak tahun 1956 Banjarmasin menyandang predikat ibukota Provinsi Kalsel.
Kini secara perlahan namun pasti transportasi sungai mulai ditinggalkan dan beralih ke transportasi darat. Perubahan budaya juga berimbas kepada sistem ekonomi perdagangan yang mengedepankan faktor efisiensi yang cenderung mengabaikan faktor ekologi dan kondisi alam. Apabila dahulu lalu lintas berorientasi ke sungai sehingga memunculkan budaya pasar terapung di Muara Kuin atau banyaknya warga yang menjajakan dagangannya dengan perahu di sungai-sungai kecil. Tapi kini aktivitas perdagangan sungai mulai meredup; tidak seramai dahulu lagi karena orientasi kegiatan ekonomi perdagangan berpindah dari sungai ke daerah daratan, seiring dengan semakin membaiknya lintas tranportasi jalan di sekitar pasar terapung tersebut.
Kini seiring dengan peningkatan populasi penduduk dan pembangunan infrastruktur jalan darat, maka pola perkampungan juga mulai bergeser menghadap ke arah darat yakni berderet saling menghadap ke jalan. Jika dahulu teras depan rumah menghadap ke sungai sebagaimana terlihat dari keletakan bangunan rumah Banjar berbagai tipe di Sungai Jingah dan Kuin dan mereka melakukan aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di lanting, maka rumah-rumah yang dibangun di pinggir sungai di kemudian hari, teras depannya menghadap ke darat, sedangkan bagian “pedapuran” termasuk WC berada di atas pinggiran atau bantaran sungai. Di sungai lah mereka membuang hajat dan di sungailah sampah rumah tangga dibuang.
Akibatnya, sungai-sungai di kota Banjarmasin kini tercemar berat karena sudah menjadi tempat pembuangan sampah. Sungai-sungai kecil pun semakin hari semakin menyempit, sehingga lebih layak disebut parit.

Pengunjung blog ini yakni Pak Syahranie mengenang kembali masa-masa kecilnya yang akrab dengan kehidupan sungai, dan memimpikan kota Banjarmasin kembali seperti dahulu yang lekat dengan budaya sungai. Namun kenangan dan impian itu kini berbaur dengan perasaan sedih ketika melihat kondisi sungai di kota Banjarmasin.

Pak Syahranie menulis:
Apakah salah apabila kami mengimpikan pada hal-hal yang telah kami alami sekitar tahun 70an dulu, ketika sungai2 besar dan kecil di dalam kota banjarmasin masih dapat dilalui perahu2 yang menjajakan dagangannya sehingga ibu kami tidak perlu pergi jauh2 dan menambah ongkos angkut ketika berbelanja karena sungai di belakang atau di depan rumah masih dilalui perahu, seperti sungai di Teluk Dalam diwaktu itu mampu dilalui jukung tiung ukuran sedang membawa pasir dan sungai2 lain dimana kami dulunya bisa terjun bebas tanpa takut adanya hal2 yang membahayakan. Sekian orang sudah yang memerintah kota banjarmasin tetapi tidak ada satupun yang perduli dengan keberadaan (kondisi) sungai yang ada. Kalaupun ada sepertinya kandas ditengah jalan (entah tidak ada dananya atau tidak ada “duit”-nya).
Ingin rasanya kami sepeti dulu tidak perlu jauh2 pergi ke pasar terapung hanya sekedar untuk makan di atas perahu, karena sungai di dalam kota sudah berseliweran perahu2 pedagang bermacam makanan (kasihan mereka tersingkir hanya karena sebuah kebijakan pembangunan kota yang tidak berpihak kepada mereka)

3 Komentar leave one →
  1. Desember 21, 2010 2:40 am

    Banuaku sayang, banuaku malang. Euuuhhh,,,, sudah dandaman banar ulun lawan banua. Handak lakas ka sana.

  2. macbeth permalink
    Januari 4, 2012 10:21 pm

    Too much contradictive thing, such as like glamorous performance but dislike keep clean the environment, city of thousand river but river become ass of the home (close to kitchen and waste area), proud with the river but throw the garbage there. Keep religious but rarely practice cleanlines as part of faith in one religion. Some tourist or expatriat like Banjar as they could see the controversy live together, poverty but lots of smile, such crowded trafic but so colorful.

    We describe above as a improvement that we know it actually, as ever stay there, like Banjar song though never know the meaning. One thing make me smile as the spot of government – clean, green but erase one word healthy. May it reflective the real culture there, no need to deny the statement but keep on moving on waste management in the city.

    with love

    I agree with your opinion, that too much of a contradiction in Banjarmasin. Thank you for your visiting my blog …🙂

  3. Agustus 25, 2015 7:10 pm

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Aerilyn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: