Skip to content

QUO VADIS KAMPUNG WISATA KUIN?

Juli 29, 2015

Oleh Wajidi

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada tahun 2010 telah menetapkan kampung Kuin di Kota Banjarmasin sebagai salah satu dari 200 desa/kampung wisata di Indonesia. Pengembangannya dilakukan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) Pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan melalui usaha kepariwisataan, serta menciptakan iklim kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan itu sendiri. Sebelumnya, melalui PNPM Mandiri telah dilakukan pengembangan kampung Alalak Selatan, khususnya pada lokasi yang berdekatan dengan gerbang pintu masuk kawasan wisata Pasar Terapung.

Konsep kampung wisata budaya dipandang sangat cocok dikembangkan di Kuin sebab kawasan Kuin dapat dikategorikan sebagai permukiman komunitas Banjar lama, yang berkembang hingga saat ini. Yang dimaksud Kampung Wisata Kuin di sini dapat diartikan sebagai suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku di kampung Kuin. Sedangkan pengertian kampung wisata budaya adalah menjadikan desa atau kampung dengan segenap potensi seni budaya masyarakatnya sebagai sasaran wisata.DSC02220

Sebagai kampung wisata budaya, maka di Kuin dapat ditemukan beberapa peninggalan arkeologis yang terkait dengan berbagai peristiwa sejarah, baik artefaktual, monumental maupun toponimi. Diantaranya sisa-sisa bangunan arsitektural di kompleks Makam Sultan Suriansyah, makam tokoh-tokoh sejarah masa awal Kerajaan Banjar dan Masjid Sultan Suriansyah, yang didukung oleh permukiman tradisional yang berada di pinggiran sungai, aktivitas pasar terapung. Vegetasi, infrastruktur, dan kehidupan masyarakatnya juga masih menggambarkan budaya dan adat istiadat Banjar.

Kota seribu sungai merupakan landmark kota Banjarmasin, dan dari kondisi fisik maupun sosial masyarakatnya yang akrab dengan budaya sungai itulah melekat identitas diri kota Banjarmasin yakni pasar terapung (floating market). Dibanding kera Bekantan yang menjadi ikon Banjarmasin, pasar terapung dan transportasi sungai lebih mengglobal. Ingat sosok Acil Pasar Terapung di RCTI Oke? Pasar terapung merupakan rohnya kota Banjarmasin. Jika disebut Banjarmasin, maka orang luar provinsi ataupun mancanegara akan langsung mengaitkannya dengan Pasar Terapung. Persoalannya kini adalah pariwisata kota Banjarmasin seolah kehilangan roh seiring dengan meredupnya aktivitas pasar terapung di muara Kuin.

 

Kendala

Menelusuri kota Banjarmasin dengan transportasi darat bukanlah pilihan yang tepat. Jelas terasa hambar jika dibanding menggunakan transportasi sungai seperti jukung atau klotok. Melalui transportasi sungai, gambaran eksotika budaya masyarakat Banjarmasin sangat jelas terlihat dan dirasa, karena bermula dari sungai itulah aktivitas budaya dan banyak peristiwa sejarah bermula.

Oleh karena itulah, pengembangan pariwisata kota Banjarmasin tidak boleh dilepaskan dari pengembangan wisata budaya sungai, dan pengembangannya dapat dilakukan di Kampung Wisata Kuin. Banyak manfaat yang dapat diperoleh seperti kontribusinya bagi peningkatan pendapatan masyarakat setempat melalui kegiatan ekonomi berbasis budaya, penanda ikon daerah, dan kebanggaan identitas dari komunitas budaya Banjar dalam tataran lokal, nasional dan bahkan global, maupun sebagai suatu entitas pelestarian budaya Banjar, yang keberadaannya memiliki ciri khas, unik dan berbeda dengan budaya di lain tempat.

Mencermati kondisi Kampung Wisata Kuin kini, terkesan daya tarik wisatanya terhalang oleh beberapa kendala seperti kondisi sungai Kuin yang sudah sangat tercemar dengan sampah, infrastruktur jalan darat menuju kampung Kuin relatif sempit, areal permukiman antara kompleks Makam Sultan Suriansyah dan Masjid Sultan Suriansyah dikelilingi oleh lingkungan perumahan yang tidak teratur, padat, dan terkesan kumuh dan terlihat banyak sampah. Kurangnya kawasan RTH (Ruang terbuka Hijau) khususnya di bantaran sungai dan perkampungan, belum tersedianya secara layak fasilitas pendukung kebersihan lokasi lingkungan seperti tempat sampah dan toilet, minimnya peraturan yang mengatur bagi wisatawan di kampung Kuin, serta masih lemahnya promosi dan informasi bagi wisatawan.

Terkait dengan daya tarik wisata, maka pengembangan Kampung Wisata Kuin belum terintegrasi dengan objek wisata lainnya. Di lokasi kompleks Makam maupun Masjid Sultan Suriansyah belum ada petunjuk memadai mengenai objek wisata lainnya selain pulau kembang dan pasar terapung, tidak ada informasi tentang sentra kerajinan kerajinan, produk seni budaya, camilan khas Banjar atau souvenir. Selain dermaga, juga belum tersedia tempat memadai untuk pagelaran atraksi wisata. Kecuali di kompleks masjid, maka gerai untuk penjualan souvenir juga sangat minim.DSC02262

Di objek wisata ini juga tidak ada pemandu wisata yang secara proaktif menjemput pengunjung. Di sekitar kompleks juga tidak tersedia homestay yang dapat digunakan oleh para pengunjung. Begitupula dengan kuliner tradisional Banjar di sekitar objek wisata itu, juga sangat kurang, terkecuali soto Rina yang ada di Kuin Selatan yang cukup ramai dikunjungi pembeli.

Kompleks makam dan masjid sudah mempunyai papan nama yang terlihat cukup jelas jika dilihat dari sungai, namun jika kedua lokasi dimasuki dari arah jalan darat dari Jalan Pangeran maka tidak terlihat ada gerbang nama yang memberikan informasi bahwa pengunjung memasuki “Kampung Wisata Kuin”.

 

Dilematis

Kecenderungan pariwisata dunia sekarang menganut pada slogan “back to nature” yaitu suatu gerakan untuk kembali pada sesuatu yang alami, yang ditandai dengan kembali ke alam (eco-tourism), dan melihat bagaimana kehidupan yang dirasa merupakan budaya asli atau komunitas yang masih bersahaja. Sesuatu yang alami ini, baik kondisi alam, permukiman tradisional maupun adat istiadat yang masih dipertahankan oleh sebuah komunitas akan menjadi suatu hal yang menarik atau eksotis.

Begitupula halnya dengan kehidupan sosial budaya di sepanjang sungai dan kampung Kuin mempunyai daya tarik wisata. Akan tetapi, ada persoalan yang cukup dilematis yakni ketika pemerintah mengembangkan Kampung Wisata Kuin justru kehidupan masyarakat di Banjarmasin dengan budaya sungainya sudah semakin jauh memudar. Sungai sudah semakin ditinggalkan dan tercemar. Masyarakat lebih sering mengunjungi objek wisata di Kuin dengan transportasi darat. Aktivitas pedagang dengan jukung di Pasar Terapung Kuin pun dapat dihitung dengan jari. Padahal budaya sungai dengan transportasi sungainya itulah yang menjadi esensi pengembangan Kampung Wisata Kuin.DSC02182

Persoalannya memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Akumulasi persoalan seolah benang kusut menjadi penyebabnya, seperti pergeseran transportasi sungai ke darat, munculnya warung-warung di darat di sekitar pasar terapung Kuin, transportasi darat yang lebih efisien dan efektif, mahalnya bahan baku pembuatan jukung, dan meredupnya pabrik kayu lapis, serta perilaku masyarakat yang tidak menjaga kebersihan sungai dan lingkungan objek wisata. Kesemuanya berperan mempengaruhi keberadaan Kampung Wisata Kuin.

Beragam sampah yang memenuhi sungai merupakan persoalan yang sangat krusial. Ada perasaan malu seketika muncul saat klotok yang membawa wisatawan memasuki Sungai Kuin dari Sungai Martapura karena sungai dipenuhi sampah buangan yang mengambang hasil aktivitas perdagangan di Pasar Lama. Begitupula halnya perjalanan di darat, mendekati dermaga Pasar Terapung Kuin di kampung kiri kanan jalan dipenuhi sampah plastik. Padahal, dalam konsep ekowisata, kebersahajaan kehidupan masyarakat akan lebih menarik jika didukung budaya bersih. Objek wisata budaya boleh saja apa adanya, asli dan bersahaja namun harus bersih, dan itu akan lebih eksotis dibanding objek wisata dengan fasilitas modern namun tidak terawat, kotor atau dipenuhi sampah.

Mencermati perjalanan selama lima tahun sesudah penetapan Kuin sebagai sebagai kampung wisata, jelas tergambar bahwa pengembangan Kampung Wisata Kuin terasa lambat dan terkesan tidak mempunyai desain dan tujuan yang jelas. Berbagai kendala menghadang, rencana dan program pun sudah disusun dan dilaksanakan namun belum optimal untuk menjadikannya sebagai kampung wisata budaya yang dibanggakan. Mengutip frasa latin: Quo Vadis, kiranya tepat jika kita mempertanyakan, mau dibawa kemana pengembangan Kampung Wisata Kuin?

2 Komentar leave one →
  1. Juli 29, 2015 1:29 pm

    Di Kalimantan Selatan sekarang juga diperkaya dengan hadirnya Kampung Inggris Transmigrasi (KITrans) di Desa Karang Indah, Mandastana, Barito Kuala. Mengintegrasikan kemampuan bahasa dengan wisata merupakan terobosan untuk memperluas pemahaman Kampung Kuin. Cobalah tengok KITrans Batola.

  2. Desember 7, 2015 4:52 pm

    Kami pernah masuk ke Museum di Komplek Makam Sultan Suriansyah, tapi benda2, foto2 dan pajangan tidak sesuai dengan fakta sejarah dan cenderung semaunya memberi keterangan terhadap foto2 / benda yang dipajang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: