Skip to content

KARAKTER ORANG BANJAR DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT PENDATANG

Oktober 18, 2013

Oleh Wajidi

Assalamualaikum.
Saya baru 6 bulan tinggal di Banjarbaru. Saya asli Sunda, saat awal saya berinteraksi dengan orang Banjar saya cukup terkaget-kaget dengan banyak hal. Cara berbicaranya yang cepat dan terkesan ramai, sikap yang blak-blakan apa adanya (mirip dengan orang Sumatera atau Madura) tapi tidak mudah sakit hati menurut saya dan malas (kurang aktif ) memang saya setuju. Hal ini dibuktikan etos kerja dan kedisiplinan yang sangat berbeda dengan Jakarta tempat dimana saya sebelumnya tinggal. Tapi kecintaan mereka terhadap keluarga, kejujuran dan sikap penolong cukup dominan. Masyarakat yang menarik dan unik. Sejujurnya saya betah dan menikmati tinggal di banua ini. Youlee Handayani.

Dalam blog: bubuhanbanjar.wordpress.com, saya memposting sebuah tulisan berjudul: Mengkritisi “Karakter” Orang Banjar, yang ternyata mendapat komentar dari banyak blogger atau pengunjung, terutama dari kalangan etnis lain yang pernah bergaul dengan etnis Banjar seperti dari Youlee Handayani di atas, selain penanggap dari orang Banjar sendiri.
Dalam kalimat pembuka, saya menulis bahwa kalau kita membicarakan budaya Banjar tidak mesti harus berorientasi kepada masa lalu dan mengabaikan manfaatnya untuk masa depan. Kita perlu mendiskusikan nilai-nilai budaya apa yang perlu digali, dikembangkan atau direkayasa sebagai pembentuk karakter (watak, akhlak, kepribadian) orang Banjar guna menopang kemajuan menuju kesejahteraan Kalimantan Selatan. Sebaliknya mungkin saja ada nilai-nilai budaya atau kebiasaan yang layak dihilangkan karena jika terus berkembang atau berurat berakar di masyarakat justru akan menghambat kemajuan.
Apa yang dimaksud dengan karakter? Istilah karakter menurut Tilaar (2008) adalah watak, sifat-sifat hakiki seseorang atau suatu kelompok atau bangsa. Konsep karakter menurut Singgih Tri Sulistiyono (2011) dapat merujuk kepada berbagai atribut-atribut moral yang menjadi penanda seorang individu atau kelompok sosial termasuk sebuah bangsa, misalnya disiplin, keberanian, integritas, ketabahan, kejujuran, kesetiaan. Jika orang berbicara tentang karakter bangsa tentunya mengacu kepada atribut-atribut moral tersebut, misalnya bangsa Jepang terkenal sebagai bangsa yang disiplin, pekerja keras, dan tabah. Jika sekarang banyak orang yang prihatin mengenai hilangnya karakter suatu bangsa, maka berarti nilai-nilai moral tentang kedisiplinan, kerja keras, integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran, kesetiaan kepada bangsa dan negara mengalami kemerosotan. Sehingga yang muncul kemudian adalah atribut moral yang bersifat negatif seperti tidak disiplin, tidak memiliki integritas, malas, tidak loyal, dan sebagainya. Bagaimana dengan karakter orang Banjar?

Persoalan Karakter Orang Banjar

Kajian ilmiah tentang karakter orang Banjar, sepengetahuan saya belum pernah dilakukan. Atau dalam bentuk tulisan sebagaimana Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan (1974), dan Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia (2001) tentang watak atau karakter umum orang Indonesia, juga belum ada. Akan tetapi, bukan berarti abstraksi tentang karakter orang Banjar tidak ada sama sekali.
Dari berbagai perbincangan atau diskusi dengan para antropolog, sosiolog, budayawan ataupun sejarawan diperoleh refleksi bahwa karakteristik umum orang Banjar digambarkan kepada dua hal: (1) Memiliki sosok budaya demokratik-egaliter seperti budaya demokratik dalam kesamaan dan menanggalkan segala sifat hierarkis/ paternalistik; (2) Memiliki budaya dagang seperti sifat egaliter, mandiri, dan dinamis.
Persoalannya kini adalah haruskah kita menerima gambaran karakteristik masyarakat Banjar tersebut tanpa mengkritisinya sementara kajian ilmiah tentangnya belum pernah dilakukan? Seperti pada karakter memiliki sosok budaya demokratik-egaliter pada kenyataan empiris justru memunculkan ekses berupa stigma negatif terhadap tabiat orang Banjar. Sikap kesetaraan, sifat dinamis dan mandiri, menjadikan orang Banjar dikesankan dan cenderung susah diatur, susah diajak disiplin, bahkan “manimpakul” atau “mailung larut”. Hal itu tercermin dari berbagai kasus yang menyangkut tata krama atau sopan santun dalam pergaulan, sikap berlalu lintas, kurang peduli kebersihan lingkungan, dan sebagainya.
Beberapa tahun silam, seorang yang pernah menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan yang nota bene adalah pendatang pernah mengeluhkan kondisi lalu lintas kota Banjarmasin yang sangat semarawut, karena masyarakatnya susah diajak disiplin berlalu lintas, saling serobot, menerobos lampu merah, parkir atau berhenti seenaknya, dan sebagainya. Lebih parah lagi, ketika lalu lintas bertambah padat timbul kebiasaan baru pada segelintir masyarakat kota yang membuang bangkai binatang pengerat (tikus) ke jalan raya agar dilindas roda kendaraan dan kering terpanggang sinar matahari.
Perilaku ini memang biasa terjadi dan ada di mana-mana, dan tidak hanya ada pada orang Banjar. Menerobos lampu merah atau kuning, sebenarnya bukan perilaku asli masyarakat Banjar yang dikatakan sulit diatur. Akan tetapi ketika perilaku itu dilakukan berulang-ulang atau sering ditemui pada masyarakat Banjar, maka seperti itulah streotipe orang Banjar menurut pandangan masyarakat pendatang.
Begitu pula halnya dengan budaya dagang. Benarkah masyarakat Banjar memiliki karakter budaya dagang dan kewirausahaan yang kuat? Seberapa banyak saudagar Banjar dahulu yang mampu bertahan sampai kini atau malah usaha perdagangannya semakin melemah atau malah bubar? Seberapa banyak pula para pengusaha Banjar yang bermunculan dan mampu berkiprah dalam perdagangan nasional, internasional, ataukah hanya pedagang kecil-kecilan yang lumrah terdapat di daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Saya mengajak sedikit menengok selintas sejarah perekonomian di Kalimantan Selatan. Sejak zaman Belanda atau sesudah perang kemerdekaan (1945-1949), di banua kita (Kalimantan Selatan) mengenal sejumlah pengusaha/saudagar Banjar yang ternyata sejalan dengan perjalanan waktu banyak yang tidak lagi eksis. Selain pedagang asal Alabio, Negara, dan Bakumpai, di kawasan kampung Sungai Jingah, Banjarmasin, dahulu terdapat beberapa saudagar kaya, sehingga dikenal sebagai “Kampung Saudagar”, salah satunya adalah H. Muhammad Said Nafis. Rumah beliau di sungai Jingah berada dekat Kubah Surgi Mufti, tepatnya di arah sisi barat kubah tersebut. Namun sayangnya, salah satu rumah beliau berarsitektur Eropa sudah dirobohkan oleh ahli warisnya.
Beliau ini mempunyai armada kapal dan beraktivitas melakukan perdagangan antar pulau. Komoditas utama yang diperdagangkan beliau adalah tembakau (bahasa Banjar, timbako). Beliau mempunyai rumah di Ampenan pulau Lombok, dan dikenal sebagai saudagar yang paling kaya di sana.
Para saudagar Banjar itu, kini hanya menyisakan bangunan atau tonggak-tonggak bekas rumah besar yang umumnya berarsitektur Banjar di sepanjang kampung Sungai Jingah maupun sungai Barito Marabahan sebagai simbol kejayaan ekonomi mereka di masa lalu.
Saudagar Banjar dahulu hampir tidak ada yang berkembang menjadi pedagang atau pengusaha besar, seperti halnya NV. Kalla, Grup Bakrie, atau pengusaha etnis Tionghoa, meskipun masih memiliki pengusaha Sulaiman HB, H.M Taher, H.M. Ramlan, dan sebagainya. Saudagar-saudagar kayu yang dahulu berjaya, satu persatu kini rontok ketika kayu dan kayu lapis tidak lagi menjadi primadona ekspor Kalimantan Selatan. Kini telah muncul beberapa pengusaha muda Banjar di bisnis tambang batu bara, namun entah sampai kapan mereka bertahan?
Mengapa tidak banyak saudagar Banjar yang menjadi pengusaha besar? Memang diakui orang Banjar punya budaya dagang, namun di antara sesama pedagang atau pengusaha Banjar kurang memiliki kemauan berkerjasama sehingga hanya sedikit yang menjadi pengusaha besar. Adanya saling curiga di sesama mereka seolah ingin menjatuhkan, telah memunculkan persaingan yang tidak sehat. Beberapa peribahasa atau ungkapan bernilai negatif pada masyarakat Banjar mencerminkan adanya egoisme dan curiga yang dimiliki orang Banjar, sehingga berimbas pada praktek bisnis kotor: (1) Kada dibawa bajukung mahamput, dibawa bajukung malenggang; (2) Nang Jaya Kada Babawaan; (3) Kalau Nyaman Handak Nyaman Saurangan; (4) Nang Baluman Jaya Kada Kawa Malihat Usaha Urang Maju Handak Maruntuhakan; (5) Lamun Handak Hancur Labih Baik Hancur Barataan.
Karakter budaya dagang yang sangat memperhatikan “untung rugi” juga berimbas pada praktek keberagamaan orang Banjar yang lebih memunculkan “kesalehan individual” dibanding “kesalehan sosial”. Dahulu apalagi sekarang banyak orang Banjar yang naik haji terutama umrah berkali-kali untuk meraih pahala yang dianggapnya mempunyai nilai yang lebih besar dibanding dengan menyantuni kerabat atau tetangganya yang ekonominya tidak mampu, anak-anak yatim piatu, atau pun fakir miskin lainnya.
Begitupula halnya dengan budaya sungai. Masihkah budaya itu dapat dibanggakan ketika orientasi kegiatan ekonomi perdagangan berpindah dari sungai ke daratan, seiring dengan semakin membaiknya lintas tranportasi jalan darat. Kini sungai dan kanal (anjir/antasan, handil/Tatah dan saka) di Banjarmasin banyak yang beralih fungsi menjadi parit, tempat pembuangan sampah dan tinja manusia, sehingga tercemar bakteri e-coli dengan kadar melebihi ambang batas yakni di atas 200 PPM per liter air.
Pangeran Antasari (Pencetus Perang Banjar 1859-1905) pernah berwasiat supaya Urang Banjar Jangan Suka Bacakut Papadaan”. Boleh jadi wasiat itu lahir karena orang Banjar sejak dahulu kala memang suka bacakut, bahual, atau bakalahi sasama papadaan. Celakanya tabiat bacakut itu tidak hanya dilakukan orang jaba atau masyarakat kebanyakan, tapi juga dipertontonkan oleh pemimpin masyarakat. Dalam masyarakat yang menjunjung budaya paternalistik, maka pertarungan dan perilaku sebagian elite kekuasaan dan aparat penegak hukum akan memunculkan krisis kepercayaan, sehingga secara sadar atau tidak sadar telah tertularkan ke tingkat arus bawah (grass root) berupa ketidaktaatan masyarakat terhadap aturan atau hukum.
Dalam lintasan sejarah politik, kita mengenal sejumlah intrik dalam keluarga istana kerajaan, bahkan dari zaman kerajaan sampai zaman republik. Di keluarga istana Kerajaan Negara Dipa di Amuntai pernah terjadi pembunuhan oleh Empu Lembu (Lambung) Mangkurat terhadap dua orang keponakannya yakni Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga. Di Kerajaan Negara Daha terjadi perang antara paman dan keponakan yakni Pangeran Tumenggung dengan Raden Samudera yang berakhir dengan kemunculan Kerajaan (Kesultanan) Banjar Islam. Di istana Kerajaan Banjarmasin pernah terjadi perseteruan antara Pangeran Amir (pewaris sah tahta kerajaan) dengan Pangeran/Sultan Nata Alam, atau antara Pangeran Hidayatullah dengan Sultan Tamjidillah. Terakhir di awal abad ke-21, pernah terjadi intrik politik di lingkungan pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yakni antara Gubernur H.M. Sjachriel Darham dengan Sekretaris Daerah H. Ismet Ahmad. Kebiasaan “bacakut papadaan” sudah saatnya dihilangkan karena justru akan menghambat kemajuan.
Salah seorang penanggap dengan identitas nama Elkisab (Zulfa Jamalie) memberikan komentarnya bahwa terjadinya kisruh politik dan bacakut papadaan itu tidak terlepas dari adanya perubahan sikap dan budaya Banjar yang mengalami degradasi akibat dari pengaruh global dan pertahanan budaya orang Banjar yang makin lemah. Falsafah ‘Kayuh Jukung’ (depan belakang harus sehaluan, searah, setujuan, kayuh bersama mencapai tujuan, depan belakang boleh mengarahkan, seimbang) semakin pudar. Semua itu, tentu bermuara kepada internalisasi pewarisan dan pendidikan budaya yang tidak berjalan, baik secara formal maupun nonformal. Sebab, nilai dan tata nilai budaya dianggap bukanlah faktor yang dianggap penting. Nilai budaya terkadang hanya signifikan dibicarakan dalam forum seminar, namun kemudian kehilangan jejak dalam realita. Semangat hidup ‘kuyang-kuyang, hantu-hantu = urang-urang, aku-aku’ adalah jarum yang telah menembus rasa dan pikiran banyak orang Banjar, dalam politik, ekonomi, sosial dan kehidupan bermasyarakat, dan bidang yang lainnya. Ke depan memang diperlukan revolusi budaya dan mengembalikan orang Banjar kepada budaya semula mereka tanpa tertinggal ‘lokal yang mengglobal dan universal yang berdasar’.

Perspektif Etnis Pendatang

Dari berbagai streotipe orang Banjar yang dikemukakan tersebut dapat dikatakan bahwa telah terjadi degradasi karakter orang Banjar. Hal itu tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang memunculkan perubahan dan pergeseran nilai budaya Banjar dalam berbagai aspek kehidupan.
Seorang penanggap bernama Mahendra yang keturunan Banjar di Jambi memberikan autokritiknya tentang karakter orang Banjar:
Ngalih pang disambat….gampang larut hingga hilang, hingganya mun bakumpulan sasama bubuhan urang lain hingkat mangkoordinir, papadaan saurang kada kawa, cuba pang yang dari puhunnya disini mambari contoh yang kuat wan bubuhan saling batulungan dan manguatkan forum lembaga kabudayaan asli Banjar, jadi yang di parantauan kada hilang dari pangkal padahal banyak yang alim, ngalih maju basaing wan urang, promosi dan lain sebagainya, kada da dukungan walau ada beberapa yang hibat mun tatap kada hingkat manulung yang lain, kasian…….makai bahasa hati tapi nyatanya artinya kada sampai dalam hingganya saolah sama haja.

Orang Banjar Malaysia bernama Elbi Risalah asal Kampung Sungai Haji Dorani, Sungai Besar, Selangor, juga memberikan komentar:
Ulun ni kada suah datang ka Banua, jadi kada pati tahu kayapa ‘ budaya ‘ di situ. Sahibar handak mamadahkan kaum Banjar di Malaysia pada paringkat awal bahari bujur dianggap serung oleh orang/kaum lain. Napa nang tanyata orang Banjar wayah tu disambat orang pawanian banar. Aur handak manyuduk orang awan lading batati haja! Soal manampiling orang hudah jadi kalakuan biasa. Jadinya orang Banjar hudah ‘ dicap ‘ ujar orang/ kaum lain sabagai ‘ganas‘. Bila kaadaan hudah baubah, banyak pacampuran bangsa pulang, orang Banjar di Malaysia wayahni kada lagi ‘dicap ‘ kaya di atas. Orang Banjar wayahni sama haja awan orang/ kaum nang lainnya. Tagal budaya Banjar hudah parak pupus akibat kaadaan kayaitu!. Dimapatuai leh , hudah kahandak-Nya . Zaman hudah baubah napa….

Sementara warga pendatang bernama Utami Prastyo memberikan komentar:
“Menarik karena saya sudah tinggal 3 tahun di Banjar, dan karakteristik yang disebutkan di atas memang yang sering saya temui di lingkungan sekitar saya; budaya tidak mau mengalahnya memang benar-benar acapkali ditemui itu terjadi ketika berlalu lintas, menjalankan bisnis, mengantri, juga dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kadang membuat saya gemas sendiri hehehe, anak-anak orang Banjar juga sangat sangat konsumtif (mungkin karena terbiasa diberi uang banyak oleh orangtuanya) dan keras kepalanya itu loh, walah-walah sering saya mendengar percakapan anak-anak ini ketika temannya memberitahukan sesuatu jawabannya “tau ae” padahal ketika saya perhatikan lagi ternyata belum paham. Hmm tapi anyway saya senang tinggal di sini karena pada dasarnya orang Banjar ramah terhadap pendatang dan tak membedakan antara pendatang atau penduduk asli.

Seorang mahasiswa UII Jogjakarta asal Banjarmasin bernama Amanda Noviana juga memberikan komentarnya:
Saya orang Banjar yang merantau kuliah ke Jogja dan bertemu dengan kalangan dari berbagai daerah. Dan saya setuju dengan yang anda maksud sebagai “kesalehan individual” . Banjar terkenal dengan warganya yang suka naik haji atau bahkan umrah. Bahkan ketika saya umrah, mudah sekali menemui dan mendengar bahasa Banjar di sana. Sedangkan tak bisa dipungkiri juga bahwa masih banyak warga miskin di Banjarmasin yang membutuhkan bantuan dari masyarakat sekitar. Saya harap warga Banjarmasin(termasuk saya) dapat menumbuhkan kesadaran lebih untuk berbagi kepada yang lain. Namun saya juga bangga karena di Banjar begitu banyak masjid atau langgar yang dapat ditemui di sana sini. Sedangkan di Jogja tempat saya sekarang masjid masih agak kurang terlihat dibanding di Banjar.

Dari beberapa komentar yang tidak semuanya ditampilkan dalam tulisan ini dapat diuraikan beberapa hal yang menurut pendapat mereka adalah karakter umum orang Banjar, baik orang Banjar yang tinggal di dalam maupun di luar Kalimantan Selatan. Menurut mereka, orang Banjar itu mempunyai karakter:
1. Suka ngobrol sebagaimana terlihat dari kebiasaan ”mawarung”, dan juga tercermin dari tradisi mamanda, balamut, dan madihin yang lebih berorientasi budaya lisan dibanding budaya tulis.
2. Pandai bicara dalam pertemuan, namun gampang larut, mudah hilang, atau kehilangan jejak dalam realita.
3. Mampu mengkoordinir orang lain, tetapi susah mengkoordinir sesama orang Banjar.
4. Suka meledek dan bercanda dengan sesama, sebagaimana kebiasaan “bahuhulutan” dan ”mahalabiu”.
5. Dahulu berani tarung karena status dan kehormatan yang harus dibela, kini cenderung menghindari masalah dan tanggung jawab.
6. Secara informal memiliki sifat kekeluargaan yang menonjol dalam kehidupan bermasyarakat.
7. Orang Banjar umumnya adalah orang yang taat dalam menjalankan ibadah agama Islam dan banyak yang menjadi ulama besar.
8. Religiusitas orang Banjar lebih terlihat pada ritual keagamaan dibanding dalam pengamalan, dan lebih menonjolkan ”kesalehan individual” dibanding ”kesalehan sosial”.
9. Terbuka, mau menerima masyarakat pendatang, dan tak membedakan antara pendatang atau penduduk asli
10. Cenderung memiliki sifat individualis dan ego yang tinggi sehingga terkesan susah diatur.
11. Kurang beretika, bersopan santun dan rasa malu, serta tidak mau mengalah acapkali ditemui dalam pergaulan, dalam antrian, menjalankan bisnis, dan berlalu lintas.
12. Kurang memiliki etos kerja dan cenderung pemalas.
13. Konsumtif, gengsinya super tinggi, dan cenderung keras kepala.

Gambaran karakter orang Banjar yang disarikan dari beberapa komentar itu, tentu saja bersifat subjektif yang artinya bisa benar dan bisa pula salah. Akan tetapi, perlu diingat bahwa objektivitas dalam ilmu sosial adalah kumpulan dari subjektivitas itu sendiri. Sehingga ketika banyak orang berpendapat yang sama tentang karakter orang Banjar, maka boleh jadi seperti itulah gambaran karakter orang Banjar yang sesungguhnya.
Adanya pandangan tentang karakter orang Banjar yang berasal dari masyarakat pendatang dan orang Banjar sendiri sebagaimana dikemukakan dalam tulisan ini adalah sah-sah saja, dan tidak perlu harus dipersoalkan kebenarannya karena rangkuman karakter orang Banjar sebagaimana tersebut di atas bukan didasarkan atas hasil kajian ilmiah. Yang terpenting adalah bagaimana orang Banjar menyikapinya sebagai bahan instropeksi diri, dan memahaminya mengapa persoalan itu bisa terjadi.
Kebudayaan Banjar memang tidak bersifat statis melainkan dinamis akibat berbagai kontak budaya dalam bentuk proses adaptasi, akulturasi dan asimilasi, serta akibat dampak kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang berimbas kepada pergeseran nilai-nilai budaya lokal. Di satu sisi pergeseran nilai budaya lama ke nilai budaya baru dapat berdampak positif yaitu memperkaya dan mengembangkan budaya Banjar lama dan sekaligus mengadakan penyerapan unsur budaya baru yang berdampak pada kemajuan peradaban masyarakat Banjar. Namun di sisi lain, pengaruh luar lebih sering mengakibatkan lunturnya nilai-nilai luhur, seperti sopan santun dan tata krama baik di dalam intern keluarga maupun interaksi ekstern; pergaulan di masyarakat. Nilai budaya luhur cenderung semakin terancam oleh nilai-nilai yang bersifat destruktif, sehingga dapat menyebabkan generasi muda Banjar tercerabut dari akar budayanya.
Perubahan budaya terjadi berupa pergeseran berbagai aktivitas kehidupan tradisional masyarakat Banjar dari kebudayaan pertanian ke arah budaya kota (urban culture). Pentas budaya tradisional bagi generasi muda Banjar kadang tidak lagi dipandang hal yang menarik. Apresiasi akan seni dan budaya tradisional semakin luntur, termasuk penggunaan bahasa Banjar dalam pergaulan sehari-hari. Kini banyak generasi muda Banjar yang lebih pasih berbahasa Indonesia dibanding dengan bahasa Banjar dan merasa malu dalam berbahasa Banjar.
Mengutip pendapat Prof. Dr. H. Mahdini, MA, dalam kertas kerjanya Orientasi Budaya Banjar, tantangan dan harapan (2010), pergeseran nilai budaya pada masyarakat Banjar itu disebabkan beberapa hal antara lain : Pertama, akibat ketidakmampuan orang Banjar mempertahankan nilai-nilai budaya yang dianutnya selama ini, Kedua, akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang agak lambat direspon, Ketiga, akibat semakin banyak pendatang yang bermukim di kawasan Banjar, Keempat, akibat kelalaian orang Banjar yang memang tidak cermat memelihara kebudayaannya. Kelima, akibat adanya sistem pemerintahan yang tidak berpihak, Keenam, akibat adanya kemandulan pembinaan dan pengembangan kebudayaan Banjar. Ketujuh, melemahnya kontrol sosial. Kedelapan, hilangnya tutuha Banjar yang menjadi teladan. Kesembilan, pola hidup individualistik, materialistic, dan hedonistic. Kesepuluh, suasana keberagamaan yang memudar.
Berbagai pergeseran budaya yang membentuk karakter orang Banjar kini merupakan suatu fenomena yang patut untuk dicermati dan ditanggapi secara positif bahwa kini merupakan saatnya untuk menggali, mengangkat, merawat dan menjadikan budaya Banjar sebagai media pembentuk karakter orang Banjar ke arah yang lebih baik.
Kiranya komentar dari seorang etnis pendatang terhadap orang Banjar di Samarinda, patut menjadi bahan renungan kita bersama:
”Pesan saya, wahai teman-teman (orang Banjar, pen.) di Samarinda, belajarlah dari masyarakat di luar daerah Anda. Belajar menghormati antrian, belajar beretika dan berlalulintas yang benar, belajar menundukkan ego, belajar mendahulukan orang lain, belajar giat dalam bekerja, hormati pejalan kaki, ubah pandangan bahwa orang lain ingin menjatuhkan Anda, camkan di hati dalam-dalam: itu karena rendahnya kualitas kerja, pikiran, kepribadian Anda sendiri. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain, karena kualitas bekerja, pikiran dan kepribadiannya berada di atas Anda.

20 Komentar leave one →
  1. Liza Ibrahim permalink
    Oktober 31, 2013 6:51 am

    Assalamualaikum, nice write up on Banjar. I am your cousin Ibrahim bin Suri daughter, Liza Ibrahim. i hope u have a pleasant stay in kuala lumpur. Hope to bring my father to Kalimantan sometimes soon.

    Terimakasih atas kunjungan keponakan saya Liza Ibrahim. Sampaikan salam saya untuk abah Liza; kanda Ibrahim bin Suri. Bila-bila nak pergi ke Msia lagi dan berkesempatan untuk bersua dengan kulaan di sana. kami jemput untuk datang ke kalimantan. Kedatangan kami alu-alukan..🙂

  2. November 8, 2013 9:45 am

    Mohon lihati website ulun Banua Banjar Anti Jawanisasi
    http://banuabanjar.freeiz.com/

    Berita Terbaru :

    Pendatang Jawa Terlantar di Banua
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=24

    Jawanisasi di Banjarbaru
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=23

    Banua Waspada PSK Jatim
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=27

    Dia Cuma Anti Jawanisasi
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=25

    Transmigrasi, Rekayasa Sosial
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=22

    Jawanisasi di Banjarmasin
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=21

    Ibnu Hadjar, Pejuang Banua Anti Jawanisasi
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=20

    Bentuk Bentuk Jawanisasi di Banua Banjar
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=19

    Batik :Konspirasi Jawanisasi
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=18

    Kalsel Tolak Transmigrasi
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=17

    Ubah Nama Jalan, Stop Jawanisasi !
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=16

    Kisah PSK Jawa di Pembatuan
    http://banuabanjar.freeiz.com/berita.php?id=9

  3. Desember 6, 2013 10:24 pm

    nemu blog ini waktu browsing soal banjar, dulu aku pernah ke banjarmasin… yang bikin kangen tuh soto banjar nya

  4. kuhul kuhul permalink
    Desember 17, 2013 7:08 pm

    umay lahay…….
    banyak kada baiknya pank urang banjar niti….
    untung haja pank ulun kada urang banjar…..ulun niti urang kandangan…hehe

    (4. Suka meledek dan bercanda dengan sesama, sebagaimana kebiasaan “bahuhulutan” dan ”mahalabiu”.)

  5. Fadil permalink
    Maret 13, 2014 4:27 am

    Mas Wajidi, kurang sependapt dg tulisan anda. Klau anda memng mau tau krakter org Banjr jgn melihat secara umum. Banjar terbagi lgi ats Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala. dan Dari ketiga sub org Banjar tsb mmpunyai kebiasaan yg berbeda-beda tiap daerahnya. Tlong sblum mnulis teliti dlu ke lapangan, jngan menilai satu wilayah bgtu sja. Krna Bnjar bnyk mmpunyai keberagaman. Karena Sya orang Banjar, khususnya Banjar Pahuluan. Untuk dprhatikan. Trima ksih

    Terimakasih atas kunjungan dan komentar saudara. Sesuai judul artikel, tulisan ini sebenarnya lebih berupa rangkuman, kesan, penilaian atau apalah namanya berdasarkan sudut pandang atau perspektif masyarakat pendatang saat berinteraksi dengan orang Banjar, yang dihimpun dari artikel saya di blog ini juga: https://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/05/16/mengkritisi-%E2%80%9Ckarakter-orang-banjar%E2%80%9D/…jadi bukan suatu kebenaran mutlak!

    • September 17, 2014 10:08 am

      Terimakasih sebelumnya kpd penulis…utk hal ini saya lebih sependapat dgn Fadli..apa jadinya bila opini ini terbangun oleh pendatang dlm dunia kerja, misalnya di no.12.Baru interview sdh gagal hanya krn menyebutkan suku Banjar…org Banjar tu kada mau tampil banarai,bukan berarti mereka tdk tau…ujar amang jumbran,heehe…Kaya manjuhut rambut di galapung
      (Menyelesaikan persoalan jangan sampai merugikan salah satu pihak).

  6. Mei 14, 2014 9:24 pm

    artikel yg menambah wawasan

  7. Mei 15, 2014 8:30 am

    super sekali ..

  8. Mei 22, 2014 1:25 pm

    wei jadi tahu tentang semuanya thanks

  9. Juni 7, 2014 12:44 am

    mantap juga

  10. Juli 23, 2014 8:16 am

    bagus tuh ..

  11. Agustus 9, 2014 8:01 am

    Nang paling kada baik tu bubuhan kita Banjar ni kabanyakan bapiragah macam2 wan katuju bacakut papadaan, hehe…….ilangi jua pang lapak unda di http://www.isputera.info

  12. September 18, 2014 2:13 am

    banjar uluh itah

  13. November 20, 2015 9:53 pm

    Terima kasih kepada penulis, Menurut saya ini sangat bagus sekali…perlu diadakan semacam seminar. ini sudah sangat bagus mas…

  14. Desember 7, 2015 9:17 pm

    Assalamu alaikum buat admin nang sudah marangkum catatan nya, ulun umpat mananggapi poin-poin nya haja, … mun tasalah mohon maaf, sekedar meluruskan apa yang menurut ulun sadikit tasaliwah.

    1. Suka ngobrol sebagaimana terlihat dari kebiasaan ”mawarung”, dan juga tercermin dari tradisi mamanda, balamut, dan madihin yang lebih berorientasi budaya lisan dibanding budaya tulis.
    ( Suka ngobrol! iya, pada dasarnya orang banjar itu orang-orang yang mengutamakan hubungan sosial kemsyarakatan, itu bisa di lihat kebiasaan mawarung pagi ( baisukan ) sebelum bekerja, satu sisi kebiasaan ini baik, orang banjar bukan tipe orang yang aku-aku ikam-ikam ( tidak perduli siapa tetangga ) kebiasaan nafsi-nafsi bisa di lihat di kota besar dan tidak berlaku di banua.

    2. Pandai bicara dalam pertemuan, namun gampang larut, mudah hilang, atau kehilangan jejak dalam realita.
    ( sobjektif : ini “maaf” biasanya banyak di temukan di segelintir orang banjar (banjarmasin) salah satu karakter yang kurang di sukai banjar pahuluan, sehingga di kalangan banjar pahuluan sendiri ada statmen : Buhan banjar (banjarmasin) ngitu harat pandir nya haja, sipat ini bertulak belakangan dengan banjar pahuluan yang tidak banyak bunyi, ujer buhan pahuluan ” Kadada buriniknya timbul tuntung beulah jamban “.

    3. Mampu mengkoordinir orang lain, tetapi susah mengkoordinir sesama orang Banjar.
    ( Karakter ini kurang pas, jika di arahkan untuk banjar pahuluan, setau ulun buhan pahuluan kurang menguasai soal mengkordinir, orang hulu sungai katuju batajun ka lubang sumur dari pada baracau bapandirnya, soalnya kd tapi bisa. Jika di tujukan untuk banjar “banjarmasin” iya, sisi balik dari poin no 2 )

    4. Suka meledek dan bercanda dengan sesama, sebagaimana kebiasaan “bahuhulutan” dan ”mahalabiu”.
    (iya, khsusnya buhan kalua “halabio”, banjar pahuluan)

    5. Dahulu berani tarung karena status dan kehormatan yang harus dibela, kini cenderung menghindari masalah dan tanggung jawab.
    ( banjar pahuluan “iya” bahkan sampai sekarang, ada istilah buhan kandangan “banjar pahuluan” : wani manggatuk, ku suduk to pang ). Dari sekian banyak sub suku banjar kandangan, rantau paling di kenal soal ilmu kedigjayaan bajajagauan, ilmu kebal senjata kebanyakan dari sini, namun belakangan ini sudah bergeser namun bukan karena watak berani nya hilang, tapi lebih kepada mencegah, para orang tua di hulu sungai mulai menyadari kehidupan sudah berusaha, selama tidak membahayakan diri sendiri atau istilah banjar asal jangan manggantuk, jangan tapi di lawani lagi.

    6. Secara informal memiliki sifat kekeluargaan yang menonjol dalam kehidupan bermasyarakat.
    ( rata-rata orang banjar secara umum )

    7. Orang Banjar umumnya adalah orang yang taat dalam menjalankan ibadah agama Islam dan banyak yang menjadi ulama besar.
    ( Ya, terlebih buhan martapura yang memang secara turun temurun dari kalangan ulama, buhan pahuluan yang dahulu suka adu kejagauan ( jago bertarung ) mulai berubah haluan, lebih santai seperti poin no 5 karena kebanyakan generasi mudanya banyak terpelajar sebagai santri di martapura,)

    8. Religiusitas orang Banjar lebih terlihat pada ritual keagamaan dibanding dalam pengamalan, dan lebih menonjolkan ”kesalehan individual” dibanding ”kesalehan sosial”.
    ( sebagian besar “iya” )

    9. Terbuka, mau menerima masyarakat pendatang, dan tak membedakan antara pendatang atau penduduk asli.
    ( tergantung si pendatang, sipat asli orang banjar adalah mengingat karekter orang lain, jika orang pendatang bersikap santun maka biasanya orang banjar akan membalas lebih santun, namun jika pendatang di anggap tidak meenghargai maka sebaliknya, sifat ini sebenarnya pembawaan sipat asli dayak, peribahasa orang banjar : mun orang manjajak “pijak” , sadang kita lincau ” lincau istilah kasar di pijak lebih dari sekali. )

    10. Cenderung memiliki sifat individualis dan ego yang tinggi sehingga terkesan susah diatur.
    ( ya, sipat asli orang banjar tidak ingin di bodohi, di jadikan kacung oleh orang lain, dll sesuai poin no 9,5. sipat ini lebih kepada menjaga marwah/harga diri, istilah orang tua dahulu yang terus di turunkan ke anak cucu nya : kami ini mungkin bukan orang pintar namun bukan orang bodoh )

    11. Kurang beretika, bersopan santun dan rasa malu, serta tidak mau mengalah acapkali ditemui dalam pergaulan, dalam antrian, menjalankan bisnis, dan berlalu lintas.
    ( ini kembali pada poin no 9, orang banjar punya nilai etika lebih kuat, karena sipat asli akan membalas lebih dari perlakuan orang lain, istilah orang tua dulu : pian sopan kami lebih sopan, pian kasar kami lebih kasar lagi )

    12. Kurang memiliki etos kerja dan cenderung pemalas.
    ( kebanyakan iya, namun segelintir ada yang sangat rajin dalam bekerja, seperti banjar kalua, amuntai dan sekitar nya, orang banjar secara umum kembali ke poin no 1, istilah orang tua dulu : bagawian to jangan kada ingat waktu, sacukup nya haja, lihat fakta : pagi lebih suka sarapan di warung sambil ngobrol sebelum bekerja, sebelum tengah hari sudah istirah, istilah yang sering di gunakan : kada baik malidang dauh masih kakalujut di pahuma’an, pamali jer. Hubungan sosial kemasyarakatan, keluarga lebih di utama kan, bahkan orang yang kurang waktu untuk bermasyarakat atau untuk keluarga nya dan lebih mengutamakan pekerjaan di anggap kurang bagus, ini hanya soal etika dan sudut pandang sebuah masyarakat.

    Lain lagi orang banjar kalua dan amuntai yang rata-rata mahir di dagang, sarapan itu urusan belakangan, makanya orang amuntai di kenal suka lupa waktu ).

    13. Konsumtif, gengsinya super tinggi, dan cenderung keras kepala.

    ( rata-rata iya )

    • ariefe permalink
      Juni 17, 2016 7:50 am

      ulun setuju dengan komentar pian. ulun adalah warga Rantau namun keturunan dari Jawa. Dari beberpa poin yang diutarakan yang masih dan dominan terletak di poin

      1. Suka ngobrol sebagaimana terlihat dari kebiasaan ”mawarung”, dan juga tercermin dari tradisi mamanda, balamut, dan madihin yang lebih berorientasi budaya lisan dibanding budaya tulis.

      5. Dahulu berani tarung karena status dan kehormatan yang harus dibela, kini cenderung menghindari masalah dan tanggung jawab.
      ( banjar pahuluan “iya” bahkan sampai sekarang, ada istilah buhan kandangan “banjar pahuluan” : wani manggatuk, ku suduk to pang ). Dari sekian banyak sub suku banjar kandangan, rantau paling di kenal soal ilmu kedigjayaan bajajagauan, ilmu kebal senjata kebanyakan dari sini, namun belakangan ini sudah bergeser namun bukan karena watak berani nya hilang, tapi lebih kepada mencegah, para orang tua di hulu sungai mulai menyadari kehidupan sudah berusaha, selama tidak membahayakan diri sendiri atau istilah banjar asal jangan manggantuk, jangan tapi di lawani lagi.

      8. Religiusitas orang Banjar lebih terlihat pada ritual keagamaan dibanding dalam pengamalan, dan lebih menonjolkan ”kesalehan individual” dibanding ”kesalehan sosial”.

      10. Cenderung memiliki sifat individualis dan ego yang tinggi sehingga terkesan susah diatur.

      12. Kurang memiliki etos kerja dan cenderung pemalas.
      ( kebanyakan iya, namun segelintir ada yang sangat rajin dalam bekerja, seperti banjar kalua, amuntai dan sekitar nya, orang banjar secara umum kembali ke poin no 1, istilah orang tua dulu : bagawian to jangan kada ingat waktu, sacukup nya haja, lihat fakta : pagi lebih suka sarapan di warung sambil ngobrol sebelum bekerja, sebelum tengah hari sudah istirah, istilah yang sering di gunakan : kada baik malidang dauh masih kakalujut di pahuma’an, pamali jer. Hubungan sosial kemasyarakatan, keluarga lebih di utama kan, bahkan orang yang kurang waktu untuk bermasyarakat atau untuk keluarga nya dan lebih mengutamakan pekerjaan di anggap kurang bagus, ini hanya soal etika dan sudut pandang sebuah masyarakat.

      Lain lagi orang banjar kalua dan amuntai yang rata-rata mahir di dagang, sarapan itu urusan belakangan, makanya orang amuntai di kenal suka lupa waktu ).

      13. Konsumtif, gengsinya super tinggi, dan cenderung keras kepala.

      Dari sekian poin yang diutarakan (Mohon maaf dan mohon ampun) beberapa hal yang kurang berkenan. Poin nomer 5
      Hingga sekarang pun masyarakat dan juga beberapa PEMUDA biasanya membawa atau memiliki Senjata tajam. biasanya diselipkan diantara piggang. hal tersebut memereka menyebutnya sebagai perlindungan atau menjaga diri. Namun ada istilah yang sangat erat “Gipak Suduk” Suduk= Tusuk. nah, sifat ini masih ada diantara kalangan masyarakat rantau. untuk kabupaten hulu sungai dan sekitarnya mash belum tau.

  15. Aau permalink
    Maret 7, 2016 12:38 am

    Mungkin yg diceritakan ini orang banjar kuala, beda jauh sikapnya dengan kami orang pahuluan yg lebih sopan dan santun.☺😊

  16. jasmani permalink
    Mei 6, 2016 3:16 am

    ulun urang banjar asli ,,, “BANGGA”

  17. fadli.tj permalink
    Juli 23, 2016 5:11 am

    kalau menurut saya orang banjar tdk bisa dikatakan sama karna banjar terbagi dari beberapa daerah seperti banjar hulu sungai banjar pahiliran adapula yang dikatakan banjar banjar bukit/orang yang tinggal dipegunungan dan bahkan ada juga yang dikatakan banjar negara yang tempat kumunitasnya padahal brada dikal-tim namun bahasa sama dengan orang banjar pada umumnya ,yang mana kita smua orang banjar kadang tahu watak dari smua orang banjar yang disebut sperti banjar pahuluan,kadang berwatak keras ada pula banjar pahiliran terkadang agak cerewet namun memiliki keahlian dagang seperti orang cina,ada pula banjar bukit yang mayoritasy ,beragama animisme dan terbelakang dengan pendidikan ,jd menurut saya ,banjar ataupun bukan sebenarnya tdk ada bedanya kalau kita lihat dari sipat atau watak, namun orang yang dikatakan banjar asli adalah orang orang yang kesehariannya selalu menggunakan budaya dan tradisi banjar,namun saya selaku urang banjar asli ,bangga ,, dilahirkan dibumi murakata ….ok..?

  18. anni permalink
    November 9, 2016 6:48 pm

    mungkin anda bertemu dengan suku banjar hulu yang berbicarany lebih cepat. namun pada suku banjar kuala seperti saya, kami berbicara dengan logat biasa saja hampir sama dengan logat bahasa Indonesia pada umumnya. terima kash.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: