Skip to content

MENGGAPAI BERKAH DI MASJID BANUA HALAT

Juni 8, 2010


Masjid “Al Mukarramah” Banua Halat adalah masjid yang berarsitektur tradisional atap tumpang. Lokasinya berada di desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, berjarak sekitar 2 km ke arah barat dari kota Rantau ibukota Kabupaten Tapin, atau berada sekitar 115 km di arah utara Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
Sesuai dengan namanya “Masjid Keramat Al Mukarromah” maka masjid yang diyakini masyarakat sebagai masjid tertua di Kabupaten Tapin ini sudah sangat lama dikeramatkan oleh masyarakat Banua Halat dan bahkan oleh orang-orang Dayak Meratus yang tinggal di pegunungan Meratus wilayah Kabupaten Tapin yang nota bene masih menganut kepercayaan lama.
Kekeramatan masjid Banua Halat diantaranya erat kaitannya dengan kepercayaan berupa mitos yang berkembang khususnya di kalangan orang Dayak Meratus di pegunungan Meratus daerah Tapin yang menyatakan bahwa orang Dayak Meratus dan orang Banjar Hulu sesungguhnya “badangsanak” (mempunyai ikatan darah; genealogis) karena berasal dari keturunan dua bersaudara kandung: Intingan dan Dayuhan yang berasal dari Banua Halat.
Keyakinan adanya “hubungan genealogis” itu dapat ditelusuri dari adanya Mitos Intingan dan Dayuhan berhubungan yang dengan pembangunan Masjid Banua Halat. Orang Dayak Meratus mempercayai bahwa Masjid Banua Halat dahulunya dibangun oleh Intingan, yakni saudara kandung Dayuhan; nenek moyang mereka. Dalam folklore berupa mitos yang berkembang di kalangan orang-orang Banua Halat dan orang Dayak Meratus di Harakit dan Batung Kabupaten Tapin disebutkan bahwa antara orang Dayak Meratus dan orang Banjar Hulu berasal dari satu rumpun induk yang sama yakni keturunan dua kakak beradik (bahasa Banjar: dua badangsanak) Intingan dan Dayuhan. Keduanya berasal dari desa Banua Halat.
Diceritakan bahwa ketika agama Islam masuk ke daerah ini, maka terjadilah pemisahan antara penduduk yang menganut agama Islam dengan penduduk yang masih menganut kepercayaan nenek moyang. Sejak itulah kampung mereka disebut Banua Halat, artinya “kampung pembatas”, yaitu pembatas antara penduduk yang menganut agama Islam dengan yang menganut kepercayaan lama. Sisa-sisa budaya dari kelompok ini, yang menunjukkan bahwa mereka pada mulanya merupakan kesatuan komunitas dapat ditelusuri dari peralatan upacara Baayun Maulid (lazim disebut Baayun Mulud) yang diselenggarakan di Masjid Banua Halat bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Rabiul Awal. Tradisi mengayun anak yang merupakan perpaduan unsur kepercayaan lama dengan Islam ini tidak hanya dijalani oleh bayi dan anak-anak, namun juga orang-orang tua.
Sebagai masjid yang dikeramatkan, maka setiap hari ada saja orang yang berziarah ke masjid ini untuk berbagai keperluan, memenuhi nazar, melakukan ritual memandikan anak dengan air tajau (guci) yang diyakininya dapat memberikan keberkahan, berdoa bersama yang dipimpin oleh kaum masjid, atau untuk menaruh botol berisi air di mimbar khotib yang sewaktu-waktu diambil kembali guna mengambil berkah dari masjid keramat ini. Wallahualam.

3 Komentar leave one →
  1. elkisab permalink
    Juni 12, 2010 10:47 pm

    Ada banyak hal yang perlu untuk diteliti kembali akan keberadaan masjid Keramat Banua Halat ini yang menjadi pusat digelarnya kegiatan ‘baayun maulid’, terutama tentang sejarah berdirinya; antara data folklore dan data sejarah. Mengingat pentingnya posisi dan keberadaan masjid ini sebagai simbol persaudaraan ‘dangsanak tuha’ dan ‘dangsanak anum’ serta sebagai penanda perkembangan dakwah Islam di Banua Halat dan daerah sekitarnya.
    (untuk dangsanak nang manulis pinanya elok mun istilah Banjar Meratus (karena lebih menampakkan harkat persaudaraan dan ianya lebih mengena) dipopulerkan dan dipakai secara luas, terutama untuk tulisan ini, sebagaimana posting tulisan dangsanak sebelumnya di ‘Orang Banjar Meratus). salam.

    Trimkash dangsanaklah. saat ini ulun lagi menulis “Banua Halat: Suatu Kajian Akulturasi Budaya”. saran pemakaian istilah “Banjar Meratus” akan ulun pertimbangkan untuk dipakai dalam buku tersebut karena, misalnya’, terkait dengan mitos Intingan dan Dayuhan yang menghasilkan hubungan genealogis antara Orang Meratus dengan Orang Banjar Hulu. Berharap dangsanak bisa membaca, menyunting, atau apalah namanya sebelum nantinya angkat cetak..salam

  2. Siti Fatimah Ahmad permalink
    Juni 21, 2010 1:06 am

    Assalaamu’alaikum Mas Wadjidi

    Dengan hormat dan takzimnya, saya berharap sahabat sudi menerima AWARD PERKASA – KAU ADALAH YANG TERBAIK, sempena sambutan HARI BAPA di Malaysia pada 20 Jun 2010. Ia sebagai menghargai persahabatan dalam perkongsian ilmu di ruang maya dan mengenangi jasa para bapa dalam memperjuangkan kehidupan yang harmoni untuk kebahagiaan keluarganya.

    http://websitifatimah.wordpress.com/2010/06/21/20-jun-2010-selamat-hari-bapa-untukmu-malaysia-dan-indonesia/

    Salam mesra dari saya.

  3. rahmadi permalink
    September 7, 2010 12:46 pm

    thanks buat sahabat yang memuat masjid keramat kami, saya yg lagi diperantauan akan terasa kembali pulang kampung ketika membuka blog ini …sekli lagi thanks so much …

    terima kasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: