Skip to content

MENGGAGAS BANDARA ALTERNATIF MALUKA

November 8, 2014

Oleh Wajidi

Nama Maluka di Kurau Kabupaten Tanah Laut mengingatkan kita kepada jejak-jejak kolonial yang pernah bercokol di Kalimantan Selatan. Tidak kepalang tanggung, eksistensi bangsa kolonialis Inggris, Belanda, dan Jepang terekam jelas di kawasan bersejarah bernama Maluka.

Daerah Maluka pada mulanya adalah bagian dari wilayah Kerajaan Banjar, namun kemudian menjadi wilayah yang dikuasai Inggris, Belanda, dan Jepang, sebagaimana terlihat pada beberapa tinggalan bersejarah berupa bangunan, sebaran artefak, dan bekas lapangan terbang.

Penguasaan Inggris terjadi saat Maluka menjadi daerah konsesi yang dikelola oleh pengusaha Alexander Hare tahun 1809 atas nama EIC. Dan kemudian melalui perjanjian antara Pemerintah Inggris dan Kesultanan Banjarmasin tahun 1812, daerah konsesi Maluka diserahkan secara resmi kepada Alexander Hare, yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Raffles. Penguasaan Hare atas Maluka berlangsung sampai akhir 1816 yakni saat Inggris meninggalkan Banjarmasin.

Daerah konsesi Maluka selama dibawah pengelolaan Alexander Hare dimanfaatkan sebagai tempat pertanian dan perkebunan, lokasi pembuatan perahu, pembuatan atau penempaan mata uang. Selain tenaga lokal, sebagian besar tenaga yang diperkerjakan di Maluka didatangkan dari Jawa. Sebagian mereka adalah orang hukuman, tenaga sukarela, namun tidak sedikit yang diambil paksa dari desa-desa di pantai utara pulau Jawa.

Setelah Inggris meninggalkan Banjarmasin, maka berakhirlah eksistensi Inggris di daerah konsesi Maluka. Meski telah ditinggalkan Inggris, Belanda tidak tertarik untuk mengembangkan bekas konsesi Maluka. Akhir abad ke-19 Maluka kemudian menjadi sebuah distrik dibawah Onderafdeling Tanah Laut.

Pada masa pendudukan Jepang di Kalimantan Selatan, daerah Maluka dijadikan pemerintah pendudukan Jepang sebagai lapangan terbang dalam rangka Perang Asia Timur Raya. Barisan Kinrohosi dan Romusha dikerahkan Jepang untuk membuat landasan pacu, dan bunker-bunker pertahanan.

Pada akhir pendudukan Jepang di Kalimantan Selatan, yakni pada bulan-bulan pertama 1945, lapangan terbang Maluka menjadi sasaran pemboman pesawat-pesawat Sekutu.

Meski lapangan terbang Maluka sudah lama ditinggalkan, namun beberapa tahun yang lalu di lokasi bekas lapangan terbang ini pernah dimanfaatkan sebagai tempat latihan pesawat tempur TNI Angkatan Udara bersama dengan beberapa negara Asean.

Adanya berbagai jejak ketiga bangsa kolonial (Inggris, Belanda, dan Jepang) di Maluka merupakan pertanda bahwa eksistensi Maluka berkaitan erat dengan sejarah kolonialisme dan imperialisme di Kalimantan Selatan. Sementara keberadaan eks lapangan terbang Maluka di masa penjajahan Jepang, dan aktivitas latihan tempur yang dilaksanakan TNI AU, juga memberikan makna bahwa desa Maluka pernah mempunyai posisi penting baik ditinjau dari segi perekonomian maupun pertahanan keamanan.

Boleh jadi posisi eks lapangan terbang Maluka di masa penjajahan Jepang sangat strategis, karena dikaitkan dengan kedekatannya dengan laut Jawa sehingga Jepang lebih memilih lapangan terbang Maluka dibanding lapangan terbang Ulin (kini Bandara Syamsuddin Noor) sebagai bagian strategi pertahanan. Yang menjadi persoalan adalah posisi strategi eks lapangan terbang Maluka mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bandar udara (bandara) bandara alternatif selain bandara Syamsuddin Noor?

 

Bandara Baru

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan 2005-2025 dan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) 2007-2026 disebutkan tentang adanya rencana pembangunan Bandar Udara Internasional khusus untuk penerbangan sipil di Maluka Baulin. Dalam dokumen RPJP tertulis bahwa Perencanaan pembangunan Bandar Udara Internasional khusus untuk penerbangan sipil pada daerah pegunungan dan pesisir di Maluka Baulin Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut sebagai Bandar Udara Alternatif pengganti Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Untuk menjawab keinginan tersebut, maka pada tahun 2008 pernah dilakukan kajian pendahuluan yakni mengidentifikasi eks Bandara Maluka di Kabupaten Tanah Laut. Hasil kajian menunjukkan bahwa jarak Maluka dari pantai Laut Jawa ± 2,5 km, dan dari Maluka ke Sungai Kurau ± 10 km. Sedangkan jarak Maluka ke Pelaihari ± 65 km. Lokasi Maluka Baulin berjarak dari Bandara Syamsudin Noor (± 60 km), luas tanah 996 Ha, posisi 114039’09’’E 03041’44’’ S atau 17 NM From BDM – VOR Radial 2080 Elevasi 64 Feet.

Berdasarkan kondisi lahan maka landasan pacu eks lapangan terbang Maluka bisa dikembangkan dengan panjang 3.000 m lebih (terdiri dari lahan yang sekarang dikelola oleh TNI AU panjang 9.200 m) dan diluar TNI AU sepanjag 2.500 m adalah tanah kering.   Lahan untuk pengembangan Bandara Maluka merupakan daerah datar, berbukit dan rawa yang berhubungan dengan laut Jawa, terletak pada ketinggian < 2 m dari permukaan laut dengan jenis tanah dari lapisan organosol, aluvial, podsolik merah kuning, latosol regasol dan podsolik coklat.

Meski hanya berupa kajian awal, identifikasi terhadap eks Bandara Maluka dapat diketahui bahwa lokasi ini mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bandara internasional yang didukung kondisi alam dan ketersediaan lahan untuk landasan pacu lebih dari 3.000 m, di samping itu lokasi ini dekat laut yang sangat mendukung untuk kelancaran take-off dan landing pesawat.

Untuk mengetahui kelayakan eks lapangan terbang Maluka sebagai bandara internasional memang harus dilakukan kajian lanjutan yang lebih mendalam berupa kelayakan teknis, ekonomis, dan sosiologis.

Pengembangan eks lapangan terbang Maluka sebagai bandara internasional perlu dipikirkan bersama oleh pemerintah Pusat dan pemerintah Daerah mengingat peningkatan pengguna angkutan udara melonjak sangat cepat di beberapa tahun terakhir. Berbagai bandara di tanah air penuh sesak dan melebihi kapasitas (overload) tidak terkecuali dengan bandara Syamsuddin Noor yang kini menerbangkankan 5.000-7.000 orang per hari. Padahal kapasitas terminal bandara hanya 1.500 orang. Overkapasitas berdampak kepada menurunnya pelayanan sehingga menjadikan bandara Syamsuddin Noor sebagai bandara besar dengan pelayanan terburuk di Tanah Air.

Akan tetapi, jika bandara lain berbenah diri melakukan pembangunan terminal, perbaikan apron, taxi way dan penambahan serta peningkatan landasan pacu, bahkan membangun bandara baru mengganti bandara lama. Pada saat yang sama, pengembangan bandara Syamsuddin Noor sebagai bandara internasional berjalan sangat lambat, rencana ground breaking pengembangan bandara selalu molor karena terbentur dengan alotnya pembebasan lahan milik masyarakat untuk perluasan areal bandara.

Kalaupun ke depan pengembangan bandara Syamsuddin Noor berhasil diwujudkan, kondisi lingkungan bandara tidak se ideal yang diharapkan. Diprediksi pada 20 tahun mendatang, bandara Syamsuddin Noor akan bernasib sama dengan bandara Polonia Medan, yakni lokasinya berada di tengah-tengah permukiman atau kota, terkepung oleh berbagai bangunan. Di tengah kepadatan lalu lintas udara, maka padatnya permukiman penduduk di sekitar bandara akan sangat berisiko terhadap keselamatan penerbangan jika seumpama terjadi kecelakaan.

Oleh karena itu, untuk jangka panjang atau jika pemerintah Pusat dan Daerah mempunyai pemikiran jauh ke depan, maka pembangunan bandara baru di eks lapangan terbang Maluka layak untuk di pertimbangkan, dengan berbagai pertimbangan.

Pertama, eks lapangan terbang Maluka dekat dengan pantai laut Jawa yakni hanya sekitar dari pantai Laut Jawa ± 2,5 km sehingga secara geografis ideal untuk mendukung keselamatan penerbangan sebagaimana bandara-bandara lain di tanah air yang juga berdekatan dengan laut.

Kedua, lahan untuk pengembangan bandara baru tersedia luas dan hanya sedikit pemukiman penduduk. Sehingga sangat memungkinkan untuk pembangunan terminal, apron, taxi way dan landasan pacu dengan kondisi lingkungan bandara yang ideal.

Ketiga, jarak eks lapangan terbang Maluka dengan ibukota provinsi Kalimantan Selatan ± 70 km, dengan kota Banjarbaru ± 60 km atau dengan kota Pelaihari ± 65 km merupakan jarak yang relative tidak jauh atau mudah ditempuh.

Keempat, pembangunan bandara baru di Maluka akan berdampak positif terhadap pengembangan kawasan permukiman penduduk, social, ekonomi dan budaya di daerah Maluka. Di sekitar Maluka akan bermunculan permukiman dan perkantoran, serta akan   geliat ekonomi baru. Sementara bagi bandara Syamsuddin Noor dan kota Banjarbaru nantinya akan terjadi pengurangan beban sosial, budaya, pencemaran lingkungan khususnya kebisingan polusi suara di kota Banjarbaru.

Kelima, secara bertahap eks lapangan terbang Maluka terlebih dahulu dijadikan bandara perintis, seperti halnya bandara Warukin di Kabupaten Tabalong atau bandara Gusti Syamsir Alam di Kabupaten Kotabaru. Setelah itu dapat dikembangkan sebagai bandara alternatif selain bandara Syamsuddin Noor.

Membangun bandara baru di Maluka Baulin memang membutuhkan political will yang kuat dari pemerintah Pusat dan Daerah. Saatnya pemerintah duduk bersama membicarakannya. Untuk jangka pendek, pengembangan bandara Syamsuddin Noor adalah pilihan logis. Akan tetapi, jika melihat trend lonjakan pengguna angkutan udara yang sangat cepat, sementara kondisi lingkungan bandara Syamsuddin Noor tidak kondusif maka tidak ada pilihan lain untuk membangun bandara baru. Dan, pilihan bandara baru itu ada di kawasan eks lapangan terbang Maluka. Bagaimana pendapat sampeyan?

2 Komentar leave one →
  1. November 9, 2014 12:29 am

    Maluka nampaknya tidak begitu jauh dari Banjarbaru. Mungkin sesuai sebagai tempat bandara alternatif berdasarkan alasan-alasan yang sdr kemukakan.

  2. November 9, 2014 4:03 am

    Maluka Baulin bukan saja tapak sejarah Kalsel – tetapi memiliki kondisi lahan dan perkembangan pemukiman yang luas sehingga sangat memungkinkan adanya bandara internasional – seharusnya dimulai dengan pendekatan kultural terhadap konsep Banjarbakula sebelum diimplementasikan secara teknis – hal ini menjaga kemungkinan kegagalan pada beberapa program besar selama ini (sebut saja terminal km 17 dan jalan tol yg semrawut)..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: