Skip to content

PERAN SITUS SEJARAH SEBAGAI PEREKAT KEINDONESIAAN

Agustus 12, 2011

Oleh WAJIDI

Dalam pembukaan Lawatan Sejarah Nasional V Agustus 2007 di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Mendiknas Prof. Dr. Bambang Sudibyo mengatakan: “…Lawatan Sejarah Nasional merupakan metode baru bagi pembelajaran sejarah yang efektif”. Dikatakan efektif, karena jika dalam PBM di kelas, guru dan para siswa lebih banyak menggunakan buku-buku sejarah, dan bahkan disuruh menghapal peristiwa, nama tokoh dan tahun sehingga pelajaran sejarah kadang terasa kering dan membosankan, maka dalam Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) maupun Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) para siswa dapat langsung mengunjungi tempat peristiwa berlangsung, berdialog dengan tokoh atau pelaku sejarah, atau sejarawan.
Dengan adanya kunjungan ke situs sejarah menjadikan proses pembelajaran sejarah mengasyikkan sekaligus pemberian informasi dan pemindahan nilai-nilai kesejarahan (transfer of value) kepada para siswa dapat berlangsung efektif. Metode pebelajaran seperti itulah yang dilakukan pada kegiatan kegiatan Lasenas VIII di Kalsel (25-29 Oktober 2010) atau Laseda Kalsel 2011 (4-7 Juli 2011). Sesuai tema Laseda Kalsel 2011, maka para siswa diajak mengunjungi beberapa situs sejarah yang ada di Kalimantan Selatan, khususnya di kota Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Melalui kunjungan itu diharapkan dapat dirajut simpul-simpul keindonesiaan di Tanah Banjar.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kegiatan mengunjungi situs-situs sejarah ini disebut lawatan? Seolah kita melawat ke suatu tempat yang jauh atau asing. Mengapa tidak disebut saja, misalnya, kunjungan. Pilihan kata “Lawatan” bukan tanpa dasar. Bukankah sebagian besar situs sejarah yang ada di Kalimantan Selatan (apalagi situs sejarah yang ada di daerah lainnya di Indonesia) merupakan hal asing bagi sebagian orang termasuk para siswa. Meski sebagian lokasi situs sejarah itu tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka.
Oleh karena situs sejarah adalah hal yang asing, maka kegiatan mengunjungi situs dalam kegiatan ini disebut “lawatan” karena memang dalam kegiatan ini para siswa melawat situs sejarah yang selama ini mungkin hanya pernah dengar namanya, namun tak pernah atau sangat jarang mengunjunginya.
Apakah kita hanya sekedar berkunjung? Tentu saja tidak. Kita tidak hanya memperoleh gambaran fisik dan informasi tentang peristiwa sejarah, namun yang terpenting adalah mendapatkan nilai-nilai yang terkandung dalam situs sejarah. Utamanya adalah peran situs sebagai perekat keindonesiaan kita.
Apa yang dimaksud situs sejarah? Situs sejarah adalah lokasi atau daerah dimana didapati benda-benda sejarah dan purbakala. Atau suatu kawasan yang diduga mengandung benda bersejarah juga dapat disebut situs sejarah. Benda bersejarah itu misalnya: istana, makam para raja, makam para penyebar Islam, makam pejuang kemerdekaan, benteng, masjid, rumah bersejarah, dan lain sebagainya.
Seperti halnya provinsi lainnya di Indonesia, Kalimantan Selatan mempunyai bentangan sejarah yang penuh dengan berbagai peristiwa berskala besar maupun kecil. Dari periode prasejarah, klasik, Islam, Kolonial, sampai periode Kontemporer. Berbagai peristiwa antara lain terekam pada berbagai situs sejarah, seperti Komplek Makam Sultan Suriansyah, Masjid Sultan Suriansyah, Makam Syekh Jamaludin (Kubah Surgi Mufti), Makam Syekh Abdussamad al-Banjari, Komplek Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari, Makam Panglima Wangkang, Rumah Bulat (Joglo) di Marabahan, Makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Makam Syekh Muhammad Nafis al- Banjari, Rumah Banjar di Teluk Selong, Makam Syekh Abdul Hamid Abulung, Benteng Tabanio, Benteng Tundakan, Benteng Gunung Madang, Makam Sultan Adam al-Wasik Billah, Candi Agung Amuntai, Candi Laras dan situs Pematang Bata, Makam Datu Sanggul, Masjid Al Mukarromah Banua Halat, Makam Haji Saaduddin Taniran, Makam Amuk Hantarukung, Rumah Perjuangan Durian Rabung, Rumah Perjuangan Karang Jawa, Masjid Pusaka Banua Lawas, Makam Pahlawan Nasional Brigjen H. Hassan Basry, Monumen ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Paku Alam Sungai Tabuk, Monumen 17 Mei 1949 di Niih, dan banyak lagi.
Meski berbagai situs sejarah tersebut mempunyai kaitan dengan sejarah lokal, sesungguhnya ia juga mengandung nilai-nilai sejarah nasional. Dari berbagai situs sejarah itu dapat ditarik nilai-nilai yang dapat menjadi perekat keindonesiaan kita.
Sejarawan Australia, Robert Cribb, pernah mengatakan: “memandang peta rasanya cukup untuk memberi kesan bahwa tidak mungkin adanya negara Indonesia”. Kesan itu muncul karena Indonesia terdiri dari 13.000–17.000 lebih pulau besar dan kecil, yang dipisahkan oleh laut dan selat yang terbentang dari barat ke timur sepanjang lebih dari 5.000 km (setara jarak Moskow ke London) dengan wilayah yurisdiksi ± 5,9 juta km2, garis pantai pantai sepanjang 81.000 km, dan didiami oleh 360 suku bangsa dan memiliki lebih dari 300 dialek bahasa.
Akan tetapi, ternyata Indonesia ada dan tetap bersatu hingga detik ini. Sejak 28 Oktober 1928 berbagai perkumpulan kaum muda dari berbagai suku di Hindia Belanda mengikrarkan “Satu Nusa, Satu Bangsa, dan satu Bahasa: Indonesia”. Dan perekat keindonesiaan itu yang juga dinyatakan oleh para pengikrar “Sumpah Pemuda 1928” adalah faktor sejarah.
Dalam perspektif politik, Indonesia bisa bersatu sebagai suatu bangsa dan negara karena memiliki kesamaan “nasib” dan “sejarah”, yakni sama-sama dijajah dan menderita oleh penjajah yang sama, terutama oleh penjajahan Belanda. Negara dan bangsa Indonesia lahir karena adanya faktor sejarah. Oleh karena itu, sejarah mempunyai peran dalam pembentukan keindonesiaan kita.
Situs sejarah dengan benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya merupakan “jejak sejarah” atau jejak peristiwa masa lampau. Sebagai jejak sejarah, dalam situs sejarah dapat digali peristiwa yang terjadi di masa lampau. Oleh karena itu, jejak sejarah merupakan “sumber sejarah” yang dapat digunakan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah. Dan, lebih dari itu, dari situs sejarah juga dapat digali simpul-simpul sebagai perekat keindonesiaan kita.
Adanya simpul-simpul perekat keindonesiaan itu berupa hubungan atau interaksi antar etnis atau penduduk di wilayah di Nusantara baik di bidang ekonomi-perdagangan, sosial, budaya, dan politik sebagaimana yang tergambar dari sejarah yang melatarbelakangi keberadaan situs-situs tersebut.
Hubungan antar etnis berlangsung jauh sebelum adanya penjajahan Barat di Nusantara, dan semakin mengkristal ketika penjajah Belanda memaksakan kesatuan berbagai etnis di Nusantara ke dalam negara Hindia Belanda. Pemaksaan itu, di satu sisi telah menimbulkan penderitaan, tetapi akibat dari itu telah menimbulkan kesadaran senasib dan sepenanggungan sebagai sebuah bangsa.
Perasaan senasib sepenanggungan yang dilandasi oleh persamaan sejarah sebagai sesama rakyat terjajah, lambat laun memunculkan benih-benih nasionalisme dan patriotisme. Ikrar Sumpah Pemuda 1928 dilandasi oleh persamaan sejarah. Berbagai organisasi pergerakan di Kalimantan Selatan turut muncul. Mulanya bersifat bersifat lokal dan primordial, namun kemudian tumbuh menjadi organisasi yang berlingkup regional maupun nasional yang bergerak di bidang politik untuk mencapai kemerdekaan.
Penyebaran dan interaksi para tokoh pergerakan nasional dan daerah yang terjadi pada waktu itu, semakin menumbuhkan rasa kebersamaan atau solidaritas antar etnis di Hindia Belanda untuk bersama-sama berjuang meraih kemerdekaan yang kemudian menjadi modal dalam merebut dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Berbagai peristiwa sejarah yang menunjukkan proses kepada terbentuknya bangsa dan Negara Indonesia merupakan simpul-simpul perekat keindonesiaan yang dapat digali di berbagai situs-situs sejarah di Kalimantan Selatan. Meski situs-situs sejarah tersebut merupakan jejak dari sejarah lokal, akan tetapi sesungguhnya ia juga mempunyai nilai-nilai yang dapat dibutiri sebagai simpul perekat keindonesiaan kita.

5 Komentar leave one →
  1. Agustus 28, 2011 3:06 pm

    Assalamualaikum Wajidi,
    Subhanallah… Kalimantan Selatan begitu kaya dengan makam para wali dan sultan,menziarah makam-makam akan membuat kita insaf, semoga Allah SWT merahmati roh-roh mereka.
    Di hari yang mulia ini saya ingin mengucapkan selamat menyambut hari raya Aidil Fitri kepada Wajidi sekeluarga,
    ja’alnallahu minal ’aidin wal faaizin, maaf zahir dan batin

    Salam dari jauh,
    bintangzohra, S’pura

    • siti fatimah permalink
      September 23, 2012 10:57 pm

      terima kasih

  2. Agustus 28, 2011 4:14 pm

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Wajidi yang dihormati …

    Alhamdulillah, kedatangan Syawal setelah berakhirnya Ramadhan sebentar lagi menjadi saksi kepada ibadah yang kita jalani. semoga keberkatan dan rahmat Allah akan mengiringi setiap langkah ke depan dalam kehidupan.

    Hadir ini, untuk mengucapkan Minal aidin wal fa’izin buat sahabat yang selalu berbagi kebaikan di dunia maya. Maaf dipohon jika ada kesilapan sepanjang silaturahmi selama ini. Semoga diberi kesihatan dan kebahagiaan di hari yang mulia ini.

    SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI
    MAAF ZAHIR DAN BATHIN

    Salam Ramadhan yang mulia dari Sarikei, Sarawak.😀

  3. Oktober 5, 2011 11:14 pm

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Wajdi yang dihormati…

    Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.

    Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.

    Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.

    Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.

    Saya tak tahu harus berkata apa? Hanya satu harapan saya semoga persahabatan tetap terjalin di antara kita. Salam ukhuwah dari saya di Banjarmasin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: