Skip to content

DARI KERAJAAN TANJUNG PURA KE MASJID PUSAKA

Mei 12, 2009

Oleh Wajidi

Tanjung Pura yang pernah dijadikan nama Komando Daerah Militer VI (kini menjadi Kodam XII Tanjung Pura) dianggap dahulunya sebagai kerajaan ter¬tua yang pernah ada di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Ketapang. Tetapi nama Kerajaan Tanjung Pura dengan ibukotanya Tanjung Puri, dalam tradisi lisan kadang disebut berada di Kalimantan Selatan, yakni diperkirakan berada di daerah ali¬ran sungai Tabalong yakni daerah Banua Lawas, Kelua atau Tanjung sekarang. Selain disebut Tanjung Pura, kadang juga disebut Kerajaan Tanjung Puri. Hal ini dimengerti karena riwayat kerajaan tersebut lebih banyak berupa asumsi berdasar data berupa tradisi lisan yang sangat terbatas dan diragukan kebenarannya.
Kerajaan Tanjung Pura dengan ibukotanya Tanjung Puri diperkirakan berada di daerah ali¬ran sungai Tabalong yakni daerah Banua Lawas, Kelua atau Tanjung sekarang.
Pada masa lalu, daerah aliran Sungai Tabalong merupakan daerah konsentrasi koloni Melayu yang per¬tama. Perpaduannya dengan kebu¬dayaan orang Maanyan, Bukit kemu¬dian Ngaju telah menghasilkan etnis Banjar dengan unsur Melayu yang lebih dominan.
J.J. Rass dalam Hikayat Banjar: A Study In Malay Historiography memperkirakan bahwa Tanjung Pura yang berada di sekitar Tanjung adalah koloni orang Melayu dari zaman awal Sriwijaya. Mereka berlayar memasuki teluk besar Barito dan masuk ke daerah Tabalong.
Ketika kerajaan Tanjung Pura diserang oleh imigran-imigran pelarian dari Jawa, maka pusat perdagangan beralih ke Amuntai (Negara Dipa). Perpindahan tersebut selain seiring dengan penguasaan dan pertumbuhan pusat-pusat politik dan ekonomi, juga berkaitan dengan proses geomorfologi yang mana terjadi pendangkalan yang cepat di hulu Sungai Tabalong.

Negeri Nan Sarunai
Dalam Negarakertagama kara¬ngan Mpu Prapanca (1365) ada disebutkan tentang daerah-daerah yang terletak di sepanjang Sungai Negara, Batang Tabalong, Sungai Barito dan sekitarnya. Mpu Prapanca menyebut daerah tersebut berada di Nusa Tanjung Negara dan ini identik dengan pulau Hujung Tanah yang tak lain adalah barisan pegunungan Meratus yang men¬jorok ke laut.
Mengenai serangan imigran pelarian Jawa, orang Maanyan yang mengaku mempunyai sebuah kera¬jaan bernama Nan Sarunai di Kota Raden Amuntai sebagaimana dinyanyikan wadian suku itu, menyebutkan bahwa kerajaan Nan Sarunai han¬cur karena “usak Jawa” atau sera¬ngan Jawa. Mereka menyebut pe¬nyerang tersebut dengan nama ”Maramjapahit”.
Hingga kini belum terungkap dengan jelas tentang hubungan antara kerajaan Nan Sarunai dengan Kerajaan Tanjung Pura atau kaitan¬nya dengan pindahnya pusat kekuasaan politik dan ekonomi dari Tanjung Pura ke Negara Dipa.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa peristiwa yang tergambar dalarn nyanyian wadian tersebut berkaitan erat dengan perampas kekuasaan (usurpator) Raden Sekar Sungsang yang memindahkan pusat kekuasaan dari Negara Dipa ke Negara Daha.
Versi lain terdapat dalam tradisi lisan yang berkembang di daerah Banua Lawas dan sekitarnya yang menyebutkan bahwa tepat di lokasi Masjid Pusaka Banua Lawas yakni masjid tua berarsitektur tradisional beratap tumpang tiga, jauh sebelum agama Hindu dan Islam berkembang, sudah berdiri semacam pesanggra¬han atau tempat pemujaan keper¬cayaan Kaharingan suku Maanyan dalam bentuk yang sederhana.
Tempat pemujaan itu diang¬gap sakral, dan man¬faatnya terasa sangat penting bagi orang-orang Maanyan yang pada masa itu banyak bermukim di Banua Lawas.
Mereka kemudian menyebut daerah lokasi bangunan pemujaan tersebut sebagai Banua Lawas atau Banua Usang. Suatu kemungkinan menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat, kemunculan, dan berkembangnya daerah-daerah lain di sekitarnya berawal dari Banua Lawas ini.
Kemungkinan peristiwa besar ter¬jadi yang memaksa mereka harus meninggalkan kampung halaman dan bermukim atau membangun pemukiman baru, dan akhirnya mereka menyebut kampung yang ditinggalkan tersebut sebagai Banua Lawas.
Tradisi lisan yang berkembang di Banua Lawas menyebutkan bahwa sebagian orang-orang Maanyan menyingkir karena mereka tidak bersedia menerima Islam sebagai agama mereka.
Tetapi kemungkinan lainnya adalah berkaitan dengan para imigran pelarian dari Jawa yang datang aki¬bat kerusuhan politik di daerah asalnya dan mendirikan kerajaan baru di pulau Hujung Tanah berna¬ma Negara Dipa.

Masjid Pusaka
Dalam Hikayat Lembu (Lam¬bung) Mangkurat, Tutur Candi maupun Hikayat Banjar atau Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin disebutkan bahwa Negara Dipa didirikan oleh Mpu Jatmika, anak saudagar Mang¬kubumi dari Keling. Ia mening¬galkan Keling dengan kapal Si Prabayaksa dan diikuti oleh para pengikutnya untuk mencari atau mendirikan negara baru.
Sesuai dengan amanat ayahnya, bahwa mereka harus mencari negeri yang bertanah panas dan berbau harum yang kemudian ternyata adalah Pulau Hujung Tanah. Setelah tiba di pulau dimaksud, mereka kemudian mendirikan kerajaan Negara Dipa dan mendirikan Candi. Mpu Jatmika sendiri kemudian bergelar Maha¬raja di Candi.
Istilah Keling menurut Van der Tuuk sebagaimana dikutip dari buku Banjarmasin susunan M. Idwar Saleh adalah berhubungan dengan Jawa bukan Kalingga di India. Di Jawa Timur terdapat sebuah distrik dengan nama Kaling serta dalam cerita-cerita Jawa sebagai alternatif dari Kuripan dan Jenggala. Sedangkan B. Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies mengidentifikasikan Keling dengan Kediri Utara.
Datangnya para imigran dari Jawa ke Pulau Hujung Tanah dilatarbelakangi oleh Perang Ganter (1222 M) yakni perang antara Ken Arok dengan Kertajaya (Raja Kediri). Dalam pertempuran terse¬but Kertajaya tewas dan Kediri run¬tuh. Ken Arok kemudian menjadi raja di kerajaan yang ia dirikan kemudian bernama Singosari.
Pengikut Kertajaya yang tetap setia atau tidak tahan atas perlakuan Ken Arok, melarikan diri ke pulau Hujung Tanah dan mendirikan Negara Dipa di pertemuan Sungai Negara dengan sungai Balangan. Dalam perkembangan selanjutnya Negara Dipa menjadi vazal dari kerajaan Majapahit, yakni kerajaan yang tumbuh sesudah runtuhnya Singosari.
Dalam Hikayat Banjar diterangkan bahwa Mpu Jatmika juga telah memerintahkan supaya Hulubalang Arya Megatsari dengan seribu ten¬taranya menaklukkan daerah Batang Tabalong, Batang Balangan dan Batang Pitap. Dengan kekuataan yang sama, berangkat pula Tumenggung Tatahjiwa ke daerah Batang Alai, Batang Hamandit, dan Labuan Amas.
Akibat penaklukan terhadap daerah Batang Tabalong, maka daerah Kelua, Banua Lawas kemu¬dian menjadi daerah kekuasaan Negara Dipa yang berarti pula jaja¬han Majapahit. Dalam Negara¬kertagama karangan Mpu Prapanca disebutkan bahwa daerah Barito, Sawako dan Tabalong adalah jajahan Majapahit.
Peristiwa penaklukan daerah Batang Tabalong oleh Negara Dipa sebagai vazal Majapahit terus membekas dan menjadi ingatan kolektif orang-orang Maanyan, sebagaimana tergambar dari dinyanyikan wadian suku itu, menyebutkan bahwa kerajaan Nan Sarunai han¬cur karena “usak Jawa” atau sera¬ngan Jawa, atau yang mereka sebut dengan nama ”Maramjapahit”.
Peristiwa penaklukan tersebut disertai dengan proses penyebaran agama dan budaya Hindu, serta pengikisan kepercayaan atau budaya lama. Kemungkinan saja di lokasi bekas pesanggrahan dan pemujaan orang Maanyan kemudi¬an didirikan tempat pemujaan bagi para penganut Hindu Siwa. Setelah Islam berkembang di lokasi ini kemudian didirikan Masjid Pusaka.
Banua Lawas diyakini oleh orang Maanyan sebagai pusat Kerajaan Nan Sarunai yang kemudian mereka tinggalkan karena diserang Majapahit. Mereka kemudian menyebutnya kampung yang ditinggalkan dengan nama Banua Lawas. Menurut mereka di belakang Masjid Pusaka Banua Lawas terdapat makam raja Raden Anyan atau terkenal dalam sejarah lisan orang Maanyan dengan nama Am’mah Jarang. Di bawah lantai masjid, dahulunya terdapat sumur tua tempat Raden Anyan gugur ditombak Laksamana Nala. Dan di belakang masjid terdapat tujuh pohon kamboja besar-besar sebagai pertanda moksanya tujuh orang putera Raden Anyan, yaitu Jarang, Idong, Pan’ning, Engko, Engkai, Liban, dan Bangkas (Rafiek, 2009:1220-1221).
Menurut tradisi lisan, sebagian orang-orang Maanyan menyingkir karena mereka tidak bersedia menerima Islam sebagai agama mereka. Akan tetapi, orang-orang Maanyan yang menerima Islam dan yang tetap bertahan dengan kepercayaan lamanya itu, tetap menjalin hubungan persaudaraan, sebagaimana diperlihatkan mereka pada saat bergotong royong membangun Masjid Banua Halat di bekas lokasi bangunan suci orang Maanyan.
Menurut tradisi lisan, Masjid Pusaka Banua Lawas didirikan oleh Khatib Dayan bersama-sama dengan Datu Kartamina, Datu Sari Negara, Datu Sri Panji, Datu Rangganan dan datu lainnya yang telah memeluk agama Islam pada tahun 1625 M bersamaan dengan pendirian Masjid Pusaka Puain pada tahun itu juga dan pada saat itu Kerajaan Banjar diperintah oleh Sultan Inayatullah. Dilihat dari namanya, kemungkinan Datu Sari Nagara dan Datu Sri Panji sebelumnya memeluk agama Hindu. Menurut informasi, Masjid Pusaka Banua Lawas dipugar pada tahun 1669, 1769, 1791,1848,1932, dan terakhir tahun 1999 dan 2003 oleh Direktorat Linbinjarah.
Sudah sepantasnya situs masjid Pusaka Banua Lawas dipelihara dan diteliti secara mendalam baik yang berkenaan de¬ngan arsitektur, sejarah maupun arkeologinya. Di belakang masjid misalnya terdapat tumpukan batu bata yang berada di sela-sela makam kuno yang hingga kini belum diketahui apakah merupakan bekas jirat sebuah makam ataukah bekas rerun¬tuhan bangunan pemujaan di masa lampau.

20 Komentar leave one →
  1. Juni 30, 2009 4:09 am

    info menarik. tapi, lebih baik lagi kalo ada sumber bacaannya, jadi bisa ikutan baca juga. trims

    Masukan berharga….terima kasih bung Hajri…..

  2. Agustus 4, 2009 10:15 am

    Saya adalah keturunan datu puain…kami tinggal sekarang di banjarmasin…orang tua n keluarga tinggal ditanjung n di kelua n muara uya n lainnya…kami ingin tahu yg lebih banyak tentang puain…jikalau andika berkenan…sebab sejarah puain sampai saat ini masih di rahasiakan oleh tetuhaan kami…kami hanya di suruh datang ke mesjid puain…untuk mengingat juriat tanpa boleh tahu sejarahnya.

    Data tentang Datu Puain dan Masjid Puain sangat terbatas…mungkin bukan “dirahasiakan” melainkan para tetuha di Puain juga kurang mengetahuinya…sejarah masa awal perkembangan Islam memang bercampur antara fakta dan mitos lantaran terbatasnya sumber tertulis….tugas kita bersama-sama mengangkat sejarahnya. Jadi kalo saumpama andika bulik ka Puain…coba lacak sumber tertulisnya, inkripsi yang ada di bangunan masjid, benda-benda peninggalannya, dan gali kisah orang tuha bahari….mudahan terkuak…Tks

  3. JOY permalink
    Oktober 20, 2009 4:12 am

    Sangat menyentuh nurani, begitu rumitnya, menyambung sejarah/ meurai sejarah secara lugas.
    Namun sebagai kawula sekitar TKP, ulun angkat topi
    yang tulus, eee, ternyata sangat indah, dan menawan. jarang orang secara jujur menggali potensi diri, untuk menambah citra datu niniknya.
    Majuterus dan tampilkan jatidirinya. Semoga Yang Maha Esa selalu membibingnya.

    Tantangan kita bersama (termasuk anda) untuk menggali dan mengangkat peristiwa yang terjadi di sekitar TKP

  4. Jati permalink
    Desember 19, 2009 1:37 am

    Makasih sudah mengungkap sejarah Mesjid Pusaka Banua Lawas………
    Tapi saya belum tahu letak mesjid Puain…kloe boleh tahu di mana letak dan alamatnya. Mksh.

    Desa Puain Kanan, kalo nggak salah…lupa2 ingat

  5. Hendra Adien permalink
    Maret 25, 2010 6:55 pm

    Ribuan Terimakasih aku ucapkan kpd si pembuat cerita ini..
    Cerita ini menambah pengetahuan orang-orang Tanjung Tabalong.

    <<>>

    Sama-sama. Terimakasih juga

  6. Kamal Ansyari permalink
    April 5, 2010 11:16 pm

    Masih belum byk yang mengupas sejarah Datuk panglima hamandit di batang hamandit, hulu sungai selatan.

    cubai pang situ mamulai….

    • November 1, 2010 7:26 pm

      Di Ketapang Kalimantan Barat terdapat cagar budaya berupa candi bata merah. di desa benua lama sekarang desa negeri baru kec. Benua kayong. Candi ini diduga merupakan sisa dari kerajaan tanjungpura. 2 km dari situ terdapat situs makam keamat tujuh yang memiliki tahun 1418 masehi. Balai arkeologi banjar masin telah mengadakan penelitian tentang situs ini, hanya belum mampu mengungkap siapa yang mendirikan candi ini dan tahun berapa

      Ya betul. Saya juga telah menerima informasi langsung dari teman-teman peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin yang telah melakukan penelitian di Ketapang…

  7. adi permalink
    Februari 25, 2011 10:29 am

    dalam cerita sejarah tersebut kita pernah di kalahkan oleh kerajaan dari jawa ya…..jadi sampai saat ini kita masih di kuasai oleh org2 luar ………jadi dimana kehebatan orng banjar/org dayak…..jaman dulunya……aku rasa cerita sejarah tersebut perlu diteliti lebih dalam lagi,,,agar asumsi atau kesimpulan yg salah bisa merubah sejarah.,,,atau mencuci…otak kita tentang sejarah kita…….

    • Agus Rizal permalink
      April 15, 2012 6:18 pm

      Mungkin sang penulisnya keturunan jawa, jadi sukunya az yg diangkat. Padahal cerita yg sebenarnya pasti bukan demikian. Orang jawa sama az dengan bangsa Belanda.. senang menguasai, tetapi tidak bisa menguasai sepenuhnya suku banjar…. Kerajaan Majapahit tidak bisa menguasai kerajaan yg ada di Banjar, Malah sebaliknya Panglima, Saudara seperguruan Gajah Mada tewas dibunuh dgn penggalnya kelapa oleh panglima” Kerajaan yg ada dibanjar. Jadi mana mungkin orang jawa bisa menjadi raja diBanjar. Jadi Orang jawa memutar balikan fakta,,,, tidak bisa menguasai kerajaan, tetapi dalam bidang sastra orang jawapun tetap ingin menguasai. Orang Banjar Pantang DiRemehkan Dan Bukan Penjilat….

      • dildaar80 permalink
        April 18, 2012 10:07 pm

        Posting saja cerita lengkap dari versi yg berbeda tersebut. Masa cerita rakyat di banjar yg tidak sesuai dng pendapat anda langsung dibilang ditulis orang jawa.

        Seperti kata anda, keperwiraan orang banjar begitu tinggi. Lagi pula pengaruh penjajahan belanda tdk sedalam seperti di jawa. Pasti kisah versi asli dan lengkapnya masih ada. kalau memang tdk sesuai dng kisah diatas. Diposting saja. Sekarang jaman reformasi kok.

  8. Orang gila lagi waras permalink
    Mei 13, 2011 10:38 pm

    saya perlu membuka wawasan ttg sejarah indonesia khususnya sejarah Banjar dan sekitarnya,seolah-olah Jawa adalah superioritas,ingat pada masa era kemerdekaan dan revolusi fisik wawasan nusantara itu selalu didengungkan oleh Soekarno yg bertujuan politis dan anggapan bhw majapahit sbg kerajaan pemersatu,sumpah palapa yg diucapkan gajahmada adalah senjata ampuh bagi soekarno utk persatukan nusantara,ttpi itu semua belum otentik kebenarannya,kekhawatiran saya semua itu hanyalah trik2 politik era tersebut utk kepentingan politik diplomasi dlm upaya kemerdekaan bangsa,namun sesungguhnya di balik itu semua adalah kebohongan,selama ini mpu prapanca & mpu jatmika tulisannya dianggap selalu benar dan membenarkan sejarah,tpi ingat semua hrs dikaji ulang dan perlu ada lawan tanding utk menguji keabsahan tulisan2/karangan2 mereka dgn bukti2 sejarah lain,bisa saja mpu2 itu sengaja memutar balikkan fakta bhw majapahit selalu menang tentu bermaksud utk menunjukkan kpd lawan2 politik majapahit ttg kehebatan majapahit ttpi apakah bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.Ingat!!bhw dlm sebuah penaklukkan dan perang,strategi perang informasi sudah dilakukan sejak jaman purbakala hingga sampai saat ini,strategi perang informasi terbukti efektif sehingga mampu mencuci otak masyarakat dan akhirnya percaya,skalipun secara fakta adalah kebalikannya

    • Agus Rizal permalink
      April 15, 2012 6:24 pm

      Orang Banjar Dan Dayak Takkan Tertandingi, Apa lagi diBenua Kita. orang jawa hanya bisa menguasai dalam bidang sastrasaja…. namun kenyataannya yg telah diceritakannya hanya untuk pencitraan. Orang jawa pertama datang sopan santun, tetapi apabila kita lengah kita pasti ditindasnya. Karena orang jawa haus akan kekuasaan

  9. urang Banua permalink
    Juli 15, 2011 11:26 pm

    Sejarah Majapahit kebanyakan bohongnya atau karamputnya, jawa tidak punta budaya maritim, kada mungkin jawa kawa menyerang pulau laen, bahkan kalo tidak salah candi borubodur di buat oleh dinasti orang2 sriwijaya (liat wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Samaratungga) jadi mitos majapahit itu cuman omong kosong soekarno (yang pahancikan) utk mencuci otak orang2 luar jawa…kalo memang majapahit pernah menguasai nusantara kenapa budaya jawa (misalnya cara pakaian dan bahasa) tdak ada kita temukan pada budaya2 di luar pulau jawa, yang ada malah kita menemukan persamaan budaya melayu pada orang2 sumatra, kalimantan dan sebagian sulawesi (liat aja pakaian adatnya dan bahasanya). keraguan tentang nusantara versi majapahit justru sudah mulai di ekspos eberapa tahun belakangan ini oleh orang luar jawa dan dunia international.

    • dildaar80 permalink
      Agustus 13, 2011 1:54 am

      Jangan langsung menyalahkan Sukarno bila membicarakan mitos majapahit.
      Perlu diselidiki secara ilmiah, apakah sebutan mengenai majapahit di banjar tersebut sudah ada sebelum sukarno atau setelahnya.

      Bekas budaya jawa yg kurang pada saat ini bila dibandingkan budaya melayu jangan menjadi patokan mutlak bahwa jawa tdk pernah menanamkan pengaruhnya di luar jawa. Karena apa? fakta bahwa mayoritas orang banjar sekarang itu Muslim dan bekas2 budaya Hindu sangat minim bukan argumetnasi mutlak bahwa dulunya orang Banjar pernah terpengaruh Hindu atau BUddha.

      Harus ada penelitian ilmiah pergeseran dan penyingkiran budaya dst.

      • Agus Rizal permalink
        April 15, 2012 6:28 pm

        Orang Banjar Sopan dan santun, Tetapi bila dihianati sodok, timpas dan potong kepala. Jadi tak mungkin orang jawa sampai menguasai kerajaan yg ada di banjar…

      • dildaar80 permalink
        April 18, 2012 9:40 pm

        Interaksi dan saling mempengaruhi pasti ada di sebuah regional yg dekat… bisa jadi salah satu menjadi dominan dibanding yg lain..

        Faktanya ialah cerita rakyat diatas terekam dalm memori dan tulisan kawan2 di banjar.

        Anehnya di Majapahit malah tdk detail penceritaan soal itu (malah hanya menyebut nama daerah saja).

        Sebelum menuduh harus dibuktikan dulu bahwa sastra diatas dibuat oleh orang Jawa..jangan asal menuduh.

  10. Mei 5, 2014 10:44 pm

    mantap

  11. kebenaran terungkap permalink
    Januari 24, 2015 5:02 am

    dunia tidak mengenal majapahit hanya sriwijaya yg terdapat dlm sejarah yg mempunyai pengaruh luas,nusantara sampai ke siam.

  12. yudo sudarto permalink
    Februari 17, 2016 6:41 pm

    dI kETAPANG Kalbar asal usul Kerajaan Tanjungpura dikenalk di disa Tanjungpura kec. Muara Pawan yang sekarang terkenal dengan situs makam raja Tanjungpura. Selain itu ada juga situs keramat sembilan yaitu di desa Negeri Baru Kec. Benua Kayong Kab Ketapang, konon desa negeri baru ini dulunya bernama benua lama. Di desa ini para arkeologi (termasuk Arkeologi Banjarmasin) menemukan makam muslim yang bertarik tahun 1418 SM, dengan tulisan huruf saka. Juga ditemukan candi yang konon merupakan candi terbesar di Kalimantan. Tahun nya belum ditemukan , diduga sebelum 1418 sm karena candi ini lebih dulu ada sebelum makam keramat tersebut. Karena itu penemuan ini menjadi bukti kerajaan tanjungpura berada di Kalbar. Apalagi candi tersebut cukup besar sehingga layak menjadi ibukota Tanjungpura. Menurut catatan ibukota Tanjungpura tersebut berpindah pindah salah satunya pernah berada di Sukadana Kab KKU Kalbar, disini salah seorang keturunan rajanya bernama Karang tunjung, ini juga bisa jadi menjadi asal usul nama Tanjungpura, karena raja ini hibi dengan bau dari bunga tanjung ( trim yudo sudarto, Ketapang Kalbar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: