Skip to content

EKSOTIKA TRADISI BA-AYUN MAULID DI MASJID BANUA HALAT

Desember 28, 2015

Oleh Wajidi

lomba blog wisata kalsel
Matahari beranjak naik. Panas terik mulai menyengat, namun arus manusia menuju desa Banua Halat semakin ramai, dan menjelang tengah hari kepadatan mencapai puncaknya. Hari itu, Kamis 24 Desember 2015 bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1437 Hijriah,  ribuan manusia berjejal  di Masjid Banua Halat untuk  menghadiri pelaksanaan upacara Ba-ayun Maulid.
Ba-ayun Maulid merupakan tradisi ma-ayun (mengayun) anak  yang dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ba-ayun asal katanya “ayun’ artinya melakukan proses ayunan, sedangkan maulid berasal dari peristiwa maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Ba-ayun Maulid diartikan sebagai kegiatan mengayun bayi atau anak sambil mengalunkan syair maulid bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masjid Banua Halat

Masjid Banua Halat

Destinasi wisata Kalsel ini berada di desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin. Lokasinya berjarak sekitar 2 km ke arah barat dari kota Rantau ibukota Kabupaten Tapin, atau berada sekitar 130 km di arah utara Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalsel.

Masjid Banua Halat (2)

Ruang Induk Masjid Banua Halat

Prosesi Ba-ayun Maulid
Ba-ayun Maulid merupakan tradisi yang dilaksanakan dengan mengundang seluruh warga kampung dan bahkan luar kampung. Upacara ini dilaksanakan di masjid. Oleh karena itu, pada ruangan masjid digantungi ayunan yang membentang pada tiang-tiang masjid.
Dahulu sekali, upacara Ba-ayun Maulid hanya diikuti secara terbatas oleh bayi atau anak-anak warga bubuhan tutus (warga asli) yang lahir di Banua Halat saja, namun kini bisa diikuti oleh siapa saja yang berminat. Anak-anak, orang dewasa, kakek, nenek boleh menjadi peserta Ba-ayun Maulid.

Orang-orang tua yang ikut upacara Ba-ayun Maulid didorong oleh beberapa motivasi seperti untuk memenuhi  hajat atau nazar karena terbebas dari jeratan hukum, ingin atau telah sembuh dari penyakit, sukses meraih reputasi tertentu, dan lain sebagainya.

Ba-ayun Maulid di Banua Halat

Prosesi Ma-ayun Anak Dalam Upacara Ba-ayun Maulid

Ayunan yang digunakan peserta berupa:  tapih bahalai tiga lembar, tali tiga meter, kakamban tiga lembar, dan biasanya sudah disediakan panitia, lengkap dengan berbagai hiasan anyaman janur dan kue tradisional.
Orang tua yang anaknya  ikut diayun harus menyerahkan piduduk berupa sasanggan berisi beras kurang lebih 3 ½ liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur dan nasi ketan, benang, jarum dan sebongkah garam serta uang perak.

Piduduk

Piduduk

Upacara Ba-ayun Maulid  dimulai pukul 10.00 pagi ditandai dengan pembacaan beberapa syair seperti syair Barzanji, syair Syarafal Anam dan syair Diba’i. Saat kalimat  asyrakal dalam syair Barzanji dibacakan, serempak anak-anak diayun secara perlahan dengan menarik selendang yang diikat pada ayunan tersebut. Maksud diayun pada saat itu adalah untuk mengambil berkah atas keluhuran akhlak dan kemuliaan Rasulullah SAW yang kelahirannya diperingati saat itu.

Tapung Tawar

Tapung Tawar dan Doa Tuan Guru

Semua anak yang diayun  didoakan bersama  dipimpin oleh pemuka agama (tuan guru). Mereka berdoa agar anak-anaknya kelak menjadi umat yang bertakwa, taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Interaksi Islam dan Budaya
Ba-ayun Maulid merupakan upacara yang mencerminkan sebuah proses kesinambungan masyarakat dengan masa lalunya ketika belum ber-Islam. Tujuan, perlengkapan, dan pelaksanaannya memang  tidak persis sama dengan tradisi sebelumnya  karena telah diisi dengan  nilai-nilai Islam, meski diakui pula sebagian anasir lama masih dipertahankan.

Anak Berayun

Ma-ayun Anak

Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran Rasulullah SAW, maka Ba-ayun Maulid juga berfungsi untuk menghubungkan silaturahim keluarga besar juriat Banua Halat  yang tersebar di berbagai daerah atau diyakini berada di “dunia lain“.
Upacara Ba-ayun Maulid sebenarnya berasal tradisi ma-ayun anak yang dilaksanakan pada acara bapalas bidan, yakni sebuah tradisi dalam budaya pra-Islam. Ketika Islam datang ke daerah ini,  bapalas bidan dan ma-ayun anak tidak dilarang, hanya saja  mantra  diganti  dengan  cara dan doa-doa Islam, serta dilaksanakan di masjid bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akhirnya dikenal dengan nama Ba-ayun Maulid.

Orang tua berayun

Orang tua dalam Ayunan

Adanya interaksi antara Islam dan budaya  dalam tradisi Ba-ayun Maulid dapat dipahami bahwa ketika Islam masuk dan berkembang di Banua Halat tidak lantas berbagai tradisi dan/atau kepercayaan lama hilang begitu saja. Para pendakwah dengan sangat arif menyampaikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sehingga tradisi lama  tetap dipertahankan dan justru Islam memengaruhi kepercayaan masyarakat setempat. Pada upacara Ba-ayun Maulid  sisa-sisa kepercayaan lama itu masih ada, namun telah  berakulturasi dengan Islam.

Sebagai destinasi wisata Kalsel, tradisi Ba-ayun Maulid sangatlah menarik, unik dan eksotik. Keberadaannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia harus terus dijaga dan dikembangkan sebagai event wisata tahunan andalan Kalsel.

One Comment leave one →
  1. riris permalink
    Januari 2, 2016 12:52 am

    Sepakat bahwa tradisi ini unik karena berbeda dgn maulid nabi di daerah lain. Menarik dan eksotik karena diikuti oleh ribuan peserta. Anak berayun itu biasa, dan terlihat luar biasa manakala melihat kakek ikut berayun dlm tradisi Ba-ayun Maulid…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: