Skip to content

MENULIS: TERBITKAN ATAU MINGGIRLAH!

April 6, 2015

Oleh Wajidi

Di banyak negara, dosen yang tidak menulis buku dianggap tidak pantas untuk mengajar. Karena itu, di sana ada ungkapan yang terkenal: Publish or Perish! Artinya Terbitkan atau Minggirlah! Judul artikel ini mengambil ungkapan tersebut untuk menegaskan betapa di negara maju buku menjadi tolok ukur utama kepatutan seorang dosen untuk mengajar.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Kalsel. Mohon maaf, ungkapan itu bukan untuk menyudutkan para akademisi kita. Hanya untuk mengintrodusir diri kita bersama betapa seharusnya kita lebih banyak menghasilkan buku. Kalau ada yang beranggapan bahwa itu di luar negeri, dan di Indonesia apalagi di Kalsel tidak seperti itu. Kalau hal itu dijadikan alasan, berarti kita telah mengebiri semangat kemajuan. Ketika negara-negara maju menghasilkan banyak publikasi berupa buku dan jurnal ilmiah, kita masih berkutat dengan budaya lisan dan enggan menulis buku.

Seorang peneliti, akademisi, apalagi seorang ilmuwan akan sangat disayangkan jika ilmunya hanya di simpan di otak, atau hanya pandai berbicara dan enggan menuliskannya. Padahal, dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah al-‘Alaq, ada perintah kepada manusia agar “membaca (iqra)” dan “menulis (kalam)”. Artinya, manusia harus banyak membaca, dan membaca adalah langkah awal menjadi penulis. Dengan membaca, akan banyak ilmu yang diperoleh. Ilmu yang hanya disampaikan secara lisan tanpa ditulis akan mudah dilupakan. Sajak Kalil Gibran: “Lupakan segala yang telah kita katakan. Omongan hanyalah debu di udara”.

Lain halnya jika ilmunya itu dituangkan ke dalam sebuah buku, maka banyak orang lain yang akan mengambil manfaatnya. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, demikian perkataan bijak Ali bin Abi Thalib, dan terbitkanlah menjadi buku. Datu Kelampayan (Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari) di abad ke-18 telah memberikan contoh yang baik bagaimana mengikat ilmu dengan menulisnya menjadi buku, sehingga nama dan pemikiran beliau abadi dan menjadi ladang amal jariyah yang terus mengalir.

Lalu bagaimana dengan penulis namun ia bukan akademisi, peneliti, atau ilmuwan. Hakikatnya sama saja! Ada ungkapan lainnya, “buku adalah mahkota bagi penulis”. Apa pun profesi yang disandangnya, jika ia menulis dan menerbitkannya menjadi buku, maka bukunya itu mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding tulisannya yang terbit di surat kabar, majalah, webblog.

Buku dapat dimiliki oleh masyarakat dari berbagai kalangan, lebih abadi karena dapat dijadikan bacaan dan rujukan di sepanjang masa. Buku yang berbobot memiliki berbagai kelebihan dibanding jurnal ilmiah yang penggunanya relatif terbatas apalagi jika dibanding dengan artikel yang terbit di surat kabar yang apabila selesai nantinya dikilo. Oleh karena itu, buku menempati tempat teratas atau dianalogikan sebagai mahkota bagi penulis.

Terlebih lagi, bagi seorang peneliti, karya tulis berupa buku adalah “pembeda” antar peneliti. Ungkapan: “All scientists are the same until one of them writes a book” (Semua ilmuwan atau peneliti itu sama sampai salah satu di antaranya menulis buku). Artinya, jika seorang peneliti telah menghasilkan banyak buku maka kedudukan, reputasi, dan keilmuannya pantas diakui sehingga membuatnya berbeda dari peneliti‐peneliti lain yang (mungkin) hanya mengandalkan jurnal ilmiah.

Alhamdulillah sebagai seorang penulis dengan jabatan fungsional peneliti madya saya telah memublikasikan tulisan di jurnal ilmiah, majalah, buletin, surat kabar, dan menghasilkan 15 buah buku atau bagian dari buku baik sebagai penulis tunggal maupun tim. Sebagai penulis, saya pernah memenangkan 7 kali lomba penulisan artikel di tingkat nasional dan lokal. Saya juga mempunyai weblog untuk memuat tulisan saya di dunia maya dengan nama: bubuhanbanjar.wordpress.com.

Benefit apa yang diperoleh dari menulis? Dibanding keuntungan finansial saya lebih merasakan kepuasan batin, bahwa tulisan-tulisan saya dibaca, dijadikan bahan rujukan, dan kadang-kadang dicari orang dan dijadikan narasumber hingga sekarang ini. Ada kepuasan ketika saya mengetahui buku saya itu ada tersimpan di The Library of Congress di Washington DC, di Ohio University Libraries, di Belanda, Jepang, Australia, dan tentu saja di beberapa perpustakaan dan pada perseorangan di Indonesia dan Kalsel tentunya. Insya Allah, selama buku-buku itu dimanfaatkan maka akan tetap menjadi ladang amal yang akan terus mengalir.

Ilmu Kepepet

Seorang keponakan yang berkeinginan menulis bertanya kepada saya, bagaimana awal mulanya sehingga kemudian saya menjadi penulis buku. Saya jawab, jujur saya tidak memiliki ilmu jurnalistik, dan tidak pernah sekalipun ikut kursus atau pelatihan menulis. Saya menulis karena selain berkat taufik, hidayah, dan inayah-Nya, juga lebih bermodalkan ketekunan menulis, dan belajar secara autodidak. Satu-satunya ilmu yang saya miliki saat pertama kali menulis adalah: “ilmu kepepet”. Dia gelak tertawa. Tapi ini betul!

Di tahun 1989 untuk pertama kalinya saya menulis artikel dan terbit di surat kabar Dinamika Berita (kini Kalimantan Post) dan Banjarmasin Post. Mau tahu honor yang diterima? Hanya Rp 4.500 di Dinamika Berita dan Rp 5.000 di Banjarmasin Post. Jangan dibayangkan bahwa nilai ekstrinsik honor dari kedua surat kabar pada saat itu tinggi. Tidak seberapa jika dibanding honor menulis di surat kabar di Jawa yang kala itu mungkin mencapai Rp 25.000 sekali terbit, apalagi dibandingkan dengan honor jika menulis di surat kabar nasional macam Kompas, jauh sekali bedanya.

Walau tak seberapa, saat pertama kali menerima wesel dari kedua surat kabar itu, girangnya bukan main. Apalagi, sebagai anak kos, uang belanja yang diterima dari kampung memang tidak seberapa, sehingga harus berputar otak untuk menambah penghasilan.

Karena kepepet secara ekonomi-lah, maka saya lebih sering menulis di surat kabar dan mengikuti perlombaan menulis di tingkat lokal dan nasional. Seringkali pula ditolak redaksi, dan kalah dalam lomba menulis. Akan tetapi, ditolak dan kalah itu mengandung hikmah untuk lebih tekun mengasah kemampuan menulis.

Seorang penulis memang harus mengasah intelektualitasnya di berbagai publikasi. Misalnya, menulis opini di surat kabar sangatlah diperlukan untuk menuangkan refleksi atau pergulatan pemikiran atas masalah, isu atau topik yang sedang berkembang di masyarakat. Akan tetapi, artikel yang terbit di surat kabar bisa dikumpulkan dan diolah kembali ke dalam tema umum dan kemudian diterbitkan menjadi buku. Cara inilah yang pernah saya lakukan.

Sama halnya menulis secara umum, menulis buku juga (lebih) membutuhkan ketekunan. Untuk lancar menulis, ketekunan lebih utama dibanding kepintaran. Lihat saja banyak profesor, doktor,  master atau sarjana yang dikategorikan pintar namun kikuk dalam menulis. Suka membaca dan mencari sumber rujukan adalah langkah awal menjadi seorang penulis. Seorang penulis adalah juga seorang pembaca. Pembaca dalam arti luas; membaca fenomena sosial di masyarakat dan mengangkatnya menjadi sebuah tema tulisan. Atau lebih mudahnya pembaca buku dan kemudian memasukkan, merangkum, atau meramunya ke dalam tulisan.

Untuk menulis harus ada motivasi. Betul saja. Lalu motivasinya apa? Berbagai penulis mempunyai motivasi yang berbeda. Kenali diri dan pelajari manfaat menulis. Motivasi menulis buku bagi seorang peneliti atau dosen adalah sebagai bahan penilaian angka kredit untuk jabatan fungsional. Semakin banyak karya tulis, maka jabatan fungsional akan lebih cepat naik. Bagi penulis lepas, motivasi menulis mungkin untuk menyalurkan hobi dan mendapatkan uang. Sah-sah saja, apalagi banyak penulis yang mendapat uang banyak karena bukunya menjadi best seller.

Pejuang Gerilya

Saya pernah mengungkapkan gambaran penulis buku di Kalsel dengan satu ungkapan: “penulis buku adalah juga pejuang gerilya”. Saya menyatakan demikian, bukan karena saya pernah menulis buku berjudul: “Kesetiaan Kepada Republik” yang isinya mendeskripsikan pahit getirnya para pejuang gerilya pimpinan Hassan Basry memperjuangkan Kalimantan Selatan untuk tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia padahal Pemerintah Republik Indonesia saat itu secara sadar melalui Persetujuan Linggajati melepaskan pulau Kalimantan menjadi bagian dari kekuasaan Belanda.

Saya sangat menyadari bahwa tidak patut mempersamakan pahit getirnya “perjuangan gerilya” pada masa revolusi fisik dengan “perjuangan gerilya” menulis dan menerbitkan buku. Jauh sekali perbedaannya dan tentu sangat berat tantangan yang dihadapi pejuang gerilya dahulu. Saya hanya ingin menganalogikan bahwa untuk menghasilkan sebuah buku maka menulis (pemula) harus bergerilya menulis, bergerilya mencari dana, bergerilya menerbitkannya, dan bergerilya pula memasarkannnya. Dan, itulah yang saya rasakan dan juga dirasakan oleh teman-teman penulis buku lainnya.

Kalau penulis di Kalsel adalah pejuang gerilya, apa yang menjadi musuhnya? Kemalasan! Saya pun merasakannya. Walau pun sudah menulis berbagai buku, saya masih merasa seorang penulis musiman. Malas masih menjadi musuh utama saya. Terkadang malas menulis, dan terkadang menggebu. Saat menulis pun belum dengan sepenuh cinta, namun ketika sudah menulis terkadang seolah mengejar tayang, dan lupa waktu.

Musuh penulis ini harus dilawan dengan ketekunan. Pintar atau cerdas saja tak cukup untuk mampu menulis. Kemampuan menulis harus terus diasah dengan ketekunan. Tulis, tulis, dan teruslah menulis. Dosen, motivator penulisan, penulis puluhan judul buku, dan ratusan tulisan di media cetak, Dr. Ersis Warmansyah Abbas, M.Pd memberikan kiat sederhana namun jitu: tulislah apa yang anda pikirkan, jangan memikirkan apa yang akan anda tulis!

Saat awal bekerja di Balitbangda Provinsi Kalsel saya dilibatkan dalam penelitian dan penulisan buku “Sejarah Banjar” (2003) dan buku “Urang Banjar dan Kebudayaannya” (2005) dalam sebuah tim yang dibentuk oleh Lembaga Budaya Banjar. Keterlibatan dalam penulisan dan penerbitan kedua buku itu merupakan momen awal saya belajar menulis dan menerbitkan buku.

Di tahun 2007 melalui Pustaka Banua saya menerbitkan dua judul buku sekaligus. Buku “Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik”, dan buku “Nasionalisme Indonesia Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942”. Untuk menyelesaikan kedua draft buku itu, saya betul-betul bergerilya. Gerilya pertama adalah saat menyusun buku proklamasi selama lima tahun, dan tiga tahun menyelesaikan buku nasionalisme sampai ke purna cetaknya. Draft lengkap selesai disusun, saya kembali bergerilya mencari pendanaan untuk menerbitkan buku tersebut. Sejumlah proposal dikirim ke pemerintah provinsi, dan perusahaan pertambangan. Ada pihak yang membantu, dan ada yang menolak atau tidak memberikan respon sama sekali. Terbit buku, kembali bergerilya memasarkan sebagian buku itu ke sejumlah toko buku di Banjarmasin, di samping mendistribusikannya secara gratis kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Tahun 2008 saya kembali menerbitkan buku melalui Debut Press, dan di tahun 2012 dengan melalui Pustaka Book Publisher, keduanya penerbit di Yogyakarta. Tidak semua buku yang saya tulis mengacu kepada tata tulis ilmiah yang ketat, saya juga menulis buku yang berkategori ringan. Saya terinspirasi dari beberapa penulis lainnya bahwa untuk menulis buku tidak selalu harus tema yang berat-berat. Kalau terlalu ilmiah atau berat harus memerlukan banyak tenaga dan waktu sehingga kapan selesainya?

Mungkin pembaca ada yang bertanya tentang cara menerbitkannya. Apakah dengan sistem royalti, jual putus, atau bagaimana? Selama ini saya belum pernah menerbitkan buku dengan sistem royalti. Semuanya dengan dana sendiri. Caranya dengan meminjam nama penerbit yang mencetak dan menerbitkan buku saya.

Pertama kalinya di tahun 2007 saya menggunakan penerbit yang berdomisili di Banjarmasin, dan seterusnya menggunakan penerbit di Yogyakarta. Kenapa ke Jawa, bukan di Banjarmasin lagi, karena dengan berhubungan langsung dengan penerbit di Jawa harga cetakan lebih murah dan kualitasnya bagus. Umumnya penerbit di Banjarmasin tidak memiliki mesin percetakan (kecuali percetakan Grafika Wangi Kalimantan dan Radar Banjarmasin), sehingga mereka juga mencetak buku di Jawa untuk untuk mendapatkan kualitas cetakan yang bagus. Wajar jika harga cetak per eksemplar penerbit Banjarmasin lebih mahal dibanding harga cetak jika kita langsung berhubungan dengan penerbit di Jawa.

Kita cukup mengirim draft naskah buku yang sudah matang melalui pos elektronik ke alamat e-mail penerbit di Jawa untuk kemudian di lay-out. Nomor dan barcode ISBN cukup penerbit yang menguruskannya. Melalui e-mail pula kita bisa melihat hasil lay-out sampul dan isi buku, dan memberikan koreksi yang diperlukan sebelum naik cetak. Biaya cetak biasanya dibayar sebagian di muka, dan dibayar lunas melalui transper ATM saat buku sudah diterima di Banjarmasin.

Berapa biaya yang diperlukan untuk mencetak sejumlah buku? Ada penerbit yang menggunakan batas minimal misalnya bisa dicetak jika memesan 500 atau 1000 eksemplar. Ada pula penerbit yang tidak membatasi, misalnya 10 eksemplar pun bisa dicetak namun harga per eksemplarnya mahal. Pada prinsifnya, semakin banyak yang dicetak semakin murah harga per eksemplarnya.

Ada dua pola negosiasi harga dengan penerbit, yakni dengan menanyakan berapa harga cetak untuk jumlah cetakan yang kita inginkan. Atau sebaliknya, jika kita punya uang terbatas, misalnya Rp 3 juta, tanyakan dengan uang segitu berapa eksemplar kemampuan pihak penerbit untuk mencetak buku dengan spesifikasi atau ukuran tertentu?

Di benak saya, kepiawaian menerbitkan buku sangatlah diperlukan. Mungkin sudah berjibun buku tentang bagaimana menulis dan memotivasi penulis, dan hanya sedikit yang memuat tentang tata cara menerbitkan buku; mencari dana, berurusan dengan penerbit, dan memasarkan buku. Menerbitkan buku berbeda dengan menerbitkan artikel di surat kabar, majalah, atau jurnal ilmiah. Jika sistem royalti dari penerbit tidak didapatkan, mau tidak mau penulis harus bergerilya mencari sponsor yang dapat mendanai penerbitan, atau dengan biaya sendiri, dan kelak memasarkannya.

Itulah persoalan yang dihadapi penulis buku. Ternyata, pejuang gerilya tidak hanya melawan penjajah Belanda dulu. Pejuang gerilya kini adalah penulis yang bergerilya untuk dapat menerbitkan dan memasarkan buku. Selesai menulis, harus menerbitkannya. Jika tidak diterbitkan, maka tulisan mereka pada hakikatnya belumlah selesai! Bagaimana menurut dangsanak, akur hajakah?

4 Komentar leave one →
  1. Kamaruddin permalink
    April 12, 2015 6:42 am

    assalamualaikum…..sangat percaya jika ketekunan dalam menulis yg membuat seseorang bisa dengan lancar menulis,,namun Allah memang memberikan kelebihan yg berbeda pada setiap orang

  2. Mei 10, 2015 4:53 am

    Membaca dan menulis merupakan sesuatu yg harus diasah lg di negara ini. Kebanyakan masih terperangkap dalam ruang ‘malas atau tak ada waktu’ untuk melakukannya.

  3. November 20, 2015 9:35 pm

    Salut saya sama tulisan mas…ijin share mas

  4. Desember 7, 2015 5:00 pm

    Kami merasa saat ini koran2 yang ada tidak cukup banyak menyediakan space untuk masyarakat dalam mengembangkan potensi menulisnya (terutama untuk seni sastra).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: