Skip to content

RUMAH BULAT, RUMAH BERSEJARAH DI MARABAHAN

Maret 9, 2011

Rumah Bulat, demikian masyarakat setempat menyebutnya, merupakan salah satu rumah bertipe joglo. Berlokasi di Jalan Panglima Wangkang RT 8 Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Posisinya menghadap Sungai Barito. Jarak dari Banjarmasin ke lokasi lebih kurang 45 km dan bisa ditempuh dengan kendaraan darat (mobil, sepeda motor) atau melalui sungai, yakni dari Sungai Martapura, Sungai Kuin, terus ke Sungai Barito.
Dari beberapa sumber dapat diketahui bahwa Rumah Bulat didirikan oleh seorang demang di Kewedanan Bakumpai bernama H. Abdul Azis sekitar tahun 1875. Rumah ini kemudian digunakan sebagai gudang atau tempat menyimpan barang-barang milik Demang, sedangkan pemiliknya sendiri bertempat tinggal di sebuah rumah yang berada tepat di belakang rumah bulat tersebut.
Nilai terpenting dari rumah tersebut bukan pada arsitekturnya yang dipengaruhi bangunan joglo Jawa, melainkan nilai sejarahnya sebagai bekas markas kaum pergerakan khususnya dari kalangan pemuda Marabahan (dahulu Bakumpai).
Pada mulanya rumah ini pernah digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan H.M. Japeri, salah seorang ulama di Marabahan. Di awal abad ke-20 di rumah ini menjadi tempat perkumpulan musik untuk menampung bakat seni para pemuda Marabahan. Namun lama kelamaan, perkumpulan ini menjadi sebuah organisasi kepemudaan bernama Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) dibentuk pada tanggal 1 Maret 1929 dengan ketuanya M. Ruslan, dibantu oleh Suriadi sebagai sekretaris I dan Mawardi sebagai sekretaris II dengan pelindungnya H.M. Arip, bermarkas di sebuah rumah Joglo yang disebut masyarakat setempat dengan nama Rumah Bulat.
Dalam organisasi PPM mereka mendirikan Taman Bacaan (Het Leesgezelschap) dengan nama Family Bond bertempat di Rumah Bulat bergabung dengan perkumpulan musik yang telah ada. Mereka berlangganan surat kabar dan majalah. Dari surat kabar dan majalah tersebut, para pemuda Marabahan dapat mengikuti berita dan membaca tulisan yang mempropagandakan cita-cita kebangsaan yang saat itu telah tumbuh di Jawa maupun ditempat lainnya. Selain itu datangnya tokoh-tokoh pergerakan dari Jawa juga turut mewarnai tumbuhnya benih-benih kebangsaan dan semangat pergerakan di daerah ini.
Pada tahun 1930 Persatuan Pemuda Marabahan memperluas tujuan dan ruang geraknya dengan mensponsori berdirinya Sarekat Kalimantan dengan Pedoman Besarnya H.M. Arip. Perubahan nama menjadi Sarekat Kalimantan antara lain dalam rangka memenuhi syarat untuk menjadi anggota Indonesia Muda yang dibentuk setelah Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.
Susunan pengurus Sarekat Kalimantan terdiri dari M. Ruslan (Ketua), A. Gani (Wakil Ketua), A. Sunhaji (Penulis I), Sabran (Penulis II), Tambi (Bendahara I), Matran (Bendahara II), dan H. Basirun, Sabran B, Muhiddin serta Imbran (Pembantu-pembantu) dengan Ketua Pedoman Besarnya adalah H.M. Arip. Dalam anggaran dasarnya disebutkan, Sarekat Kalimantan bertujuan ke arah keekonomian dan kesosialan.
Setelah terbentuknya cabang-cabang Sarekat Kalimantan di daerah lainnya di Kalimantan, maka Sarekat Kalimantan melangsungkan kongresnya yang pertama pada tahun 1930 di Bakumpai (Marabahan).
Di Marabahan, atas dorongan H.M. Arip telah berdiri pula PHIS Swasta pada tahun 1929 oleh para pemuda Marabahan yang dikelola oleh Sarekat Islam. H.M. Arip (H. Matarip atau H. Muhammad Arip Bakumpai adalah seorang pedagang kelahiran Bakumpai (Marabahan) yang pulang pergi Banjarmasin – Surabaya. Ketika berada di Surabaya, H.M. Arip turut aktif dalam pergerakan dengan menjabat sebagai Komisaris SI di Surabaya. Dan atas anjuran ketua SI OS Cokroaminoto, H.M. Arip membawa Sarekat Islam ke Kalimantan Selatan.
Mula-mula PHIS dipimpin dan diajar oleh Marjono (pegawai Borneo Post). Mengingat pesatnya perkembangan sekolah tersebut, Marjono mendatangkan teman-temannya yakni Sutomo dan Sunaryo anggota Sarikat Buruh di Surabaya untuk menjadi guru di PHIS.
Pusat kegiatan PHIS bertempat di “Rumah Bulat” bergabung dengan Sarekat Kalimantan (sebelum menjadi BINDO). Sekolah PHIS ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Marabahan, sehingga jumlah muridnya semakin banyak. Guru-guru PHIS menggembleng semangat kebangsaan pemuda-pemuda Marabahan melalui pengajaran dan juga kepanduan yang waktu itu bernama Borneo Padvinder Organisatie (BPO).
Setelah berlangsung enam bulan kegiatan PHIS mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Hindia Belanda. Marjono, Sutomo dan Sunaryo dicurigai sebagai anggota partai terlarang. Keterkaitan mereka dengan PARI diketahui Belanda menyusul ditemukannya dokumen-dokumen PARI di Singapura. Diantara dokumen tersebut terdapat surat-surat dari Marjono, Sutomo dan Sunaryo dari Marabahan. Belanda mengambil tindakan tegas dengan menggrebek Rumah Bulat, dan menahan Marjono dan Sunaryo dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (Irian Barat).
Atas anjuran Marjono sewaktu akan ditahan agar kegiatan PHIS tetap dilanjutkan dengan bantuan Taman Siswa, maka tokoh-tokoh Marabahan bersama Sutomo yang muncul kemudian berangkat ke Yogyakarta menemui tokoh-tokoh Perguruan Taman Siswa. Sebagai hasil hubungan itulah pada tahun 1931 Ki Hajar Dewantara mengirimkan guru-guru Taman Siswa yaitu M. Yusak, Sundoro dan Yusyadi.
Sejak PHIS dibantu pengelolaannya oleh ketiga guru tersebut, maka paada tanggal 1 Januari 1931 atas persetujuan bersama ditetapkan bahwa PHIS dijadikan Perguruan Taman Siswa cabang Marabahan dengan kegiatan bertempat di Rumah Bulat. Dari Marabahan, Taman Siswa berkembang di daerah lainnya seperti di Banjarmasin Kandangan, Barabai, Kelua dan Kuala Kapuas.
Sekolah Taman Siswa ini hanya menyelenggarakan pendidikan setingkat Taman Muda atau tingkat pendidikan kelas 4-6 untuk anak-anak berumur 10 s.d. 13 tahun. Meski demikian, orang dewasa juga dapat mengikuti pendidikan yang dikelola Perguruan Taman Siswa pada sore hari.
Setelah tahun 1942, tentara Jepang datang ke Marabahan dan mengambil alih Rumah Bulat. Namun tidak berlangsung lama, karena Marabahan kembali dikuasai oleh NICA menyusul kekalahan Jepang melawan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.
Sebelum NICA datang, Rumah Bulat sudah terlebih dahulu dikuasai oleh para pemuda Marabahan yang tergabung dalam Pemuda Persatuan Rakyat Indonesia (PPRI). Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 November 1945 di¬pimpin oleh M Ruslan, Bahaudin, dan M. Arpan.
Rumah ini juga ditempati oleh Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) IX Pelopor, yakni sembilan pelaku ekspedisi dari BPKI Surabaya pimpinan Bung Tomo. Mereka dipimpin oleh H. Ahmad Hasan dan Jaderi, berangkat dari Panarukan (7 November 1945) dengan kapal layar dan berhasil mendarat di Samuda (Sampit) pada tanggal 18 November 1945.
Selanjutnya rombongan tiba di Marabahan dan disambut oleh PPRI. Mereka kemudian rnembentuk Pemerintahan Darurat RI Daerah Marabahan.
Pagi hari tanggal 5 Desember 1945 bendera Merah Putih dikibarkan di depan Kantor Kewedanan Bakumpai, dan dinyatakan bahwa mulai saat itu Kewedanan Bakumpai rnenjadi bagian wilayah Republik Indonesia.
Setelah pengibaran bendera, para pemuda PPRI bersama BPRI dan pejuang lainnya kemudian menyerang posisi KNIL dan Polisi NICA di Marabahan. Dalam pertempuran tersebut Marabahan dapat direbut dan dinyatakan sebagai bagian wilayah RI. Bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan Bendera Merah Putih. Peristiwa tersebut sangat heroik, karena Marabahan menjadi wilayah pertama Republik Indonesia di Kalimantan dan untuk pertama kali pula bendera Merah Putih berkibar di bumi Kalimantan Merdeka.

21 Komentar leave one →
  1. Maret 10, 2011 5:40 am

    izin meninggalkan jejak disini…

    salam

    jejakmu menjadi jejak sejarahmu…

  2. Maret 10, 2011 6:54 am

    pas baca judulnya kirain mirip rumah iglo di kutub sana hehe..
    kok bentuknya joglo ya, jawa banget..

    Rumah Joglo di kalsel umumnya dibangun para pedagang yang dulunya berlayar pulang pergi Jawa-Kalimantan

  3. Maret 11, 2011 6:55 am

    wah keren banget rumahnya…

    Pada foto nomor dua dari atas terdapat kalimat “Een Jarig Bestaan PPM 1 Maret 1930” yang terjemahnya “Setahun Berdirinya Persatoean Pemoeda Marabahan 1 Maret 1930”. Ini berarti PPM berdiri tanggal 1 Maret 1929

  4. Maret 11, 2011 1:56 pm

    masih terpelihara lagikah rumah itu? sepatutunya rumah ‘ classic’ seperti itu dijaga rapi untuk di jadikan bahan sejarah

    Rumah itu sampai sekarang masih ada. Dan karena usianya sangat tua, sudah pernah dilakukan pemugaran (restorasi) dengan tetap mempertahankan bentuk dan bahan aslinya…

    • rahmadi permalink
      November 12, 2014 7:55 pm

      Rumahnya tu yg parak penyebrngan peri tuhkah yg di pinggir bnyu

  5. Maret 22, 2011 8:55 am

    Peristiwa pagi hari tanggal 5 Desember 1945 dimana bendera Merah Putih dikibarkan di depan Kantor Kewedanan Bakumpai, dan dinyatakan bahwa mulai saat itu Kewedanan Bakumpai menjadi bagian wilayah Republik Indonesia merupakan hal yang selama ini tidak diketahui banyak orang….selama ini orang2 lebih tahu tentang Peristiwa Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Kalimantan pada tanggal 17 Mei 1949 di Desa Ni’ih (Kandangan)…..sejarah yang mesti diungkapkan kepada generasi muda Banjar khususnya,,,,,,,,,,,,,,salam…

  6. Maret 27, 2011 4:58 am

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Wajidi….

    Sejarah panjang yang membuktikan semangat juang anak muda yang mempamerkan semangat patriotik kepada tanah airnya sehingga bebas dari cengkaman penjajah. malah menukil sejarah tersendiri dalam sejarah kemerdekaan di Indonesia. Kalimantan ternyata mempunyai pejuang yang hebat dan disegani dalam sejarah kemerdekaannya.

    Menakjubkan sungguh meneliti perjuangan golongan muda dahulu kerana sanggup berjuang habis-habisan untuk membebaskan diri dari dijajah. Pelbagai agenda telah dirancang berdasar kronologi peristiwa di atas.

    Jika dahulu kita berbangga dengan para pejuang yang membebaskan tanahair dari apa bentuk penjajahan, tentu perjuangan anak muda masa kini amat berbeza sekali kerana perjuangan kita kini bukan menghadapi penjajah itu sendiri tetapi lebih dahsyat berjuang untuk membebaskan pemikiran yang dijajah. Penjajahan fikiran telah banyak merosak kehidupan anak muda kini sehingga menjebakkan mereka ke kancah yang melemaskan.

    Sejarah memainkan peranan penting dalam mendidik kita untuk mengambil iktibar dari perjuangan masa lalu. tetapi berapa ramai yang mengambil teladan dan sempadan darinya.

    Penulisan hebat yang bisa membakar semangat generasi masa kini. Salut untuk pembongkaran yang bermakna ini.

    Salam hangat selalu dari Sarikei, Sarawak.😀

    Selamat datang bunda. Tak banyak yang dapat saya kemukakan, kecuali ucapan terima kasih atas kunjungan dan motivasinya 🙂

  7. Maret 31, 2011 11:44 pm

    bangsa yang besar adalah yang menhargai sejarahnya,

    nice post😉

  8. Ganang Fajar permalink
    April 1, 2011 11:40 am

    sungguh luar biasa perjuangan (PPM) di marabahan,,baru tau bahwa bendera yg pertama kali ditancapkan diborneo ternyata titiknya berlokasi di Marabahan

  9. April 1, 2011 11:46 am

    Hal seperti ini perlu dipublikasikan pada kaum2 muda di indonesia dan dijadikan sejarah, Bahwa Perjuangan diindonesia bukan terkenal di tanah jawa saja ,,tapi dipedalaman2 daerah diindonesia ini juga harus diketahui sejarah perjuangannya..khususnya didaerah kalimantan selatan..
    mantaap

  10. April 2, 2011 2:21 am

    ya ampun,, jadul banget ya,, itu foto tahun berpa ya

    Yang memang jadul. Namun itulah salah satu daya tariknya. Foto paling atas tahun 1930..

  11. April 14, 2012 2:11 am

    Assalamu’alaikum. Mohon maaf apakah saya bisa mendapatkan informasi mengenai salah satu pengurus Sarekat Kalimantan A. Gani (Wakil Ketua),atau keturunannya, karena saya ada amanat untuk mencari beliau dari kakek saya, terimakasih

    • inedragoen permalink
      September 29, 2012 11:34 pm

      mahon maaf, nama a gani itu lengkapnya siapa ya..ahmad gani atau abdul gani….soalnya saya ada mengetahui ada nama a gani asal marabahan(bakumpai) yang pindah ke anjir serapat (kapuas), salah satu anak beliau namanya Chairul Gani ..apakah a gani tersebut yang dimaksud…..salam

  12. baum tunyit bawi permalink
    Juli 29, 2012 5:12 am

    Sangat bangga sy sbg slh satu keturunan uluh itah bakumpai….

    Bue sy asli marabahan, salah seorang Pejuang yg terbuang ke Kaltim..

    Trimakasih kpd penulis yg tlh mengangkat kmbali sejarah marabahan yg sngaja di kaburkan……

    “Salam Orang Muda Dayak”

  13. M.Rahmani Azmy permalink
    Agustus 31, 2012 12:56 am

    dari jaman perlawanan “PERANG BANJAR” Orang Bakumpai telah bahu-membahu berjuang mengusir penjajah belanda dari bumi Borneo bersama dengan saudara-saudara mereka Orang Banjar dan suku-suku Dayak lainnya. dengan adanya fakta sejarah ini moga bisa membangkitkan kembali semangat para generasi muda Bakumpai dalam membangun “banua”nya….

  14. Oktober 14, 2014 4:27 pm

    perlu di cermati pemerintah kabupaten batola perlu menggali lahirnya kota marabahan <bukannya lahirnya kabuapten batola) , ini perlu diketahui dengan menggali sejarah ,situs situs dan saksi hidup orang orang bakumpai, dan juga saksi sejarah seperti tiang bendera ,tong air besar tidak terlihat lagi, tiang bendera itu dulu berdiri dekat rumah makan panyinggahan(dahulu).

  15. Oktober 22, 2014 4:25 pm

    cerminan suatu kabupaten terlihat dari pembangunan kota ibukota kabupaten, ketika ingin menaiki jembatan rumpiang bayangan kota marabahan begitu indah,tertata rapi. ternyata ketika memasuki kota marabahan, jalan sempit, pasar semraut, pasilitas pemerintah (bangunan pemerintah saling berdesakan) sedangkan tanah pemerintah masih banyak dan sampah berserakan. tidak beda seperti ibukota kecamatan. dan jauh ketinggalan dengan ibukota kabupaten pemekaran di kalsel, perlu membuka mata khusus pimpinan pemerintahan sebagai pengambil keputusan upaya upaya membangun kabupaten batola umumnya dan kota marabahan khususnya. bagaimana membangun kota marabahan itu indah rapi, tertata terkelola dengan baik. kami orang orang bakumpai yg tinggal diperantauan sangat prihatin tidak ada yg bisa kami banggakan . kami hanya bangga sebagai putra bakumpai yang sukses diperantauan.

  16. November 10, 2014 11:17 pm

    Baru tau sejarah ini…

  17. Rizali Hadi permalink
    Juni 8, 2015 3:10 pm

    Rumah bulat ini menurut paman saya di Tumbang Samba memiliki 19 kamar, dan memiliki lambang cap crown yaitu lambang kerajaan Belanda, yang dibuat atas izin ratu. Terbuat dari emas. HOS Cokroaminoto pernah menginap disitu. Benarkah ?

  18. wahyudi permalink
    Maret 3, 2016 11:05 pm

    uluh bakumpai te patriotisme.ini adalah sejarah yang bagus tentang kemerdekaan di binua borneo yang seharusnya diajarkan disekolah sekolah supaya mengetahui bahwa orang-orang binua borneo itu juga ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan indonesia

  19. H.Gazali Rahman,S.Sos permalink
    Maret 14, 2016 4:27 pm

    Kami sbg warga Bakumpai Marabahan juga bangga dgn rumah bulat ini krn banyak menyimpan sejarah panjang perjuangan pemuda marabahan dr organisasi sosial,keagamaan,pendidikan,politik dll,ini suatu bukti bhw di Marabahan atau kalimantan mereka sdh eksis utk perjuangan kemerdekaan RI juga menjadi bahan referensi sejah Indonesia..semoga dpt kita lanjutkan perjuangan mereka merdeka !!!aamiin YRA.dr H.Gazali Rahman (mantan camat Belawang Kab.Barito Kuala)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: