Skip to content

UPACARA ARUH GANAL ETNIS DAYAK MERATUS

April 2, 2011

Etnis Dayak Meratus adalah nama kolektif sukubangsa yang ada di Kalimantan Selatan yang mendiami perbukitan, lembah-lembah sempit, dan kawasan hutan lindung di pegunungan Meratus daerah Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Tanah Laut dan Kotabaru. Dari Sungai Pitap di utara dan kawasan hulu daerah aliran Sungai Riam Kiwa di sebelah selatan. Dahulu dan dalam sebagian besar publikasi, etnis Dayak Meratus disebut sebagai etnis (Dayak) Bukit.
Secara administratif wilayah tradisional Dayak Meratus, antara lain termasuk ke dalam Kecamatan Halong dan Kecamatan Awayan di Kabupaten Balangan, Kecamatan Batang Alai Timur dan Kecamatan Hantakan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kecamatan Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kecamatan Piani di Kabupaten Tapin, Kecamatan Paramasan di Kabupaten Banjar, Kecamatan Kintap di Kabupaten Tanah Laut, Kecamatan Sampanahan dan Kecamatan Kelumpang Hulu di Kabupaten Kotabaru.
Etnis Dayak Meratus memiliki berbagai upacara adat, antara lain untuk penyambutan tamu, perkawinan, kematian (misalnya upacara Mambatur pada suku Dayak Balangan), memulai kegiatan pertanian (bahuma) dan upacara untuk merayakan hasil panen mereka yakni Aruh Ganal, Baharin, dan Bawanang.
Aruh Ganal merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Meratus di pegunungan Meratus daerah Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, maupun Tapin. Aruh Ganal artinya kenduri besar. Jadi upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga desa dan dihadiri para undangan dari desa-desa lainnya.
Disebut Aruh Ganal, karena dalam tradisi ada pula aruh kecil yang disebut Baatur Dahar. Baatur Dahar biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Sebagai ukuran adalah apabila hasil panen berupa padi, kacang dan tanaman lainnya berhasil dengan baik sesuai yang diharapkan, maka dilaksanakan Aruh Ganal. Sebalik jika panen kurang berhasil, maka cukup dilaksanakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali. Tujuan dilaksanakan Aruh Ganal ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian dalam upacara ini sekaligus pula dimaksudkan untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar pada tahun yang akan datang mendapat hasil panen yang melimpah. Dijauhkan dari segala mara bahaya, penyakit, dan makhluk perusak tanaman.
Aruh Ganal pada dasarnya dilaksanakan setahun sekali. Namun apabila musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilan panennya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Waktu penyelenggaran sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli, dan pelaksanaan upacaranya pada bulan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dan dibantu oleh Kepala Desa. Dalam penentuan hari dan tanggal pelaksanaan upacara ini selalu diperhatikan pada bulan muda menurut bulan Kamariah. Biasanya berkisar antara tanggal 1 sampai tanggal 15. Hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rezeki selalu naik, apabila dilaksanakan pada tanggal tersebut.
Upacara adat yang sejenis dengan Aruh Ganal adalah Baharin dan Bawanang yang merupakan upacara yang dilaksanakan sehabis panen atau upacara panen untuk bersyukur terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Upacara Baharin dilaksanakan oleh oleh masyarakat Dayak Balangan atau Dayak Pitap di Kabupaten Balangan, khususnya di desa Kapul Kecamatan Halong. Sedangkan Upacara Bawanang dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Meratus di desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Upacara Baharin maupun Bawanang memiliki perlengkapan sebagaimana aruh ganal lainnya seperti langgatan dan sesajen. Pada upacara Baharin selalu menyembelih binatang korban berupa kerbau sebagai sebuah persyaratan utama dan jumlahnya minimal satu ekor. Selain kerbau, binatang korban lainnya adalah kambing, ayam, pilanduk (kancil), dan babi.
Upacara Baharin dan Bawanang hampir sama dengan upacara Aruh Ganal, meski pada tahapan upacara dan pada istilah-istilah tertentu memang ada yang berbeda dengan Aruh Ganal, akan tetapi pada prinsifnya tujuan sama yakni sebagai upacara sehabis panen sebagai tanda syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Bahatara).
Upacara Aruh Ganal dilaksanakan selama 5 malam, bertempat di Balai, yakni bangunan adat yang dibangun oleh etnis Dayak Meratus. Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah yaitu sehari sebelum upacara dimulai. Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari.
Perlengkapan upacara yang sangat penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan.
Di samping langgatan masih ada beberapa ancak lagi yang masing-masing mempunyai fungsi dan berisi makanan sesaji yang berbeda makna dan tujuannya.
Nama perlengkapan upacara lainnya adalah Kalangkang dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kalangkang Mantit (nama nenek moyang burung), Kalangkang Nyaru (Dewa Petir) dan Kalangkang Uria (Dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman). Ketiga kalangkang ini masing-masing diletakkan menurut kebiasaa yang berlaku. Kalangkang Mantit diletakkan di sebelah kiri pintu masuk Balai, agak ke kanan sedikit diletakkan Kalangkang Nyaru, dan Kalangkang Uria diletakkan di dalam Balai.
Langgatan dan semua ancak yang dibuat itu pada waktu upacara dimulai diisi segala macam wadai (kue), bahan-bahan makanan dan jenis tumbuhan/tanaman yang dimaksudkan untuk memberi makan ruh-ruh datu, hantu, pangeran-pangeran serta segala jenis makhluk halus yang dipercayai masyarakat.
Untuk menyelenggarakan kegiatan upacara yang bersifat khusus mulai permulaan sampai selesai dilakukan oleh Balian. Dalam upacara Aruh Ganal ini, Balian yang melakukan tugasnya ada beberapa orang. Sebagai pimpinan dari Balian ini adalah Pengulu Adat (Penghulu Adat). Setiap Balian selalu didampingi oleh seorang Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraa Balian atau dapat pula mengajukan permohonan atas kehendak masyakarat. Segala permintaan Balian dilayani oleh Panjulang. Jika apa yang dikehendaki Balian itu keliru memberikannya, maka Balian jatuh dan tak sadarkan diri. Hal itu menunjukkan kemarahan datu, sehingga harus dicarikan permintaan yang dikehendakinya. Kalau kehendaknya sudah dipenuhi, Balian itu pun sadar kembali dan melanjutkan tugasnya melaksanakan upacara.
Pada malam pertama upacara Aruh Ganal ini dimulai dengan acara babalian pembukaan. Maksud upacara ini adalah sebagai pembukaan dan sekaligus pemberitahuan pada para dewa dan ruh-ruh nenek moyang bahwa akan diadakan upacara babalian. Datu-datu dipanggil untuk menghadiri. Pimpinan upacara adalah para Balian. Mereka duduk berjajar di atas tikar bamban, menghadapi sebuah parapen. Asap dupa mengepul, tercium bau kemenyan menusuk hidung. Masing-masing Balian mengusap gelang hiyangnya berganti-ganti di atas kepulan asap kemenyan. Diteruskan dengan mengusap minyak kelapa di atas piring kecil.
Balian membaca sesuatu mantera, tetapi hanya mulutnya yang nampak komatkamit. Tanda dimulainya upacara ini adalah dengan dibunyikannya babun dan sarunai oleh Balian. Sejak saat itu babun dan sarunan dibunyikan terus siang dan malam sampai upacara selesai atau berakhir. Musik pengiring ini dibunyikan oleh mereka yang mahir secara bergantian.
Apabila sampai waktunya, Balian yang tadinya duduk satu persatu berdiri dan melakukan tarian yang disebut Batandik. Batandik selalu dimulai oleh seorang Balian yang sudah tua usianya. Tarian yang diperagakan adalah dengan cara menghentakkan kaki kanan ke lantai balai, tangan digerakkan berputar, mata melihat ke atas dan ke bawah serta sesekali menghadap langgatan. Acara batandik dilakukan sebayak dua kali putaran, selanjutnya berhenti dengan tangan memegang langgatan. Sejenak Balian bamamang (mengucapkan mantera) di depan langgatan tersebut.
Setelah acara pokok yang berlangsung sekitar satu jam itu selesai, diteruskan dengan tarian Babangsai. Tarian ini dahulunya hanya diikuti oleh kaum pria, sekarang sudah bebas laki-laki maupun perempuan. Babangsai merupakan tarian gembira diiringi bunyi babun dan sarunai yang dinamis. Para penari yang ikut dalam tarian babangsai berputar mengelilingi langgatan. (Foto dan tulisan diolah dari berbagai sumber).

3 Komentar leave one →
  1. April 7, 2011 4:57 am

    setiap tempat memiliki adat sendiri-sendiri, kalau di jawa mungkin aruh ganal sama dengan sedekah bumi kali ya.. intinya mengcap syukur pada Tuhan atas berkah yang melimpah..

    Ya, di berbagai sukubangsa dan daerah di Nusantara memang mempunyai tradisi masing-masing dalam mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pencipta…

  2. April 20, 2011 5:36 am

    Kehidupan yang 100% asli, udara yang sihat dan suasana yang nyaman walaupun terdapat berbeza kepercaaan, adat dan tradisi tetapi tempat kediamannya tetap asli…tenang dan nyaman keadaannya.

  3. Anggi permalink
    September 10, 2012 6:13 am

    Selalu terpukau dengan kebudayaan mereka terutama tariannya yang penuh makna…. Serta selalu senang mendengarkan kisah tentang burung enggang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: