Skip to content

Kampung Tua Sungai Jingah-Surgi Mufti

Maret 10, 2013

Oleh Wajidi

Kampung Sungai Jingah-Surgi Mufti adalah kawasan perkampungan tua di tepi Sungai Martapura di Banjarmasin. Kampung ini hanya berjarak sekitar 2-3 km dari pusat kota, dan secara administratif merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara.
Walaupun secara wilayah administrasi Kampung Sungai Jingah-Surgi Mufti terpisah pada dua kelurahan yang saling berbatasan yakni Kelurahan Sungai Jingah dan Kelurahan Sungai Surgi Mufti, dari segi budaya dan lingkungan kawasan kampung Sungai Jingah_surgi Mufti dipandang satu budaya. Kawasan permukiman ini bersifat linier/di tepi sungai Martapura tempo dahulu. sungai jingah
Dahulu yang disebut Sungai Jingah adalah kawasan perkampung yang cukup luas. Dari bekas lokasi masjid Jami dahulu (Kampung Teluk Masjid) sampai daerah kampung Kenanga yang menjadi lokasi Museum Wasaka sekarang. Hal itu tidak lain karena kampung-kampung yang ada seperti kampung Teluk Masjid, Teluk Kubur, Jalan Panglima Batur, Jalan Masjid, Jalan Sungai Jingah, Kubah Surgi Mufti, dan Kampung Kenanga secara administratif berada di bawah kelurahan Sungai Jingah.
Kini penyebutan wilayah Sungai Jingah mulai menyempit, yakni kawasan kampung di sepanjang jalan Sungai Jingah. Apalagi kawasan Jalan Sungai Jingah kini juga terbagi atas 2 kelurahan yaitu, kelurahan Sungai Jingah dan Kelurahan Surgi Mufti. Yang menjadi pembatas dua kelurahan itu adalah batas alam yakni sungai kecil (handil) bernama Sungai Jingah. Bagian Kampung Sungai Jingah dahulu yang kini menjadi bagian dari Kelurahan Surgi Mufti, yakni tempat objek wisata ziarah ”Kubah Surgi Mufti” berada, kini disebut sebagai Kampung Surgi Mufti, dan Kampung Sungai Jingah yang menjadi lokasi ”Warung Soto Yana Yani” menjadi bagian Kelurahan Sungai Jingah dan disebut sebagai Kampung Sungai Jingah.
Toponim Kampung sungai Jingah sebenarnya berasal dari sebuah sungai kecil bernama sungai Jingah. Sungai ini sesungguhnya merupakan sebuah handil atau yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir/Antasan. Sungai ini bermuara di Sungai Pangeran dan mengalir menuju Sungai Andai. Penamaan Sungai Jingah kemungkinannya adalah bahwa dahulunya di sepanjang sungai kecil ini terdapat banyak pohon Jingah, yakni vegetasi khas tanaman rawa di Banjarmasin dan sekitarnya. Kini Sungai Jingah menjadi pembatas Kampung Sungai Jingah menjadi 2 (dua) Kelurahan yakni Kampung Sungai Jingah yang menjadi bagian dari Kelurahan Surgi Mufti sehingga kini disebut sebagai Kampung Surgi Mufti, dan Kampung Sungai Jingah yang menjadi bagian Kelurahan Sungai Jingah dan disebut sebagai Kampung Sungai Jingah.
Sedangkan toponim Surgi Mufti diambil dari 2 kata, yakni “surgi” mengacu pada gelar tokoh ulama Kharismatik kesultanan Banjar yakni H. Jamaluddin dan kata “Mufti” dilatarbelakangi penamaan jabatan yang disandang H. Jamaluddin sebagai mufti pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Oleh Belanda tempo dulu jalan Sungai Jingah yang menjadi tempat kediaman Mufti Jamaluddin disebut: “Mufti Straat”.
Di kawasan Kampung Sungai Jingah terdapat berbagai objek peninggalan sejarah, arkeologi, dan arsitektur seperti Situs Makam Syekh Jamaludin (Kubah Surgi Mufti), dan berapa rumah Banjar.
Di kawasan ini dahulunya memiliki beberapa saudagar kaya, salah satunya adalah H. Muhammad Said Nafis. Rumah beliau di sungai Jingah berada dekat Kubah Surgi Mufti, tepatnya di arah sisi barat kubah tersebut. Namun sayangnya, salah satu rumah beliau berarsitektur Eropa sudah dirobohkan oleh ahli warisnya.
Beliau ini mempunyai armada kapal dan beraktivitas melakukan perdagangan antar pulau. Komoditas utama yang diperdagangkan beliau adalah tembakau (bahasa Banjar, timbako). Beliau mempunyai rumah di Ampenan pulau Lombok, dan dikenal sebagai saudagar yang paling kaya di sana.
Di lihat dari masa pembangunan rumah-rumah yang ada di kawasan ini dibangun sekitar awal hingga pertengahan abad 19. Bangunan arsitektur rumah panggung dengan bahan bangunan didominasi kayu. Lalu lintas jalur sungai dan pelayaran antar daerah hingga saat ini masih bisa dilakukan, hanya saja perahu tertentu karena konstruksi ketinggian jembatan yang kadang kurang mendukung/terlalu rendah sehingga menghalangi lalu lintas perahu besar yang melintas khususnya di saat air sungai pasang.
Di antara objek-objek peningalan bersejarah, maka makam Syekh Jamaludin merupakan yang paling terkenal karena menjadi objek wisata ziarah yang dikelola oleh pemerintah dan ditetapkan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992.
Berdasarkan catatan juru pelihara situs, Syekh Jamaluddin dilahirkan kira-kira tahun 1817 M/1238 H di desa Dalam Pagar, Martapura. Beliau merupakan cicit (buyut) Datu Kalampaian (Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari) dari pasangan Hj. Zalekha binti Pangeran Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan H. Abdul Hamid Kusasi bin Syarifah binti Umpil bin Mu’min (seorang menteri di zaman Kesultanan Banjar).
Beliau menimba ilmu dan bermukim cukup lama di Mekkah yakni sekitar 40 tahun, di antara guru-guru beliau sewaktu di Mekkah adalah Alimul Allamah Syekh Athaillah. Setelah pulang ke kampung halaman, beliau berkiprah sebagai ulama sebagai generasi penerus datu beliau yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Pada tahun 1311 H beliau membuatkan antasan (terusan) jalan menuju makam Syek Muhammad Arsyad untuk memberikan kemudahan kepada kaum muslimin untuk berziarah ke makam Datu Kelampaian, dan beliau pula yang membuat kotak atang pada makam Syekh Muhammad Arsyad yang terbuat dari kayu ulin serta diukir dengan tulisan kalimat Allah beserta nisannya.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1314 H beliau diangkat menjadi mufti yang berkedudukan di Banjarmasin dan oleh sebab itu beliau dikenal dengan sebutan Tuan Mufti Banjar. Sebagai mufti beliau merupakan hakim tertinggi yang mengawasi pengadilan umum di bidang syariah. Jabatan mufti sebenarnya berasal dari lembaga Mahkamah Syariah yang telah eksi sejak masa kerajaan Banjar dan pembentukannya digagas oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary. Pada Mahkamah Syariah itulah terdapat jabatan Mufti sebagai Ketua Hakim Tertinggi, yang berfungsi pula untuk mengawasi pengadilan umum. Mufti didampingi oleh seorang Qadi ialah pelaksana hukum dan mengatur jalannya pengadilan, agar hukum Islam berlaku dengan wajar.
Jadi disamping sebagai Mufti (Hakim tertinggi yang mengawasi pengadilan umum di bidang syariah), beliau juga memberikan pelajaran mengaji. Banyak orang yang datang belajar dan mengaji kepada beliau baik dari lingkungan kerabat amupun sahabat, sehingg sehari-hari beliau penuh dengan kegiatan mengajar dan mengaji serta memberikan doa dan nasihat kepada para tamu yang datang mengunjungi beliau.
Setelah sekian lama berkiprah sebagai tuan guru dalam mengemban misi dakwah islamiyah, maka pada hari Sabtu 8 Muharam 1348 kira-kira jam 3 menjelang ashar, beliau berpulang ke rahmatullah.
Beliau dimakamkan di depan rumah beliau di kampung Sungai jingah Banjarmasin pada hari Ahad 9 Muharam 1348 H jam 2 siang, yang mana makam beliau terkenal sampai sekarang dengan nama Kubah Sungai Jingah atau Makam Datu Surgi Mufti Jamaludin.
Selain makan Syekh Jamaluddin, di dalam kubah juga terdapat 3 makam lainnya, yakni makam isteri Syekh Jamaludin, makam H.M. Thoha bin H.M. As’ad (menantu Syekh Jamaludin), dan makam Muhamad Arsyad bin Syekh Jamaludin, sehingga keseluruhannya terdapat 4 makam.

8 Komentar leave one →
  1. Maret 16, 2013 12:12 am

    Berdasarkan peta tahun 1916 disekitar kampung Sungai Jingah ada kampung / tempat yang bernama “Kampung juragan” tapi sekarang sebutan tidak ada lagi entah kenapa? mungkin ada tahu..

    Informasi menarik. Mungkin dinamakan demikian karena dahulunya di kampung itu memiliki beberapa saudagar kaya dengan rumah-rumah besar dan mewah, salah satunya saudagar H. Muhammad Said Nafis..

    • Irham permalink
      Juni 27, 2015 7:35 pm

      Ada beberapa kampung asli di Banjarmasin, diantaranya Kampung Kuin dan Kampung Melayu. Kampung Kuin letaknya ditepi sungai Kuin sudah dekat ke sungai Barito. Disana ada makam dan Masjid Sultan Suriansyah.
      Kampung Melayu berseberangan sungai dengan Kampung Sungai Jingah. Dulu tahun 50-an di Kampung Melayu masih banyak rumah Banjar, tapi karena erosi sungai Martapura, bangunan rumah tsb. sudah hilang. Ini sama dengan lokasi Masjid Jami, dulunya terletak di Kampung Teluk Masjid. Disana dulu kuburan Panglima Batur. Karena erosi sungai, masjid dipindah kedarat (Jln. Masjid) dan kuburan Panglima Batur dipindah ke Komplek Kuburan Muslimin di jalan Masjid. Kuburan yang lainnya sudah hilang tergerus sungai.
      Dulu kampung sungai jingah disebut juga kampung qadi. ini mengacu kepada beberapa orang di sungai jingah yang menjabat sebagai qadi. Ada tiga orang yakni H. Busra Kasim, H. Asnawi dan seorang lagi besan beliau (saya lupa namanya). Kantor beliau di bangunan bagian muka masjid Jami.
      Nama saudagar H. Muhammad Said Nafis, kami dulu menyebut nama beliau Thaib Nafis. Rumah beliau rumah panggung tingginya +/- 1 meter, terbuat dari ulin. beliau banyak punya alat masak yang besar-besar seperti bogol (tempat memasak daging) dan ceper dari kuningan. Orang kampung yang punya hajat menikahkan anak, biasanya pinjam ke beliau.
      Didekat simpang tiga sungai jingah ada sungai kecil, dulu namanya sungai juragan kusin. sekarang sungai tsb. sudah sangat surut dan ditepi bahkan sampai ketengahnya banyak dijadikan rumah.
      Demikian dulu kenang-kenangan ulun mengenai kampung sungai jingah. ampun maaf kalau ada yang salah. Wassalam.

  2. April 23, 2013 11:49 pm

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Wajidi…

    Membaca sejarah Kampung Tua Sungai Jingah – Surgi Mufti menunjukkan betapa akrabnya hubungan masyakarat dengan alam sekitarnya. Malahan peranan mufti, qadhi dan yang lain disesuaikan dengan penghormatan yang diberi oleh masyarakat sehingga kedudukan mereka dipandang tinggi kerana penguasaan ilmu dalam bidang agama.

    Berbeza dengan peranan mufti dan qadhi masa kini yang dilihat sangat terhad dalam menangani masalah masyarakat. Akhirnya peranan ini tidak mampu untuk membantu meningkatkan pencerahan jiwa disebabkan oleh karenah birokrasi yang menyekat keaktifan mereka di tengah masyarakat.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak.

  3. Mei 14, 2014 9:29 pm

    silahkan kunjungi http://www.bisnisindonesian.com

  4. Mei 15, 2014 8:31 am

    banyak kekayaan budaya ..

  5. Juli 23, 2014 8:19 am

    kunjung balik http://www.bisnis-properti.com

  6. Juli 23, 2014 8:20 am

    berha hati dengan situs penipuan http://www.bisnis-properti.com karangan plagiat

  7. Agustus 3, 2014 3:49 am

    oke punya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: