Skip to content

HADHARIYAH M

Mei 1, 2010

Tokoh pejuang kemerdekaan di bidang politik. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda menjabat Ketua Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Banjarmasin, dan kemudian Komisaris Pengurus Besar Parindra daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur menggantikan Merah Johansyah, ketua Majelis Luhur Taman Siswa di Banjarmasin yang mengundang Ki Hajar Dewantara dan isteri selaku tokoh utama Majelis Luhur Taman Siswa ke Banjarmasin.
Karena tulisan-tulisan politiknya yang tajam, maka ia dinilai oleh Pemerintah Hindia Belanda di Banjarmasin sebagai seorang “Hollander Hater” (Pembenci Belanda). Ia pernah menjadi korban delik bicara dalam suatu rapat umum Parindra di Barabai dengan tuntutan melanggar pasal 151 bis dari Wetboek van Strafrecht Pemerintah Hindia Belanda dan diganjar hukuman penjara selama 3 bulan dan membayar denda f. 100.

Pengurus dan anggota Parindra Cabang Banjarmasin dan Pemuda Surya Wirawan, saat berpotret bersama di Gedung Parindra jalan Ulin/jalan Pasar Lama No. 100 (sekarang jalan Perintis Kemerdekaan) Banjarmasin, 3 April 1938. Duduk di deretan ke-10 dari kiri ke kanan, Hadhariyah M, Ketua Cabang. Di bekas lokasi tanah dan Gedung Parindra Jalan Pasar Lama No. 100 kini berdiri bangunan Toko Sahabat dan UD Yusuf Jaya.

Tanggal 17 Juni 1941 ia kembali ditangkap dan didakwa melanggar pasal-pasal 156, 157, dan 193 bis/ter Wetboek van Straafrecht (KUHP), karena telah menulis sebuah roman politik yang berjudul SUASANA KALIMANTAN dan diterbitkan di Medan dengan judul “Tersungkur Di Bawah Kaki Ibu”. Pada tanggal 1 Februari 1942 Hadhariyah M menjalani kehidupan 4 tahun penjara, setelah upaya naik bandingnya ditolak oleh Raad van Justitie di Surabaya.
Pernah menjadi guru sekolah rakyat di Pangkalan Bun dan Alabio, Hoofdredacteur mingguan “Bendahara Borneo” Samarindra, Hoofdredacteur “Utusan Kalimantan” Banjarmasin, Kepala Kelaskaran BPRI, Hoofdredacteur “Indonesia Merdeka. Setelah ikut dalam pemberontakan 9 November 1945 di Banjarmasin, maka Hadhariyah M termasuk orang yang paling dicari Belanda. Oleh pemerintah NICA akan diberikan hadiah f.1000 (seribu gulden/rupiah) bagi yang menangkapnya hidup atau mati. Hadhariyah M menyeberang ke Pulau Jawa dan berhasil mendarat di pantai Tuban Jawa Timur pada bulan Juni 1946. Namun sesampai di sana ia kembali ditangkap, diinterogasi sebagaimana lazimnya dilakukan terhadap para pendatang dari seberang. Setelah dibebaskan atas bantuan Gubernur Kalimantan, Ir. Pangeran Mohammad Noor, ia kemudian bergabung ke dalam badan perjuangan yang didirikan oleh pemuda-pemuda asal Kalimantan di Pulau Jawa. Selesai perang kemerdekaan, Hadhariyah M pernah menjabat sebagai Bupati Barito Kuala. (Sumber: Buku “Glosarium Sejarah Lokal Kalimantan Selatan Periode 1900-1950” dan Buku “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942”).

One Comment leave one →
  1. syahranie permalink
    Mei 10, 2010 10:28 pm

    Dulunya jalan ini bernama Jl. Andalas kemudian berganti menjadi Jl.Perintis Kemerdekaan (kalau jl.Pasar Lama adalah jalan yang ada dibantaran sungai martapura di mulai jembatan sungai sipa, dekat Kantor Ouditor Militer (dulu) sampai ujung jembatan ringkapan yang berbatasan dengan jl.Antasan Kecil Barat. Kalau tidak salah disamping rumah tersebut ada bangunan bekas TK. Budi Mulia (sekarang menjadi masjid) yang dibatasi oleh jalan / gang tempat kami dulu pernah menggunakan lai (alat untuk menulis terbuat dari batu granit) karena harga buku tidak terjangkau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: