Skip to content

KAMPUNG KUIN

Agustus 27, 2010

Kampung Kuin adalah sebuah kawasan permukiman di pinggiran Kota Banjarmasin yang dilalui oleh sebuah sungai bernama sungai Kuin, yakni sungai yang menghubungkan sungai terbesar pertama; sungai Barito dengan sungai terbesar kedua; sungai Martapura.

Dulunya sepanjang sungai Kuin ini adalah kawasan Kuin. Dengan adanya sistem pemerintahan dari zaman Hindia Belanda, pendudukan Jepang dan Republik Indonesia, maka yang disebut kawasan Kuin adalah meliputi kampung-kampung, seperti Kampung Kuin Utara, Kampung Kuin Selatan, Kampung Kuin Cerucuk, Kampung Pangeran, Kampung Sungai Miai, Kampung Antasan Kecil Timur, dan Kampung Antasan Kecil Barat
Lokasi kawasan Kuin saat ini secara administrasi terletak di Kecamatan Banjarmasin Utara, membentang mulai ujung/pertemuan sungai Alalak hingga sungai Pangeran, sedang sungai Kuin dipandang sebagai alur utama lalu lintas kawasan Kuin yang menghubungkan beberapa sungai.
Di sepanjang sungai Kuin inilah muncul permukiman pertama di Banjarmasin sehingga menjadikan Kampung Kuin sebagai kampung tertua dari kampung-kampung yang ada di Banjarmasin dan sekitarnya. Di kampung inilah sebagai awal dari persinggahan dan menetapnya masyarakat untuk bertempat tinggal dalam bentuk suatu komunitas yakni komunitas etnis Banjar.
Kampung Kuin adalah kawasan kampung tua bersejarah karena dari kawasan Kampung Kuin inilah cikal bakal Kerajaan Banjar pertama menuju suatu pemerintahan Kerajaan Islam Banjar dengan nama Kesultanan Banjarmasin yang berpusat di Kuin.
Komplek Makam Sultan Suriansyah

Nama Kuin —dalam beberapa pustaka kadang ditulis Kuwin atau Kuyin— mengingatkan kita pada tradisi atau istilah Barat mengacu pada kata “Queen“ yang berarti ratu atau raja, yaitu penguasa tertinggi dalam sistem pemerintahan monarki atau kerajaan. Hal ini tidak dipungkiri sebagai kenyataan sejarah bahwa di sinilah pusat Kerajaan Banjar didirikan dan pernah eksis sebelum dibumihanguskan oleh Belanda pada tahun 1612 M. Dengan peristiwa tersebut kota Kuin dahulu untuk sementara ditinggalkan dan pusat pemerintahan berpindah di sekitar Martapura.
Pada saat pusat pemerintahan kesultanan di Kuin pengaruh kekuasaannya meliputi daerah yang sangat luas, Kalimantan bagian Selatan, Kalimantan bagian Tengah, antara lain: Kapuas, Kotawaringin, Lamandau, sebagian Kalimantan bagian Timur hingga Pasir, Berau dan sebagian Kalimantan bagian Barat.
Di Kuin ini pulalah dimulai penyebaran agama Islam yang ditandai dengan pemelukan agama Islam oleh raja Banjar pertama Pangeran Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah yang diikuti yang dikuti oleh rakyatnya, yang mana proses pengislaman itu dipimpin oleh Khatib Dayyan dari Kesultanan Demak.
Keberadaan Kerajaan Banjar pada saat berada di Kuin digambarkan berada di sekitar lima sungai kecil, yaitu; sungai Sigaling, Karamat, Pangeran (Pageran), Jagabaya dan Pandai. Kelima sungai ini bertemu dan membuat danau kecil bersimpang lima, dan daerah inilah yang dahulunya menjadi ibu kota Kerajaan Banjar. Oleh karena itu, kampung ini disebut dengan Kampung Raja karena pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banjar.
Keraton Banjar pertama dibangun di pinggiran sungai Kuin tepatnya antara sungai Keramat dengan sungai Jagabaya, daerah itu sampai sekarang masih bernama kampung Keraton. Di tepi sungai Kuin di sisi sungai Jagabaya dibuat masjid yang pertama, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Sultan Suriansyah.
Masjid Sultan Suriansyah

Kini kalau disebut Kuin, maka orang akan teringat akan Masjid dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, yang mana di komplek itu terdapat pula makam Khatib Dayyan dan makam raja-raja Banjar lainnya.
Oleh Pemerintah Kota Banjarmasin, terbentuknya kerajaan Islam pertama yakni Kesultanan Banjarmasin pada tanggal 24 September 1526 telah ditetapkan dan diperingati sebagai awal terbentuknya Kota Banjarmasin dengan melakukan ziarah ke Komplek Makam Sultan Suriansyah di Kampung Kuin, tepatnya Kuin Utara.
Kampung Kuin adalah kampung yang masyarakatnya akrab dengan “budaya sungai”, karena sungai bagi masyarakat Kuin adalah urat nadi kehidupan. Dari sungai Kuin dan anak cabangnya itulah mereka mendapatkan air minum, mandi dan cuci. Bagi mereka Sungai Kuin juga berperan menjadi wahana lintas transportasi yang menghasilkan interaksi antar manusia yang aneka ragam suku, agama, budaya dan latar ekonomi. Interaksi antar manusia demikian, pada gilirannya membentuk hubungan-hubungan yang bersifat ekonomi, sosial-budaya, dan politik.
Dari sungailah interaksi manusia terbangun yang menghasilkan kebudayan masyarakat yang dipengaruhi oleh lingkungan sungai. Oleh karena itu, di Sungai Kuin inilah terdapat aktivitas budaya dan ekonomi yang terkenal ke mancanegara yakni Pasar Terapung (Floating Market) yakni sebuah pasar yang aktivitasnya jual beli berada di atas sungai dengan menggunakan alat transportasi sungai bernama jukung atau perahu.
Dalam hal permukiman, bentuk perkampungan di Kuin selalu berpola linear mengikuti alur sungai tersebut dan dahulunya rumah-rumah selalu menghadap ke sungai. Di antara rumah-rumah itu terdapat Rumah Tradisional Banjar berbagai tipe. Di sepanjang Sungai Kuin juga masih ditemui rumah-rumah penduduk yang dibangun di atas permukaan air yang dikenal dengan sebutan “lanting”.
Keberadaan peninggalan sejarah seperti Masjid dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, Pasar Terapung, dan kondisi permukiman dan aktivitas masyarakat di tepi sungai Kuin merupakan sebuah daya tarik wisata yang sejak lama telah dijadikan objek wisata andalan berbasis budaya di Kota Banjarmasin.
Kecenderungan pariwisata dunia sekarang menganut pada slogan “back to nature” atau kembali ke alam (eco-tourism) yaitu suatu gerakan untuk kembali pada sesuatu yang alami. Sesuatu yang alami, baik kondisi alam, permukiman tradisional maupun adat istiadat yang masih dipertahankan oleh masyarakat Kampung Kuin seharusnya menjadi suatu hal yang menarik atau eksotis.
Pasar Terapung (Floating Market) Kuin

Namun seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan budaya masyarakat tradisional ke arah budaya urban yang mengedepankan ekonomi perdagangan maka kini kondisi alamiah kawasan Kampung Kuin mulai memudar. Misalnya aktivitas budaya sungai pasar terapung di muara sungai Kuin mulai meredup; tidak seramai dahulu lagi karena orientasi kegiatan ekonomi perdagangan berpindah dari sungai ke daerah daratan, seiring dengan semakin membaiknya lintas tranportasi jalan di sekitar pasar terapung tersebut.
Daya tarik wisata Kampung Kuin telah menurun, karena secara kasat mata kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Kampung Kuin, khususnya ke Pasar Terapung, Komplek Makam dan Masjid Sultan Suriansyah tidak seramai kondisi sepuluh tahun yang lalu. Kondisi itu merupakan suatu kenyataan yang patut untuk dicermati dan dapat dijadikan sebagai suatu alasan bahwa kini merupakan saatnya untuk merevitalisasi kawasan Kampung Kuin sebagai kampung wisata andalan di kota Banjarmasin. Bagaimana menurut anda?

8 Komentar leave one →
  1. Syahranie permalink
    September 5, 2010 7:21 am

    Mungkinkah pasar terapung yang ada sekarang sudah ada sejak dahulu, karena kami tak pernah menemukan foto2 lama yang tentang hal tsb. Kalau menurut kami pasar terapung yang ada di muara sungai kuin sekarang adalah akibat transportasi yang berorientasi ke darat dan tidak adanya lagi transaksi jual-beli di sungai yang tahun 70an masih terlihat di sepanjang sungai martapura termasuk pasar jukung yang pernah ada di depan Masjid Sabilal Muhtadin tepatnya dekat jembatan Merdeka sekarang. Berbelanja diatas jukung dulu masih kami alami terutama disekitar pasar lima,walau sekedar minum teh.

  2. September 6, 2010 7:38 am

    Assalaamu’alaikum mas Wajidi.

    Saya hadir dengan takzim untuk berkunjung menemui sahabat bagi mengucapkan:

    Andai langkah berbekas lara . Andai kata merangkai dusta. Andai tingkah menoreh luka . Andai bahasa membedah jiwa. Maaf dipohon seribu ampun. Dari jauh ku kirim salam. Kuhulur tangan memohon kalam . Buatmu sahabat, di hari mulia kita bermaafan. MAAF ZAHIR DAN BATHIN.

    Taqabbalallohu minna wa minkkum. Kullu am wa antum bikhairiin.
    SELAMAT HARI RAYA

    Salam Ramadhan Yang Barakah dan Salam Aidil Fitri Yang Bahagia.
    Salam mesra dari Sarawak, Malaysia.

    Asam pauh delima pauh, rama-rama terbanglah tinggi
    mbak siti jauh saya pun jauh, sama-sama berhari raya idul fitri.

    Mohon maaf lahir dan batin, semoga kita kembali fitrah setelah berpuasa ramadhan. Taqabbalallohu minkkum. Minna wa minkum taqabbal ya Karim

  3. September 8, 2010 1:35 am

    Saya kebetulan sempat singgah di pasar terapung di Sungai Kuin dan kemudian melawat makam Sultan Suriansyah ketika berkunjung ke Kalsel kali pertama pada tahun 2008. Satu pengalaman yang menarik dan masih menjadi kenangan.

    Salam dan selamat hari raya aifitri dari Malaysia

  4. September 8, 2010 1:37 am

    Maaf, ada kesalahan ejaan “aidilfitri” dalam posting terdahulu.

    Dengan sukacita, saya sambut dengan gembira kunjungan Bapak di blog ini. Semoga Bapak bersama keluarga di Selangor sehat walafiat dan panjang umur, dan kapan-kapan dapat kembali berkunjung ke banua menjalin silaturahim dengan keluarga di sini. Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1431 Hijriyah, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

  5. Uda permalink
    September 8, 2010 8:37 pm

    Assalammualaikum,

    Ulun ucapkan Selamat Hari Raya Aidil Fitri, Maaf Zahir Batin. Samuga pian sakaluarga wagas. Asaan ulun, ari Raya di Malaysia wan Indonesia sama haja tarikhnya. Ari Jumaat baisukannya.
    Dikde luko nang badahuluan raya. Bapalak banar amun ada nang kaito. Mambari supan banar.

    Walaikum salam
    Ulun gin jua maucapakan salamat bahari raya idul fitri 1431 H, mohon maaf lahir dan batin hagan pian sabarataan di Penang Malaysia. Mudahan puasa kita tahun naya manjadiakan kita tamasuk golongan urang nang bataqwa. Ari raya di sia isuk atawa jumahat jua, sama haja. Dadangaran habar ada jua kalompok tarekat atawa jamaah di Sulawesi dan Sumatera Barat nang badahulu ba ari raya, karna puasa bubuhannya tu badahulu pada nang lain…. amun buhannya umpat jua isuk ba ari raya, labaram, puasa buhannya jadi 31 hari..kada mungkin luku…

  6. September 9, 2010 11:45 am

    Diucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri kepada semua rakan di Banua dan di mana saja umat Islam berada. Semoga kehadhiran Syawal tidak melunturkan keazaman dan kelaziman ibadah yang kita bina pada Ramadhan lalu.

    Dalam saat kita bergembira bertemu sanak saudara dan rakan taulan jangan pula kita ketinggalan ‘ maniring ‘ mereka yang tidak dapat sama-sama bergembira , lantaran sebab-sebab yang mereka tidak dapat elakkan dan tidak mereka minta…..

    Akhir kata, pohon maaf segala kesalahan yang saya lakukan, terutama kepada rakan-rakan sekolah dahulu dan kenalan semuanya.

    Allahu akbar walillahil hamd.

  7. September 16, 2010 1:22 pm

    kampung kuin kampung kenangan dan kampung sejarah…..harus dilestarikan sebagai bahan pengajaran untuk naka cucu kita……biar kada bakulat kisah dimakan zaman

    bujur….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: