Skip to content

MUSYAWARATUTTHALIBIN

Mei 12, 2010

Musyawaratutthalibin (Moesjawaratoetthalibin) merupakan organisasi Islam lokal terbesar di Kalsel pada masa pergerakan kebangsaan. Dikatakan lokal karena pertama kali didirikan oleh putera daerah di Kalsel. Dikatakan terbesar karena mempunyai anggota dan cabang yang sangat banyak di daerah lain terutama di daerah komunitas Banjar berada seperti Kaltim, Kalteng, pesisir Sumatera seperti Tembilahan, Enok, Sapat dan Kuala Tungkal. Oleh karena cabangnya sampai ke luar Kalsel, maka ada pula yang mengatakan Musyawaratutthalibin sebagai organisasi nasional seperti halnya Sarekat Islam, NU atau Muhammadiyah.
Secara harfiah, “Musyawaratutthalibin” diartikan sebagai organisasi para pelajar atau kaum terpelajar yang menginginkan adanya permusyawaratan. Keinginan itu lahir karena meluasnya percekcokan dalam masyarakat, terutama menyangkut soal-soal agama antara “kaum tua” dan “kaum muda”.
Musyawaratutthalibin berdiri di Banjarmasin pada tanggal 2 Januari 1931. Tokoh-tokoh pendirinya adalah Haji Ridwan Syahrani, Haji Majedi Effendi, Haji Amin dan mendapat dukungan dari para alim ulama, guru-guru agama, penuntut-penuntut ilmu di Banjarmasin.
Pengurus organisasi Musyawaratutthalibin di Banjarmasin, Mei 1932.Duduk dari kanan ke kiri H. Ridwan Syahrani, Muhammad Zein, Salim Jindan (tamu/ulama dari Hadramaut, deretan ke-5), Busra Kasim (deretan ke-7), Saleh Ghani (deretan ke-8). Berdiri dari kanan, H. Anwar Hasan (deretan ke-10) di depan gedung Musyawaratutthalibin, Jalan Pasar Lama (Jl. Andalas) Banjarmasin. (Di bekas lokasi, kini berdiri Masjid Al Musyarrafah, Jalan Perintis Kemerdekaan).

Organisasi ini berfaham keagamaan yang berdasarkan Islam, dan tujuannya sebagaimana tercantum dalam statuten-nya pasal dua antara lain bekerja untuk kesempurnaan ummat Islam dengan jalan membangunkan persatuan Islam terutama guru-guru, ulama-ulama, penuntut-penuntut ilmu khususnya dan kaum muslimin umumnya, dan memajukan dan menggembirakan cara hidup dengam mengamalkan segala perintah Islam.
Seperti kata Haji Ridwan Syahrani pada saat pembentukan organisasi ini bahwa dibentuknya Musyawaratutthalibin ini adalah untuk membentengi faham ahlussunnah wal jamaah dengan mewujudkan dan menggembirakan cara hidup dan kehidupan dengan mengamalkan segala perintah Allah yang sudah umum dikerjakan oleh ummat Islam di Indonesia dengan mazhab Imam Syafii berdasar Quran, Hadis, Idjma dan Qiasy.
Karena organisasi ini bermaksud membangun persatuan Islam jelaslah adanya keinginan akan kerukunan dalam beragama oleh masyarakat, maka mulai dari golongan pemuda dan pelajar beramai-ramai memasuki Musyawaratutthalibin.
Dalam perkembangannya organisasi mempunyai cabang yang sangat banyak di Kalimantan Selatan, bahkan sampai ke pesisir Sumatera seperti Tembilahan, Enok dan Kuala Tungkal, di tempat mana terdapat permukiman orang-orang Banjar perantauan.
Adapun cabang-cabang yang sudah berdiri sampai tahun 1936 adalah cabang–cabang Banjarmasin, Kuin, Kandangan, Barabai, Amuntai, Kalua, Samarinda, Balikpapan, Sanga-Sanga Dalam, Kotabaru, Samuda, Senakin, Alabio dan cabang Tembilahan.
Sampai tahun 1942 organisasi Musyawaratutthalibin melaksanakan beberapakali kongres yakni Kongres I tahun 1934 di Banjarmasin, Kongres II tahun 1936 di Kandangan, Kongres III tahun 1937 di Amuntai dan Kongres IV tahun 1938 di Balikpapan.
Hasil Kongres ke empat di Balikpapan, selain memperbaharui pengurus baru juga berhasil memantapkan struktur organisasi yang terdiri dari: Pengurus Besar yang membawahi Pengurus Harian dan Pengurus Bagian (Departemen) yang terdiri dari badan-badan yakni Badan Majelis Syar’iy, Badan Majelis Pengajaran dan Pendidikan, Badan Propaganda, Badan Komisi Mengumpul Rancangan-Rancangan Aturan Nasrul Umum, Badan Pengurus Stapeldrukkerij, Badan Pendirian Drukkerij M.Th (Musyawaratutthalibin), Badan Pers Commisie dan Badan Perpustakaan.
Melalui badan-badan itu, selain bergerak dalam bidang keagamaan juga bergerak di bidang sosial antara lain dengan mengadakan kursus-kursus kerajinan, pemberantasan buta huruf. Bagian terkenal dari organisasi ini adalah Badan Majelis Pengajaran dan Pendidikan yang program kerjanya menggiatkan berdirinya sekolah-sekolah.
Sekolah-sekolah yang dibina oleh Musyawaratutthalibin seperti sekolah-sekolah Safiiyah, Kepanduan Nasrul Umum untuk bidang kepemudaan dan Dawatutthalibin untuk kelompok laki-laki serta Jami’iyyatunnisa untuk kelompok wanitanya yang bergerak di bidang propaganda agama melalukan melalui Badan Majelis Proganda yang dipimpin oleh Haji Abdullah Sidiq, melakukan propaganda-propaganda agama dalam rangka menjunjung tinggi Al Quran, Hadist, Idjma dan Qiasy serta menolak keras serangan ahlul bid’ah waddhalalah baik di tempat terbuka, di masjid maupun langgar. Usahanya di bidang agama ditemui pula pada pembentukan kader-kadernya di setiap sekolah “musyawarah” yang terdapat pada setiap cabang-cabangnya di daerah.
Di bidang sosial kegiatan Musyawaratthalibin selain dilaksanakan melalui badan-badan juga melalui organisasi seperti Kepanduan Nasrul Umum, Dawatutthalibin, dan Jami’iyyatunnisa. Mereka melaksanakan kursus-kursus buta huruf, kerajinan tangan, dan mengumpulkan biaya pendidikan bagi anak yang cerdas yang kesulitan biaya, bahkan mengadakan percetakan dan menerbitkan surat kabar yakni “Suara MTh atau Suara Musyawarah” meski tidak lama umurnya.
Terhadap Pemerintah Hindia Belanda, Musyawaratutthalibin juga mengeluarkan mosi tahun 1938 yang isinya agar bea pemotongan hewan buat aqiqah dan qurban dibebaskan. Mosi itu disampaikan kepada pemerintah, kantor voor Mohammadaan-zaken, Volksraad dan pers Indonesia.
Di bidang pendidikan, perjuangan Musyawaratut-thalibin terlihat dari adanya “Sekolah Musyawarah” yang didirikan di hampir semua cabang organisasi ini. Disamping itu, organisasi ini juga mendirikan sekolah agama yang lain seperti “Qismul-Mudarisien” di Kandangan dan “Normal Islam” di Rantau.
Selain itu, Musyawaratutthalibin berhasil menyatukan dua perguruan yakni “Persatuan Perguruan Islam di Birayang” dengan “Sekolah Musyawarah”, sehingga kerjasama itu dapat meningkatkan mutu kerja guru-guru dan murid di samping hubungan organisasi ini dengan perhimpunan lainnya menjadi lebih erat. (Sumber: Buku “Glosarium Sejarah Lokal Kalimantan Selatan Periode 1900-1950″ dan Buku “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942″).

2 Komentar leave one →
  1. Agustus 16, 2010 6:03 am

    Termasuklahlah cabangnya juga di Madrasah Hidayatul Islamiyah Kuala Tungkal pada tahun 1936. lihat Sejarah Pondok Pesantren Perguruan Madrasah Hidayatul Islamiyah (PP PHI) Kuala Tungkal-Jambi yang berdiri sejak tahun 1936 setelah berdirinya cabang di Sapat Tembilahan. (Pada bagian atas ada)

    Dalam tulisan memang hanya disebut cabang Musyawaratutthalibin (M.Th) ada di Kuala Tungkal. Dan ternyata bahwa Ponpes PHI Kuala Tungkal-Jambi yang berdiri 1936 adalah cabang dari M.Th, maka hal itu merupakan informasi yang sangat berharga untuk memperkaya sejarah organisasi M.Th.

  2. syamsul bahri permalink
    September 19, 2010 3:04 am

    Maksudnya, setelah berdirinya PHI, maka telah dibuka juga cabang organisasi M.Th ini di Kuala Tungkal dan juga Kepanduan Nasrul Ulum, namun hanya sebentar saja. Mohon kalau ada sejarahnya, kasih habar lah….
    Mohon informasi mengenai sejarah hijrahnya orang Banjar Kalsel ke Kuala Tungkal, walaupun sedikit mungkin itu yang terpenting. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: