Skip to content

WAYANG KULIT BANJAR

Agustus 18, 2010

Oleh Wajidi

Kesenian wayang kulit di Indonesia antara lain dapat ditemui di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Kalimantan Selatan. Wayang kulit di Kalimantan Selatan dinamakan Wayang Kulit Banjar, karena pendukung kesenian ini adalah etnis Banjar. Secara fisik ukuran wayang kulit Banjar lebih kecil dibanding wayang kulit Jawa. Atau lebih mendekati ukuran wayang kulit Bali. Ritme gamelan yang mengiringi wayang kulit Banjar cenderung cepat dan keras, sehingga berbeda jika dibanding dengan musik gamelan Jawa. Wayang kulit Banjar juga tidak mengenal waranggana (para wanita yang membantu menyanyikan lagu atau gending) yang ada dalam pementasan wayang kulit di Jawa.
Gamelan wayang kulit Banjar umumnya terbuat dari besi, berbeda dengan gamelan wayang kulit Jawa yang rata-rata terbuat dari logam perunggu. Di tahun 1900 musik gamelan Selendro lengkap seperti gamelan Jawa masih berkembang, terutama pewaris keluarga istana yaitu keluarga gusti-gusti. Menurut Sarbaini (seniman/budayawan), di tahun 1990 di Barikin adalah tempat peleburan besi gangsa membuat gamelan Selendro, tapi tidak diberi kuningan. Ketika itu sudah berkembang gamelan Banjar mini yakni yang dibuat dari baja dan besi yang terdiri dari sarun satu, sarun dua (sarantam), kanung, dan dawu serta agung kecil dan agung besar, ditambah dengan kangsi, gendang atau babun terdiri dari babun besar dan babun kecil. Babun besar untuk iringan wayang kulit dan wayang gung, sedangkan babun kecil untuk selingan iringan tembang dan tarian baksa atau topeng.Di Kalimantan Selatan, penonton wayan kulit masih dominan berada di belakang kelir (tenda) sehingga yang mereka tonton adalah bayang-bayang dari wayang tersebut. Hal ini agak berbeda dengan wayang kulit Jawa yang mana kebanyakan penontonnya menonton langsng dari atas panggung.
Dalam buku Urang Banjar dan Kebudayaannya (2005) disebutkan bahwa bentuk kesenian wayang di Indonesia berinduk pada kebudayaan asli Jawa, meskipun cerita yang ditampilkan disadur dari pengaruh kebudayaan Hindu. Bentuk kesenian wayang tertua adalah wayang Purwa. Dari wayang purwa ini berkembang menjadi jenis-jenis wayang di Kalimantan Selatan.
Dalam Hikayat Banjar tertulis bahwa seni wayang sudah mulai tumbuh di kerajaan Negara Dipa seperti; bawayang gung, manopeng, bawayang gadongan, bawayang purwa, babaksan dan sebagainya. Merupakan kesenian yang biasa dipertunjukan di kerajaan Negara Dipa.
Mengenai asal usul wayang telah banyak dibicarakan di kalangan ilmuwan. Dr. J.L.A. Brandes berpendapat bahwa wayang termasuk dalam 10 unsur kebudayaan yang telah ada di Nusantara sebelum masuknya kebudayaan Hindu. Saking tuanya usia pertumbuhan seni pertunjukan wayang tak heran bila wayang telah mendarah daging di kalangan masyarakat dan begitu kuat pengaruh wayang melekat dalam alam pikiran masyarakat.
Berhubungan dengan seni pertunjukan wayang, ada yang beranggapan bahwa pada mulanya pertunjukan wayang oleh sebagian masyarakat dijadikan semacam pertunjukan upacara yang lazim disebut Syamanisme. Namun di kemudian hari, wayang dipertunjukkan untuk mengisi upacara manjagai (menunggu pengantin) sesudah upacara perkawina. Maka pada malam harinya diadakanlah pertunjukan kesenian, seperti Mamanda, Wayang Gong, Rudat, Wayang Kulit dan acara Bakisah (kisah yang dibawakan penutur cerita). Biasanya acara bajagaan pengantin ini berlangsung selama tiga malam.
Dalam pewayangan, peran dalang sangat penting sebagai penghubungan dengan arwah nenek moyang. Berdasarkan penelitian, kebanyakan suku-suku di kepulauan nusantara memang memiliki kebiasaaan melakukan upacara Syaman.
Tidak heran apabila suku Banjar dengan teater wayang pun merupakan kegiatan upacara, dimana penyajian wayang Banjar diadakan pada malam hari dianggap roh-roh nenek moyang berkelana, disamping wayang Banjar lebih menekankan penyajiannya pada penonton melalui bayang-bayang.
Menurut Gunadi (2006) pada masyarakat Banjar dikenal beberapa jenis wayang berdasarkan niat dari pementasannya, seperti Wayang Karasmin yakni untuk hiburan atau keramaian, Wayang Tahun yang dipentaskan setelah selesai panen padi sebagai tanda syukur, dan Wayang Tatamba yang diselenggarakan karena sang dalang telah berhasil menyembuhkan sakit seseorang.
Selain itu adapula pertunjukkan wayang Banjar yang berkaitan dengan spiritual yakni Wayang Sampir. Pementasan Wayang Sampir terkait dengan hajatan/nazar. Dalam penyajian wayang upacara ini, dalang bertindak sebagai pemimpin upacara yang memiliki kemampuan dalam mengusir roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman manusia.
Untuk mengusir roh-roh jahat tersebut yang punya hajatan harus menyiapkan sajian 41 macam kue tradisional Banjar, juga menyajikan piduduk terdiri dari; beras ketan, gula habang, nyiur (kelapa), benang-jarum dan duit recehan yang dimasukkan dalam ancak dan digantungkan dipanggung pegelaran wayang.
Upacara wayang sampir dilakukan malam pada malam hari setelah diadakan upacara mengantar sesajen. Pimpinan upacara wayang sampir ini adalah seorang dalang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar dan selanjutnya menyebut dirinya Bapakku Dalang. Dalang inilah dalam upacara tersebut memainkan wayang kulit sambil diiringi bunyi gamelan yang dimainkan oleh sekelompok penabuh. Dalam acara ini Bapakku Dalang memanggil (mengundang) Batara Kala beserta penghuni alam gaib lainnya.
Upacara wayang sampir ini ditekankan kepada penghormatan dan pemberian sesajen kepada para makhluk gaib. Pada acara ini disampaikan juga penghormatan kepada Sang Pencipta Akhirat, para Malaikat, para Nabi-nabi, para Wali, dan para keramat.
Selain itu diundang untuk hadir dalam upacara itu para Datu, para pahlawan, para dewa, para Batara, Jin-jin, Hantu-hantu, Kuyang-kuyang, para Bidadari, para penghuni candi, penghuni gunung, penunggu pulau, penunggu danau dan tidak ketinggalan pula seluruh punduduk desa sekitarnya.
Dalam dialog antara Bapakku Dalang dengan Batara Kala (Sangkala), bahwa mereka itu semua dipanggil dan diundang untuk menyaksikan hiburan dan menyantap sesajen yang telah disediakan, dengan satu permintaan agar keluarga Datu Taruna dan penduduk desa mereka jangan lagi diganggu. Setelah itu menurut penuturan Bapakku Dalang, Sang Batara Kala didudukkan di punggung nyiur gading (punggung Bapakku Dalang) untuk menonton pertunjukan Wayang semalam suntuk.
Wayang sampir ini masih tetap eksis pada daerah-daerah tertentu seperti di Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah. Jelaslah di sini teater wayang Banjar (sampir) adalah warisan kesenian zaman para Hindu. Artinya kehadiran wayang Banjar di daerah Kalimantan Selatan jauh sebelum zaman kerajaan Islam di Banjarmasin. Mengingat wayang Banjar datangnya dari Jawa, dalam hal ini kerajaan Negara Dipa Amuntai mengikuti tradisi Jawa (Majapahit), dimana sekitar tahun 1300 sampai dengan tahun 1400 masehi Majapahit yang Hindu telah melebarkan kekuasaannya termasuk Borneo (Kalimantan) dan tidak ketinggalan dalam menjalankan misi keagamaan melalui media pertunjukan wayang. Jadi dapat diperkirakan awal masuknya wayang kulit ke kerajaan Negara Dipa sekitar abad ke-14.
Mengenai tokoh awal yang mengembangkan wayang Banjar belum diperoleh data dan informasi yang akurat. Teater wayang kulit Banjar terus berproses dari zaman kerajaan Negara Dipa ke kerajaan di Negara Daha, hingga terbentuknya kerajaan Islam Banjarmasin.
Baru dalam masa kerajaan Islam Banjarmasin, kesenian teater wayang kulit Banjar dengan warna lokal, mendapat minat yang bagus dari masyarakat Banjar. Karena sebelum Islam, penyajiannya meniru pada apa yang disajikan oleh dalang Jawa. Datu Taya yang melakukan adaptasi cerita wayang kulit dan menjadikan seni pertunjukan khas teater wayang kulit Banjar dan punya kelainan dengan wayang kulit Jawa baik bentuk wayangnya, lagu gemelan penggiring maupun cara memainkannya benar-benar mempunyai nilai-nilai krusial dan esensial.
Kalau menurut alur perkembangan dalang yang dimulai dari dalang Datu Taya, menelurkan dua dalang yakni Dalang Salak (Martapura awal abad ke-17) dan Dalang Mita (akhir abad ke-17). Dalang Salak berlanjut pada Dalang Rening (Amuntai awal abad ke-18) yang menelurkan Dalang Utuh Kacil (Ilung Barabai abad ke-19) dan Dalang Ketut (Barikin akhir abad ke-19) hingga Dalang Tulur (Barikin awal abad ke-20). Generasi penerus Dalang Tulur adalah Dalang Utuh Aini (alm) asal Barikin namun menetap di Banjarmasin, Dalang Kardi (Hulu Sungai Selatan), Dalang Masri dari Jambu Hilir (Hulu Sungai Selatan), Dalang Rundi dari Tapin, Dalang Dimansyah di Barikin (Hulu Sungai Tengah), Dalang Idrus dari Binuang (Tapin), Dalang Buserazudin (Hulu Sungai Selatan), Dalang Sastrawijaya (Hulu Sungai Selatan), dan dalang muda lainnya seperti Dalang Darlansyah, Dalang Kusran, Dalang Maspuri, dan Dalang Saidi.
Wayang kulit Banjar terbuat dari bahan baku kulit binatang yang dibikin oleh ahli tatah sungging wayang, diantaranya Tarmidzi (Hulu Sungai Tengah) yang berguru dari Dalang Tulur. Selain membuat wayang kulit, Tarmidzi juga membuat tatahan/ukirtan wayang pada Tutujah yakni alat untuk membuat lubang dalam menanam padi atau biji-bijian.
Cerita atau lakon dalam pertunjukan seni teater wayang kulit Banjar dikenal dengan lakon “carang” atau bukan cerita pakam (pakem) tapi sumber cerita dari Mahabharata, dalam perlakonan selalu membawa misi perilaku karakter yang baik dan yang jahat dalam aksi laku simbolik. Teknis penyajian dengan lakon carangan adalah penyajian wayang kulit Banjar yang berfungsi sebagai tontonan.
Dalam pertunjukan wayang kulit Banjar, bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar. Ada kecenderungan jika dalam pergelaran wayang kulit menggunakan bahasa Indonesia maka terasa seperti ada aspek seni yang hilang. Hal ini menyiratkan betapa erat hubungan bahasa Banjar dengan kesenian tradsionalnya.
Menurut Dalang Dimansyah sebagaimana dikutip dari Gunadi (2006), kejayaan pementasan wayang kulit Banjar di Kalimantan Selatan terjadi pada tahun 1970-1990-an. Dan juga pada masa itulah masa kejayaan bagi ahli tatah sungging, Tarmidzi, karena banyak pesanan pembuatan wayang dari para dalang atau dari daerah lain di luar Kalimantan Selatan. Setelah tahun 1990-an permintaan pementasan wayang mulai turun secara drastis, dan pembuatan wayang juga terhenti. Sepinya permintaan pementasan wayang mengakibatkan para dalang harus mencari usaha alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Entah sampai kapan mereka bertahan?

7 Komentar leave one →
  1. Syahranie permalink
    Agustus 22, 2010 11:06 am

    Sebuah ulasan yang lengkap, tahun 70an kami sering menonton wayang di RRI Banjarmasin yang saat itu banyak dimainkan oleh dalang Utuh Aini (rumahnya dulu tepat dikaki jembatan kayu tangi/simpang tiga sekarang). Meskipun pada saat itu di Lapangan MErdeka sedang berlangsung pertunjukan musik dangdut, tetapi kami lebih memilih menonton wayang yang digelar di RRI dengan berbekal iwak haruan barabuk yang dibuatkan oleh ortu untuk cemilan semalam suntuk. Sayang sekarang RRI tidak lagi menggelar pertunjukan wayang seperti dulu, meskipun beberapa tahun terakhir pihak Museum Banjarbaru masih menggelarnya.

    Di waktu kecil, di tahun 70-80 an, wayang kulit memang sering dipentaskan. Waktu itu masih sempat menyaksikan kepiawaian dalang Tulur, dan setelah dalang Tulur meninggal, maka diteruskan pula oleh Dalang Awi (?). Karena semalaman suntuk, maka jika ada pagelaran wayang maka sering minta dibangunkan d tengah malam, karena pada waktu tengah malam itulah cerita wayang lagi rame-ramenya, seperti perang baratayudha, dsb. Rumah dalang Utuh Aini, memang dekat Jembatan Simpang Tiga tepatnya di pinggiran sungai di jalan pangeran berseberangan dengan muka gang Al Amin yang menuju MDIM Sei Kindaung, dan kebetulan bertetangga dengan tempat saya indekos dahulu…

  2. Syahranie permalink
    Agustus 22, 2010 11:58 am

    Tentang kepiawaian dalang Tulur dan lainnya belum sempat kami saksikan, mungkin mereka lebih banyak tampil di Hulu Sungai. Beralih ke topik lain, kalau salah mohon maaf, sepertinya Kesenian Lamut adalah bentuk lain dari kesenian wayang yang berasal dari daerah Sumatera Selatan, soalnya kami pernah menemukan uraian tentang lamut tsb dari seseorang yang berasal dari sana. Kalau ada waktu mohon di rilis di blog ini. Terima kasih.

    Untuk melengkapi ulasan tentang “wayang kulit banjar” dan “lamut” dapat dilihat dari tulisan sastrawan Arsyad Indradi dalam http://sastrabanjar.blogspot.com/2010/03/akankah-wayang-kulit-banjar-bisa.html dan http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/sajumput-tentang-sastra-banjar-lamut.html, serta http://id.wikipedia.org/wiki/Lamut

  3. Syahranie permalink
    Agustus 22, 2010 1:28 pm

    Terima kasih atas informasinya.

  4. September 15, 2010 8:54 am

    mantab…..seni budaya harus tetap dipertahankan…..!!!!!! lanjutkan bro….akulink blog kamu….link balik ya blog aku maksih

  5. September 15, 2010 8:56 am

    aku ambil tulisan ini dan ku masukkan blog aku untuk pembelajaran dan penyebaran pengetahuan……makasih…….di tunggu kehadirannya

    Terima kasih telah berkunjung. Dengan senang hati, semoga tulisan yang diambil bermanfaat dan jangan lupa sebut sumber/penulisnya. Aku telah link blog anda ke blog aku…

  6. dildaar80 permalink
    April 18, 2012 10:16 pm

    Mantap bro…. walau ada pengaruh jawanya tapi urang banua kreatif dan nggak mau begitu saja sama dengan induk cerita dan budaya.

    Salut untuk kreatifitas urang banua.

  7. Syahril Yamani permalink
    Januari 13, 2013 11:54 pm

    setelah dalang Rundi meninggal tak ada lagi dalang yg mumpuni di Tapin. Namun ada satu dalang yg boleh dikatakogikan serbabisa, sayang nya, dalang Jandri asal kampung Matang Asam desa Lawahan ini, kurang menguasai pakem pewayangan, shg lebih banyak berinvrovisasi, yg kadang-kadang melenceng jauh dari pakem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: